SUMBAWA BESAR, SR (21/08/2018)
Direktur Science Techno Park (STP) Sumbawa, Dr. Arif Budi Witarto M.Eng mengatakan bahwa Sentra Industri Kecil dan Industri Menengah (SIKIM) di Kabupaten Sumbawa yang tengah dibangun di lahan Olat Maras dan berada satu lingkungan dengan STP dan kampus UTS, akan menjadi rujukan dunia. Keyakinan doktor lulusan Tokyo University of Agriculture and Technology, Jepang ini, karena kualitas bahan baku dan dukungan teknologi terkini. Sumbawa merupakan pusat biodiversitas dunia terutama lautnya yang menjadi bagian dari coral triangle (segitiga terumbu karang dunia, dan flora faunanya bagian dari wallacea hotspot. Selain itu memiliki rumput laut kualitas terbaik di dunia, demikian dengan ternaknya yang sudah menembus pasar dunia. Untuk diketahui, SIKIM Sumbawa akan menghasilkan dua produksi yakni pengolahan rumput laut dan pengolahan daging. “Kualitas bahan bakunya terbaik, tinggal sentuhan teknologi terkini. Jika ini sudah dilakukan saya yakin SIKIM Sumbawa menjadi rujukan dunia. Ini juga merupakan visi SIKIM,” kata Doktor Arif—sapaan akrab Peneliti Muda Terbaik Indonesia Tahun 2002 bidang Ilmu Pengetahuan Teknik dan Rekayasa ini pada Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Sentra IKM di Ruang Rapat Lantai I Kantor Bupati Sumbawa, Senin (20/8). Hadir pada FGD yang dipandu Dr. Dedi Heriwibowo ini di antaranya Bupati Sumbawa diwakili Sekda Drs. H. Rasyidi Mukhtar, Gubernur NTB terpilih Dr. H. Zulkieflimansyah SE., M.Sc, Direktur Pengembangan Wilayah Industri III Kementerian Perindustrian Ir. Sri Yunianti M.Si, Kadis Perindag Sumbawa Drs. H. Arif M.Si, TP4D Sumbawa diwakili Anak Agung Raka SH, Lenny Martha Barimbing SH dan Rahajeng Dinar Hanggarjani SH, Kepala Inspektorat Drs. H. Hasan Basri, Kadis Peternakan Ir. Talifuddin M.Si, Kadis Nakertrans Ir. Syafruddin M.Si dan sejumlah kepala OPD dan PPK.
Dalam mendukung visi tersebut, Doktor Arif mengatakan, harus ada perpaduan tiga unsur yang dia namakan ABG SIKIM, yaitu Akademik (UTS dan lainnya), Business (perusahaan pemula berbasis teknologi/ perusahaan start up atau investor/perusahaan mitra), dan Government (Pemda Kabupaten Sumbawa). Dengan kerjasama tiga pihak ini memungkinkan adanya dukungan teknologi terkini. Misalnya bioteknologi, teknologi pangan, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), elektronik, permesinan dan lainnya.
Diakui Doktor Arif, selama ini yang menjadi ganjalan produk pangan Sumbawa tidak bisa berkembang adalah pasar Sumbawa kecil sehingga harus tembus keluar untuk skalabilitasnya. Selain itu tidak ada label (kadaluarsa, kandungan gizi, halal dan lainnya) pada produknya. Memang di NTB ada Rumah Kemasan milik Diskoperindag Propinsi NTB, namun sayangnya belum memiliki laboratorium uji pangan. “Jadi produk SIKIM Sumbawa tanpa pelabelan, dan hasil lab uji, akan sulit berkembang. Sekarang anggaran dana pengembangan SIKIM yang bisa dimanfaatkan untuk mengatasi persoalan itu,” demikian Doktor Arif. (JEN/SR)








