SUMBAWA BESAR, samawarea.com (17 September 2026) — Ada pemandangan menarik dalam aksi penolakan penutupan tambang emas di Kecamatan Lantung, Kabupaten Sumbawa, Kamis (17/9/2026). Di tengah suara tuntutan agar aktivitas tambang tetap dibuka, massa aksi justru banyak didominasi kaum perempuan atau emak-emak.
Mereka tidak datang sekadar membawa poster dan menyampaikan tuntutan. Bagi para ibu rumah tangga tersebut, persoalan tambang berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari, terutama keberlangsungan ekonomi keluarga.
Mereka adalah orang-orang yang setiap hari berhadapan dengan kebutuhan dapur, mulai dari beras, lauk-pauk, biaya sekolah anak, kebutuhan rumah tangga hingga berbagai keperluan keluarga lainnya. Karena itu, ketika sumber penghasilan keluarga terancam hilang, mereka memilih ikut menyuarakan sikap.
“Tambang Emas Lantung adalah sumber kehidupan kami,” tegas Maemunah, orator aksi yang tergantung dalam Aliansi Rakyat Tolak Penutupan Tambang Emas Lantung di depan Kantor Camat Lantung.
Mereka menolak penutupan aktivitas tambang dan meminta pemerintah tidak mengambil langkah yang berdampak pada hilangnya mata pencaharian masyarakat.
Bagi emak-emak yang turun dalam aksi tersebut, tambang bukan hanya berbicara tentang aktivitas menggali emas. Lebih jauh, tambang berkaitan dengan isi dapur dan keberlangsungan kehidupan keluarga.
Dari penghasilan suami atau anggota keluarga yang bekerja di tambang, kebutuhan rumah tangga selama ini dipenuhi. Anak-anak dapat bersekolah, kebutuhan sehari-hari tercukupi, dan roda ekonomi keluarga tetap berjalan.
Karena itu, mereka meminta pemerintah hadir memberikan solusi, bukan semata-mata melakukan penutupan.
Salah satu tuntutan utama adalah agar pemerintah memberikan pendampingan dan pembinaan serta mempermudah proses Izin Pertambangan Rakyat (IPR) sehingga masyarakat dapat menjalankan aktivitas pertambangan secara legal, aman dan sesuai ketentuan.
“Negara hadir untuk membina, bukan mematikan. Jangan tutup tambang sebelum ada solusi bagi sumber penghidupan masyarakat,” cetusnya.
Suara kaum ibu itu kini menjadi bagian dari aspirasi masyarakat Lantung yang meminta pemerintah membuka ruang dialog dan mencari jalan keluar agar aktivitas pertambangan tetap dapat memberikan penghidupan bagi masyarakat, dengan tetap memperhatikan aspek legalitas, keselamatan dan ketentuan yang berlaku. (SR)






