Nimung Rame Bukan Sekadar Festival, Bupati Sumbawa Kaitkan dengan Padi, Air dan Kelestarian Hutan

oleh -60 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (19 Agustus 2026) — Festival Nimung Rame di Kecamatan Lopok tidak sekadar menjadi bagian dari kemeriahan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Tradisi kuliner khas masyarakat Sumbawa itu juga menjadi momentum untuk memastikan warisan budaya tetap hidup dan dikenal generasi muda.

Pesan tersebut disampaikan Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., saat menghadiri Festival Nimung Rame di Kantor Camat Lopok, Rabu (19/8/2026).

Festival berlangsung semarak dengan melibatkan jajaran Pemerintah Kecamatan Lopok, Forkopimcam, para kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta masyarakat dan generasi muda.

Bupati mengapresiasi Camat Lopok bersama jajaran Forkopimcam dan seluruh kepala desa yang telah berkontribusi menyukseskan kegiatan tersebut.

“Apresiasi kepada Bu Camat terutama dengan seluruh jajaran Forkopimcam dan seluruh kepala desa. Acara ini tidak mungkin bisa terselenggara dengan semarak tanpa kontribusi yang kuat dari semua pihak,” ujar Bupati.

Menurutnya, Festival Nimung Rame memiliki keunikan karena mengangkat tradisi masyarakat Sumbawa yang erat kaitannya dengan kehidupan pertanian. Nimung merupakan makanan tradisional yang diolah menggunakan bambu dan menjadi salah satu warisan budaya yang harus dijaga keberlangsungannya.

Bupati menegaskan, pelestarian tradisi tidak cukup hanya dengan menggelar festival. Keterampilan membuat nimung harus ditransfer kepada generasi muda agar tidak berhenti pada generasi tua.

“Melalui festival ini kita berharap orang-orang tua jangan terlalu dominan dalam membungkus, mencampur dan menyiram. Anak-anak muda harus diajarkan, sehingga ketika mereka nanti tua dan ibu, kakek, atau nenek mereka sudah tidak ada, masih ada yang pintar membuat nimung,” katanya.

Bupati juga mengingatkan bahwa keberadaan nimung memiliki kaitan erat dengan pertanian dan lingkungan. Nimung, kata dia, tidak terlepas dari padi, sementara produksi padi membutuhkan lahan pertanian dan ketersediaan air. Pada akhirnya, keberadaan air juga sangat bergantung pada kelestarian hutan.

“Tidak mungkin ada nimung tanpa padi, tidak mungkin ada padi tanpa lahan pertanian. Tidak mungkin lahan pertanian bisa berproduksi tanpa air, dan tidak mungkin ada air kalau tanpa hutan,” jelasnya.

Karena itu, ia mengajak masyarakat menjaga hutan, mata air, lahan pertanian dan lingkungan secara berkelanjutan. Menurutnya, menjaga mata air berarti menjaga produktivitas sawah dan keberlangsungan pangan masyarakat.

“Kalau mata air tetap ada maka sawah kita akan subur. Kalau sudah subur maka kita akan panen dengan baik. Kalau panen kita meningkat, salah satu wujud syukur kita adalah dengan Nimung Rame,” tuturnya.

Tak kalah penting, Bupati mendorong generasi muda memanfaatkan teknologi digital untuk memperkenalkan budaya dan tradisi Sumbawa kepada masyarakat luas.

Ia berharap berbagai platform digital tidak hanya digunakan untuk mengangkat konten lucu atau kontroversial, tetapi juga menjadi sarana promosi kekayaan budaya daerah.

“Generasi muda agar lebih kreatif memperkenalkan budaya-budaya dan tradisi-tradisi kita ke dalam dunia digitalisasi. Jangan hanya hal-hal yang lucu atau kontroversial saja yang diekspos, tetapi keunikan daerah kita juga harus diperkenalkan,” pesannya.

Dalam rangkaian festival, penyalaan api juga dimaknai sebagai simbol semangat perjuangan dan keberanian dalam memperingati Kemerdekaan Republik Indonesia. Semangat tersebut diharapkan terus menyala dalam kehidupan masyarakat.

Bupati berharap Nimung Rame tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Tradisi tersebut harus dipastikan tetap hidup hingga puluhan tahun mendatang dengan melibatkan generasi muda sejak sekarang.

“Kalau ini sudah menjadi budaya, pastikan bahwa 20 atau 30 tahun ke depan Nimung Rame ini masih ada dan masih banyak orang yang pintar membuatnya. Anak-anak muda harus dilibatkan sejak dini mulai dari sekarang sehingga tidak punah,” tegasnya.

Mengakhiri sambutannya, Bupati mengajak seluruh masyarakat menjadikan kekayaan budaya sebagai salah satu kekuatan pembangunan daerah.

“Mari kita jadikan kekayaan budaya sebagai kekuatan untuk membangun Sumbawa yang unggul, maju dan sejahtera,” ujarnya.

Bupati Sumbawa kemudian secara resmi membuka Festival Nimung Rame Kecamatan Lopok dengan memohon rahmat dan ridho Allah SWT.

Festival tersebut diharapkan menjadi ruang edukasi sekaligus regenerasi budaya, memperkuat rasa syukur atas hasil pertanian, serta menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan dan sumber daya alam di Kabupaten Sumbawa. (SR)

nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *