Sumbawa Barat, Samawarea.com ( 10/9/2024)
PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) terus berkomitmen untuk mewujudkan visinya dalam menciptakan warisan terbaik melalui berbagai inisiatif berkelanjutan yang direalisasikan salah satunya melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Salah satu pilar penting dari PPM ini adalah Pembangunan Ekonomi. Dalam konteks ini, Program Pengembangan Tenun Mantar merupakan salah satu upaya AMMAN untuk mendukung pelestarian budaya lokal serta pemberdayaan masyarakat, khususnya generasi muda perempuan di Desa Mantar.
Program ini merupakan hasil kolaborasi antara AMMAN dan Digital Tenun Nusantara (DiTenun), yang bertujuan menjadikan Desa Mantar sebagai pusat tenun utama di Sumbawa Barat dan bahkan di NTB. Aji Suryanto, Senior Manager Social Impact AMMAN, menekankan pentingnya program ini dalam kunjungannya ke Kelompok Tenun Mantar Berseri di Desa Mantar pada Kamis, 5 September 2024. “AMMAN berupaya mendorong agar Mantar menjadi pusat Tenun di Sumbawa Barat bahkan NTB,” tegas Aji Suryanto.
Tradisi menenun di Mantar, yang dulu dilakukan secara turun-temurun untuk kebutuhan sehari-hari dan acara adat, telah lama menjadi salah satu identitas budaya dan sumber penghasilan di daerah tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi ini mulai memudar dan hanya tersisa beberapa penenun sepuh yang menguasai keterampilan ini. Aji Suryanto menyoroti pentingnya pelestarian budaya menenun sebagai bagian dari identitas dan sejarah suatu daerah yang berpotensi mendukung perkembangan pariwisata dan perekonomian lokal.
Sejak diluncurkan pada tahun 2023, Program Pengembangan Tenun Desa Mantar direncanakan akan berlangsung selama tiga tahun untuk mencapai keberlanjutan yang diharapkan. Program ini mencakup berbagai intervensi, antara lain riset antropologi untuk memahami sejarah tenun Mantar, pembentukan kelompok perajin, peningkatan kapasitas teknis menenun, pengembangan produk turunan, serta pendampingan manajemen usaha dan kewirausahaan.
Setelah berjalan selama 1,5 tahun, program ini telah menunjukkan hasil yang signifikan. Terbentuknya kelompok pemudi perajin tenun dengan nama “Tenun Mantar Berseri” yang kini memiliki 16 anggota, peningkatan kapasitas teknis menenun, serta diversifikasi produk menjadi beberapa pencapaian utama. Program ini juga telah berhasil melakukan digitalisasi motif tenun Mantar, pengembangan produk fashion dan aksesori, serta pelatihan kewirausahaan dan manajemen usaha.
Salah satu pencapaian utama adalah komersialisasi produk tenun yang sudah merambah pasar nasional dengan omzet lebih dari 120 juta rupiah dalam kurun waktu satu tahun. Ini termasuk penerbitan katalog produk Tenun Mantar Berseri yang mendukung pemasaran produk secara efektif.
Aji Suryanto menjelaskan, “Bersama DiTenun sebagai mitra pelaksana, AMMAN telah menyusun peta jalan untuk pemberdayaan kelompok Mantar Berseri agar dapat berkelanjutan, antara lain penguatan kelembagaan dan legalitas kelompok, peningkatan keahlian menenun, diversifikasi produk, dan perluasan akses pasar.”
Sri Devi, Ketua Tenun Mantar Berseri, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada semua pihak yang terlibat, khususnya AMMAN. “Berkat dukungan dari AMMAN, kami bisa belajar menenun dari awal hingga mampu menghasilkan produk yang berpenghasilan ratusan juta rupiah setiap tahunnya,” ujar Sri Devi.
Sementara itu, Habibah (60), seorang sesepuh perajin tenun Desa Mantar, berharap agar tradisi menenun dapat terus dilestarikan. “Program AMMAN ini sangat baik, anak-anak saya sudah mulai belajar menenun. Semoga ke depan mereka bisa menjadi penenun yang sukses dan hasil karya kami bisa diminati pasar baik tradisional, nasional, bahkan internasional,” harap Habibah.
Melalui program ini, AMMAN tidak hanya berkontribusi pada pelestarian budaya, tetapi juga mendorong pembangunan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat lokal. Ini adalah langkah penting dalam mewujudkan warisan terbaik yang berkelanjutan dan bermanfaat bagi generasi mendatang.






