Festival Malala 2026 Hasilkan Minyak Linggis Kali Pitu hingga Linir Subuh  Bupati Dorong Regenerasi Sandro

oleh -133 Dilihat

SUMBAWA BESAR  samawarea.com (18 Juni 2026) – Desa Poto, Kecamatan Moyo Hilir, menjadi pusat pelaksanaan Festival Malala 2026, agenda budaya tahunan masyarakat Sumbawa dalam menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram. Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., Selasa malam (16/6/2026).

Pembukaan festival dihadiri Wakil Bupati Sumbawa Drs. H. Mohamad Ansori, Sekretaris Daerah, pimpinan DPRD, para kepala organisasi perangkat daerah (OPD), serta perwakilan dari 23 kecamatan se-Kabupaten Sumbawa yang turut ambil bagian dalam perhelatan budaya tersebut.

Festival Malala merupakan tradisi khas masyarakat Sumbawa berupa proses pembuatan minyak tradisional yang diracik dari berbagai bahan alami, seperti akar pohon, rempah-rempah, daun-daunan, kulit kayu, dan aneka bahan alam lainnya. Proses pengolahannya dipimpin oleh seorang tabib atau sandro yang memiliki pengetahuan turun-temurun.

Tradisi ini tidak hanya dikenal sebagai bagian dari pengobatan tradisional, tetapi juga mengandung nilai spiritual, keharmonisan hubungan manusia dengan alam, serta semangat gotong royong yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam sambutannya, Bupati H. Jarot menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Kecamatan Moyo Hilir sebagai tuan rumah, sekaligus kepada seluruh kecamatan yang telah berpartisipasi dan berkomitmen menjaga keberlangsungan budaya Malala.

Menurutnya, Festival Malala bukan sekadar kegiatan memproduksi minyak tradisional, melainkan juga menjadi momentum untuk memaknai datangnya Tahun Baru Islam sebagai refleksi atas hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah.

“Festival Malala adalah kebanggaan masyarakat Sumbawa yang harus terus kita lestarikan. Namun di saat yang sama, kita juga tidak boleh melupakan makna utama dari datangnya 1 Muharram sebagai momentum hijrah menuju kehidupan yang lebih baik,” ujar Bupati.

Ia juga berharap para sandro dan pelaku tradisi Malala dapat terus mewariskan pengetahuan serta keahlian yang dimiliki kepada generasi muda, sehingga warisan budaya tersebut tetap lestari dan mampu berkembang di tengah derasnya arus modernisasi.

Setiap penyelenggaraan Festival Malala, minyak tradisional yang dihasilkan selalu diberi nama-nama unik yang sarat makna filosofis, seperti Linggis Kali Pitu, Toar Basa, Salopas Urat, hingga Linir Subuh. Nama-nama tersebut mencerminkan kekayaan nilai budaya dan kearifan lokal yang menjadi identitas masyarakat Sumbawa.

Melalui festival ini, diharapkan tradisi Malala tidak hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga terus hidup sebagai warisan budaya yang memperkuat jati diri masyarakat Sumbawa sekaligus mempererat semangat kebersamaan dalam menyambut Tahun Baru Islam. (SR)

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *