SUMBAWA BESAR, samawarea.com (20 Juni 2026) – Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Sumbawa bersama Konsepsi menggelar Pelatihan Integrasi Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim (PRB-API) bagi pengurus dan anggota FPRB Kabupaten Sumbawa. Kegiatan yang digelar di Hotel Kaloka, Sabtu (20/6/26) ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas para pemangku kepentingan dalam menghadapi ancaman bencana yang semakin dipengaruhi oleh perubahan iklim.
Project Manager Konsepsi, Hairul Anwar, mengatakan pelatihan tersebut merupakan tindak lanjut dari rangkaian kegiatan yang sebelumnya telah dilaksanakan. Menurutnya, pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim merupakan dua agenda yang saling berkaitan dan harus diintegrasikan dalam proses pembangunan daerah.
“Kami ingin dua agenda ini menjadi kebutuhan bersama dan terintegrasi dalam pembangunan Kabupaten Sumbawa. Pelatihan ini menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim sesungguhnya tidak bisa dipisahkan, terutama di tingkat desa,” ujarnya.
Ia berharap seluruh peserta memanfaatkan forum tersebut untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman sehingga mampu merumuskan langkah konkret yang dapat ditindaklanjuti bersama. Konsepsi juga menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi penguatan kelembagaan dan kolaborasi lintas sektor dalam membangun ketangguhan daerah.
Sementara itu, Ketua FPRB Kabupaten Sumbawa yang diwakili Wakil Ketua I, Zainuddin, menegaskan bahwa perubahan iklim kini bukan lagi sekadar isu global, tetapi telah menjadi kenyataan yang dirasakan masyarakat sehari-hari melalui perubahan pola musim, meningkatnya suhu udara, kekeringan berkepanjangan, banjir hingga cuaca ekstrem.
Menurutnya, adaptasi terhadap perubahan iklim menjadi langkah penting untuk mengurangi kerentanan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan daerah terhadap berbagai ancaman bencana.
“Pelatihan ini tidak boleh berhenti pada peningkatan pengetahuan semata, tetapi harus melahirkan aksi nyata mulai dari penyusunan rencana adaptasi di tingkat desa dan kelurahan, penguatan edukasi masyarakat hingga kolaborasi dengan berbagai pihak dalam membangun budaya sadar risiko,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim harus berjalan beriringan melalui upaya menjaga lingkungan, melestarikan sumber daya air, melindungi kawasan hutan, serta menerapkan tata kelola pembangunan yang berkelanjutan.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sumbawa, M. Nur Hidayat, ST, memaparkan bahwa dampak perubahan iklim telah dianalisis dan dirasakan secara nyata di wilayah Sumbawa. Saat ini terdapat 12 kecamatan yang mengalami kekeringan, dengan kondisi paling parah terjadi di Kecamatan Lape.
“Di wilayah tersebut kondisi tanah sangat kering sehingga setiap hari kami harus melakukan dropping air bersih ke enam desa. Kami juga mendapat dukungan dari BNPB berupa pembangunan 20 titik sumur bor,” jelasnya.
Selain itu, BPBD bersama BMKG dan Dinas Pertanian juga melakukan berbagai langkah mitigasi, termasuk modifikasi cuaca dengan mendatangkan pesawat pembawa bahan semai hujan di wilayah pertanian serta mengatur pola tanam petani agar lebih adaptif terhadap kondisi iklim.
Nur Hidayat berharap pelatihan ini mampu melahirkan berbagai masukan dan rekomendasi yang dapat dijadikan acuan dalam merumuskan kebijakan maupun aksi nyata di lapangan guna meningkatkan ketahanan masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim.
Kegiatan tersebut dihadiri Direktur Konsepsi, Dr. Moh. Tajuddin, Ketua FPRB NTB Sulistiyo yang sekaligus menjadi narasumber, serta sejumlah peserta dari unsur pengurus dan anggota FPRB Kabupaten Sumbawa. (SR)






