Menjaga Air Tanah Dimulai dari Laut, Cara AMMAN Merawat Masa Depan dari Teluk Benete

oleh -324 Dilihat

SUMBAWA BARAT, samawarea.com (5 Agustus 2026) – Setiap detik, jutaan liter air laut berdenyut di Teluk Benete dan Teluk Senunu. Ombak datang silih berganti, memecah bibir pantai, lalu kembali ke samudra. Bagi sebagian orang, laut hanyalah bentang biru yang membingkai pesisir Sumbawa Barat.

Namun bagi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), hamparan air asin itu menyimpan jawaban atas satu pertanyaan penting: bagaimana memenuhi kebutuhan air industri tanpa mengurangi hak masyarakat atas air tawar?

Jawabannya bukan berasal dari perut bumi, melainkan dari permukaan laut.

Di tengah berkembangnya industri pertambangan dan pembangunan fasilitas peleburan tembaga (smelter), kebutuhan air meningkat tajam. Smelter, pembangkit listrik, hingga terminal regasifikasi LNG memerlukan pasokan air dalam jumlah besar setiap hari. Di banyak tempat, kebutuhan tersebut dipenuhi melalui pemanfaatan air tanah. Namun AMMAN memilih pendekatan berbeda.

Perusahaan membangun fasilitas desalinasi yang mengubah air laut menjadi air bersih, kemudian memurnikannya kembali melalui proses demineralisasi, yakni penghilangan hampir seluruh kandungan garam mineral terlarut (ion), sehingga menghasilkan air yang memenuhi standar kebutuhan operasional industri.

Pilihan tersebut bukan sekadar keputusan teknis, melainkan bagian dari strategi keberlanjutan perusahaan. Dengan memanfaatkan air laut sebagai sumber utama, AMMAN berupaya mengurangi ketergantungan terhadap air tanah dan air permukaan, sehingga cadangan air tawar tetap tersedia bagi masyarakat, pertanian, dan ekosistem.

Langkah itu memiliki arti penting bagi Sumbawa Barat. Di daerah ini, air tanah masih menjadi tumpuan kehidupan masyarakat. Sumur bor, sumur gali, dan mata air memenuhi kebutuhan rumah tangga, sementara sektor pertanian yang menjadi penopang ekonomi daerah juga sangat bergantung pada keberlanjutan cadangan air bawah tanah.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diperoleh media ini melalui Pelayanan Statistik Terpadu (PST) BPS Sumbawa Barat menunjukkan akses rumah tangga terhadap air minum layak terus meningkat, dari 94,37 persen pada 2024 menjadi 95,32 persen pada 2025. Kondisi tersebut menjadi indikator penting bahwa ketersediaan air bersih harus terus dijaga di tengah meningkatnya kebutuhan dari berbagai sektor.

Kesadaran itulah yang mendorong AMMAN mencari sumber air alternatif. Sejak pertengahan 2024, Pabrik Desalinasi Smelter mampu memproduksi sekitar 6.000 meter kubik air desalinasi per hari dan 1.500 meter kubik air demineralisasi. Air tersebut menjadi sumber utama bagi operasional smelter, pembangkit listrik siklus gabungan berkapasitas 450 megawatt, hingga berbagai fasilitas pendukung lainnya.

Perusahaan juga tengah mengembangkan fasilitas desalinasi di Sejorong dengan kapasitas sekitar 4.200 meter kubik per hari guna memperkuat ketahanan pasokan air di masa mendatang.

Vice President Corporate Communications AMMAN, Kartika Octaviana, mengatakan pemanfaatan air laut merupakan strategi jangka panjang perusahaan dalam mengurangi ketergantungan terhadap air tanah maupun air permukaan.

“Desalinasi menjadi solusi yang mampu menyediakan pasokan air yang andal sekaligus mendukung keberlanjutan operasional perusahaan,” ujarnya.

Strategi tersebut mulai menunjukkan hasil nyata. Pada 2025, proporsi penggunaan air tanah untuk kebutuhan operasional berhasil ditekan hingga 12,6 persen dibandingkan kondisi sebelum fasilitas desalinasi beroperasi pada 2023. Penurunan itu terjadi karena sebagian besar kebutuhan air kini dipenuhi melalui pengolahan air laut.

Di balik capaian tersebut, teknologi bekerja tanpa henti. Air laut terlebih dahulu melalui proses klarifikasi dan filtrasi sebelum masuk ke sistem Sea Water Reverse Osmosis (SWRO). Pada tahap ini, garam, partikel tersuspensi, dan berbagai pengotor dipisahkan hingga menghasilkan air bersih yang memenuhi standar operasional industri.

Memaksimalkan Setiap Tetes Air

Komitmen AMMAN tidak berhenti pada desalinasi. Perusahaan juga menerapkan konsep water reuse, yakni memanfaatkan kembali air yang masih layak digunakan agar tidak terbuang sia-sia. Air dari instalasi pengolahan limbah domestik (STP), instalasi pengolahan air limbah (WWTP), hingga air kondensasi dari sistem pendingin ruangan diproses kembali untuk kebutuhan operasional nonproses, seperti penyiraman jalan dan taman, pengendalian debu, pencucian kendaraan, hingga mendukung operasional pabrik konsentrat.

Seluruh air tersebut melalui tahapan penyaringan, pengolahan biologis, filtrasi lanjutan, disinfeksi, serta pengujian laboratorium secara berkala guna memastikan kualitasnya memenuhi standar yang dipersyaratkan.

Hasilnya terus meningkat. Pada 2023, volume air yang dimanfaatkan kembali mencapai sekitar 791 ribu meter kubik. Angka itu naik menjadi 1,096 juta meter kubik pada 2024 dan melonjak menjadi 2,106 juta meter kubik pada 2025. Dengan kata lain, lebih dari 2,1 juta meter kubik kebutuhan air tawar berhasil digantikan melalui program pemanfaatan kembali air.

Besarnya pemanfaatan air laut juga diimbangi dengan pengawasan lingkungan yang ketat. Sepanjang 2024, AMMAN memanfaatkan sekitar 263,7 juta meter kubik air laut dari total penggunaan air perusahaan sebesar 335,836 juta meter kubik. Untuk memastikan aktivitas tersebut tidak memberikan dampak signifikan terhadap lingkungan pesisir, perusahaan secara rutin memantau kualitas air laut, suhu perairan, sebaran thermal plume, kondisi sedimen, plankton, terumbu karang, hingga berbagai biota laut di Teluk Benete dan Teluk Senunu.

Selain itu, audit pengelolaan air dilakukan setiap tiga tahun oleh auditor independen. Audit terakhir dilaksanakan pada 2024 sebagai bagian dari komitmen perusahaan terhadap tata kelola lingkungan yang baik.

Bagi AMMAN, pengelolaan air merupakan bagian dari penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Indikator seperti efisiensi penggunaan air, tingkat daur ulang, hingga kontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Air Bersih dan Sanitasi Layak serta Ekosistem Laut, menjadi bagian dari evaluasi keberlanjutan perusahaan.

Manfaat Dirasakan Masyarakat

Pemanfaatan air laut sebagai sumber air alternatif juga mulai dirasakan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Kepala Desa Tongo Kecamatan Sekongkang, Idham Halid, menilai teknologi desalinasi membantu mengurangi tekanan terhadap cadangan air tanah sehingga ketersediaan air bagi masyarakat maupun sektor pertanian tetap terjaga.

“Ketahanan air tanah menjadi lebih baik karena kebutuhan air industri tidak lagi bergantung sepenuhnya pada sumber air tawar. Dampaknya juga dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.

Menurut Idham, petani di Desa Tongo hingga kini masih mampu melakukan panen padi dua kali dalam setahun karena pasokan air relatif terjaga. Selain itu, masyarakat juga memperoleh dukungan distribusi air bersih dari AMMAN untuk memenuhi kebutuhan warga di sejumlah wilayah. Air bersih ini diterima secara gratis dan telah berlangsung cukup lama.

Ia menilai kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha menjadi kunci menjaga keberlanjutan sumber daya air sekaligus memastikan kebutuhan masyarakat dan pertanian tetap terpenuhi.

Menjaga Keseimbangan 

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Sumbawa Barat, Ir. Armayadi, ST., M.M.Inov, mengatakan, kondisi ketersediaan air baku di daerah secara umum masih memadai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, pertanian, maupun industri.

Saat ini terdapat sembilan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang tersebar di berbagai kecamatan dengan memanfaatkan kombinasi sumber air permukaan dan air tanah, didukung Bendungan Bintang Bano dan Bendungan Tiu Suntuk.

Meliputi, IKK Brang Rea I dengan kapasitas terpasang 50 liter/detik dan IKK Brang Rea II kapasitas terpasang 50 liter/detik. Saat ini dalam kondisi baik dilayani melalui sistem dari Perumdam Bintang Bano dengan memanfaatkan air permukaan Bendungan Bintang Bano.

SPAM IKK Seteluk dengan kapasitas terpasang 30 liter/detik dengan ketersediaan air cukup baik dengan memanfaatkan air permukaan.

SPAM IKK Poto Tano memiliki 5 sumber air baku yaitu sumur bor dengan total kapasitas terpasang adalah 22 liter/detik dan air yang cukup baik, sambungan rumah dilayani oleh Perumdam Bintang Bano.

SPAM IKK Jereweh dengan kapasitas terpasang 20 liter/detik dalam kondisi baik dengan memanfaatkan sumber air baku adalah sumur bor. SPAM Jereweh memiliki kapasitas terpasang 3,5 liter/detik dengan memanfaatkan sumber air baku sumur bor dengan kondisi cukup baik.

Kemudian, SPAM IKK Sekongkang memiliki 2 sumber air baku yaitu air permukaan dan sumur bor dengan total kapasitas terpasang adalah 28 liter/detik.

SPAM IKK Brang Ene memiliki kapsitas terpasang 20 liter/detik dengan sumber air baku adalah air permukaan dan kondisi air baku cukup baik. Selanjutnya, SPAM IKK Maluk memiliki kapasitas terpasang 22 liter/detik dengan sumber air baku adalah sumur bor.

Meski demikian, pemerintah menyadari tekanan terhadap sumber daya air akan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, perkembangan kawasan permukiman, dan meningkatnya aktivitas industri.

“Semakin berkembang industri, kebutuhan air baku juga semakin tinggi. Jumlah pekerja industri yang bertambah dan pertumbuhan penduduk turut meningkatkan kebutuhan air,” ujarnya.

Karena itu, pemerintah mendorong setiap pelaku industri mengembangkan sumber air bakunya sendiri melalui inovasi dan teknologi yang tepat.

Dalam konteks tersebut, Armayadi menilai langkah AMMAN memanfaatkan air laut melalui teknologi desalinasi merupakan pilihan yang tepat.

“Teknologi desalinasi sangat membantu mengurangi ketergantungan terhadap air tanah, terutama di lokasi pesisir yang secara kuantitas maupun kualitas air tanahnya tidak memungkinkan dimanfaatkan secara optimal,” katanya.

Menurutnya, praktik tersebut layak menjadi contoh pengelolaan air oleh sektor industri, selama tetap memenuhi seluruh ketentuan perizinan dan menjaga kualitas lingkungan.

Pemerintah daerah juga terus melakukan pemantauan kualitas sumber daya air melalui koordinasi lintas instansi bersama Dinas Lingkungan Hidup dan pihak perusahaan, sekaligus memperkuat berbagai program konservasi seperti penanaman mangrove dan aksi bersih pesisir.

Pengelolaan Air Berkelanjutan 

Pandangan senada disampaikan Kepala Sekretariat Komisi Irigasi Provinsi NTB, Juraedah Dwi Anggraini, ST., M.Sc.

Menurutnya, kebutuhan air untuk pertanian, masyarakat, dan industri akan terus meningkat sehingga pengelolaan sumber daya air harus dilakukan secara berkelanjutan.

Ia menjelaskan, potensi layanan irigasi utama di Kabupaten Sumbawa Barat mencapai sekitar 8.595 hektare, terdiri atas layanan Bendungan Tiu Suntuk sekitar 1.900 hektare dan Bendungan Bintang Bano sekitar 6.695 hektare.

Dalam konteks itu, penggunaan air laut melalui teknologi desalinasi dinilai sejalan dengan prinsip konservasi sumber daya air selama memenuhi ketentuan teknis, lingkungan, dan regulasi.

“Pada prinsipnya, Komisi Irigasi mengapresiasi setiap upaya pelaku usaha yang mencari sumber air alternatif sehingga tidak menambah tekanan terhadap sumber daya air tawar,” ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan pengelolaan limbah desalinasi (brine), pemantauan kualitas air laut, serta pengawasan lingkungan harus tetap dilakukan secara berkala.

Harapan Petani

Bagi sektor pertanian, air merupakan fondasi utama keberlangsungan produksi pangan.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa Barat, Jamilatun, S.Pt., M.M.Inov, mengatakan ketersediaan air menjadi faktor penentu keberhasilan budidaya tanaman pangan, hortikultura, maupun perkebunan.

Menurutnya, pemanfaatan air laut melalui teknologi desalinasi oleh AMMAN merupakan langkah yang patut diapresiasi karena membantu mengurangi ketergantungan terhadap air tanah.

“Jika industri seperti AMMAN Mineral bisa memanfaatkan air laut melalui teknologi desalinasi, maka ketergantungan terhadap air tanah tentu bisa berkurang. Dengan begitu, cadangan air tanah dapat lebih terjaga dan tetap tersedia untuk kebutuhan masyarakat maupun sektor pertanian,” katanya.

Dinas Pertanian sendiri terus mendorong efisiensi penggunaan air melalui pengaturan pola tanam, optimalisasi jaringan irigasi, penyuluhan irigasi hemat air, penerapan teknologi budidaya yang lebih efisien, hingga pengembangan varietas tanaman yang adaptif terhadap kekeringan.

Menurut Jamilatun, keberlanjutan sumber daya air hanya dapat diwujudkan melalui sinergi pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha. Sehingga, industri tetap tumbuh, pertanian tetap produktif, masyarakat tetap memperoleh air bersih, dan sumber daya air tetap lestari.

Sebab di wilayah yang kaya sumber daya alam seperti Sumbawa Barat, menjaga cadangan air tanah tidak selalu dimulai dari sumur atau mata air. Kadang, upaya itu justru dimulai dari laut, hamparan biru yang selama ini hanya dipandang sebagai batas daratan, tetapi kini menjadi sumber kehidupan baru bagi industri sekaligus memberi ruang agar air tawar tetap mengalir bagi masyarakat, pertanian, dan alam di masa depan. (*)

nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *