SUMBAWA BESAR, samawarea.com (21 Agustus 2026) — Upaya menjaga tenun Kre Alang sebagai bagian dari identitas budaya Sumbawa terus dilakukan. Salah satunya melalui evaluasi hasil pelatihan produk dan desain motif tenun Kre Alang yang digelar pada 19 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk melihat sejauh mana hasil pelatihan dapat dikembangkan sekaligus mengidentifikasi berbagai kendala yang masih dihadapi para perajin.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Sumbawa, Hj. Ida Fitria Jarot, SE, hadir sebagai evaluator. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa pengembangan tenun harus berjalan seimbang antara menjaga tradisi dan menghadirkan inovasi.
Menurut Hj. Ida, motif dan produk tenun yang sudah ada tidak boleh ditinggalkan karena merupakan identitas sekaligus kekayaan budaya masyarakat Sumbawa. Namun, pelestarian tersebut harus dibarengi dengan kreativitas agar tenun mampu menjawab kebutuhan pasar yang terus berkembang.
“Yang sudah ada harus tetap kita pertahankan sebagai identitas dan kekayaan budaya. Namun, kita juga harus terus mengembangkan apa yang sudah ada, termasuk menciptakan motif-motif baru dan mengembangkan produk tenun agar semakin bernilai,” ujarnya.
Ia menyebutkan, pengembangan tenun tidak cukup hanya mempertahankan motif tradisional. Diversifikasi produk, pengembangan desain, peningkatan kualitas produksi hingga perluasan pemasaran juga menjadi bagian penting agar tenun Sumbawa memiliki nilai tambah dan daya saing.
Hj. Ida juga mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu dibenahi bersama, mulai dari kemampuan pengembangan desain, kapasitas produksi, pemasaran hingga peningkatan keterampilan para perajin.
Karena itu, menurutnya, dibutuhkan sinergi antara pemerintah daerah, Dekranasda, perguruan tinggi, pelaku usaha, perajin dan berbagai pihak terkait agar hasil pelatihan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi benar-benar dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Dalam kegiatan evaluasi tersebut, turut hadir sejumlah narasumber. Salah satunya H. Hasanuddin, yang akrab disapa H. Ace, yang memberikan pemaparan mengenai pengembangan motif tenun dari perspektif kebudayaan dan filosofi.
Ia menjelaskan bahwa motif tenun bukan semata-mata persoalan keindahan visual. Di dalamnya dapat terkandung makna, simbol dan nilai-nilai yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat Sumbawa.
Pemahaman terhadap nilai budaya dan filosofi tersebut dinilai penting dalam menciptakan motif-motif baru. Dengan demikian, inovasi yang dilakukan tetap memiliki akar budaya dan tidak menghilangkan karakter khas tenun Sumbawa.
Kegiatan ini juga menghadirkan Koko Hermanto dari Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) selaku Ketua Tim Pelaksana Dana Indonesiana. Keterlibatan perguruan tinggi diharapkan dapat memperkuat pengembangan desain, inovasi produk dan kapasitas perajin melalui pendekatan kreatif yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Sementara itu, perwakilan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (KUKMindag) Kabupaten Sumbawa, Sri Handayani, SE, turut memberikan pandangan terkait pembinaan usaha, produksi dan peluang pemasaran produk tenun.
Evaluasi tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi penilaian terhadap capaian peserta pelatihan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang untuk memetakan kebutuhan serta berbagai persoalan yang masih menjadi kendala dalam pengembangan tenun Kre Alang.
Dengan kolaborasi lintas sektor, tenun Kre Alang diharapkan mampu terus berkembang tanpa kehilangan akar budaya dan filosofi lokal. Inovasi motif maupun diversifikasi produk diharapkan dapat membuka peluang pasar yang lebih luas sekaligus meningkatkan nilai ekonomi bagi para perajin.
Langkah ini sekaligus memperkuat komitmen Dekranasda Kabupaten Sumbawa dalam menjaga keberlangsungan tenun sebagai warisan budaya, meningkatkan kreativitas perajin, serta mendorong tenun Sumbawa naik kelas sebagai produk ekonomi kreatif yang bernilai tambah dan berdaya saing. (SR)






