Dari Tuwa Kawa hingga Ngemar Kawa (Bagian 3 dari 3)

oleh -114 Dilihat

Ngemar Kawa: Jangan Hanya Menjual Biji Kopinya

Oleh: Rusli Cahyadi
Peneliti Senior Pusat Riset Kependudukan dan Staf Pengajar Departemen Antropologi UI

Pada tulisan pertama, kita melihat bahwa kopi telah menjadi bagian dari lanskap Sumbawa setidaknya sejak pertengahan abad ke-19. Kebun-kebun kopi tumbuh di dalam tuwa kawa, menyatu dengan pepohonan hutan dan dikelola masyarakat jauh sebelum kopi menjadi komoditas penting.

Pada tulisan kedua, perjalanan itu berlanjut ke ruang yang berbeda. Bukan lagi di lereng pegunungan, melainkan di dapur-dapur rumah tangga. Di sanalah kopi diolah menjadi kawa Samawa melalui pengetahuan tentang menyangrai, menumbuk, meracik, dan menyajikan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kini pertanyaannya bukan lagi sejak kapan kopi ditanam atau bagaimana kopi dinikmati. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang harus kita lakukan dengan seluruh sejarah dan kebudayaan itu?

Bagi saya, inilah tantangan terbesar pengembangan Kopi Sumbawa hari ini. Sejarah dan kebudayaan tidak cukup hanya diketahui. Keduanya harus diubah menjadi kekuatan yang memberi manfaat bagi petani, pelaku usaha, dan masyarakat luas.

Jangan Hanya Menjual Bijinya

Ketika berbicara tentang pengembangan kopi, perhatian kita biasanya tertuju pada produktivitas, kualitas biji, teknik budidaya, sertifikasi, atau akses pasar. Semua itu memang penting.

Namun, pengalaman banyak daerah penghasil kopi menunjukkan bahwa keunggulan suatu produk tidak hanya ditentukan oleh mutu bijinya. Sering kali, yang membuat sebuah kopi dikenal luas justru cerita yang menyertainya.

Orang tidak hanya membeli kopi karena rasanya enak. Mereka juga ingin mengetahui dari mana kopi itu berasal, siapa yang menanamnya, bagaimana ia diolah, dan mengapa kopi tersebut berbeda dari kopi daerah lain.

Di sinilah Sumbawa memiliki modal yang sangat besar.

Kita mempunyai sejarah budidaya kopi yang dapat ditelusuri hingga pertengahan abad ke-19. Kita memiliki lanskap tuwa kawa yang menunjukkan hubungan erat antara kopi dan hutan. Kita juga masih menyimpan pengetahuan lokal yang hidup dalam tradisi kawa Samawa.

Semua itu merupakan identitas Kopi Sumbawa yang tidak dimiliki banyak daerah lain.

Kopi Sumbawa Pernah Menjadi Bagian Perdagangan Dunia

Sekitar satu abad yang lalu, Kopi Sumbawa pernah memasuki jaringan perdagangan internasional.

Pada dekade 1920-an, kopi Arabika dari Batulanteh dan Ropang diperdagangkan lebih luas. Pedagang Tionghoa membeli hasil panen masyarakat dari kampung-kampung penghasil kopi. Persaingan di antara mereka bahkan sempat meningkatkan harga yang diterima petani.

Pada 1928, pejabat kolonial Seegeler melaporkan bahwa membaiknya harga kopi mendorong masyarakat memperluas kebun mereka.

Melalui Labuhan Sumbawa, kopi kemudian dikirim ke Makassar. Dari sana, sebagian diduga diteruskan ke Singapura.

Ironisnya, ketika memasuki jaringan perdagangan tersebut, identitas Sumbawa justru hampir menghilang. Gerrit Kuperus menduga kopi dari Sumbawa diperdagangkan di Makassar dengan nama Timorkoffie. Bijinya berasal dari Sumbawa, tetapi identitas dagangnya mengikuti kategori yang lebih dikenal pada masa itu.

Kini, situasinya justru berbalik. Yang ingin dibangun adalah agar nama Sumbawa kembali melekat pada kopi yang dihasilkan masyarakatnya.

Mengapa Arabika Menghilang?

Sumber-sumber kolonial juga meninggalkan satu teka-teki yang belum terpecahkan.

Kopi yang dibahas Kuperus hampir seluruhnya adalah Arabika. Pemerintah kolonial memang mulai memperkenalkan Robusta pada 1918 di Rarak, Rongis, Mantar, dan Nangkalanong, tetapi hingga awal 1930-an hasilnya belum terlalu berarti.

Sementara itu, ingatan masyarakat di Tepal menyebut perkembangan Robusta baru berlangsung jauh setelah kemerdekaan. Ada kisah tentang “kopi Jawa” yang mulai ditanam pada akhir 1950-an, kemudian menyebar ke kawasan lain, termasuk Batu Rotok.

Di antara dua kisah tersebut terdapat ruang kosong yang belum banyak diteliti.

Apa yang sebenarnya terjadi terhadap kebun-kebun Arabika tua di Batulanteh dan Ropang? Apakah pohon-pohonnya telah melewati umur produktif? Apakah kebun-kebun itu terbengkalai pada masa pendudukan Jepang? Ataukah secara perlahan digantikan oleh Robusta?

Hingga kini belum ada jawaban yang pasti. Justru karena itulah sejarah kopi Sumbawa masih terbuka untuk terus diteliti.

Sejarah Juga Mempunyai Nilai Ekonomi

Masa depan Kopi Sumbawa tidak hanya bergantung pada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sejarah, tetapi juga pada bagaimana sejarah itu dimanfaatkan.

Di berbagai negara, sejarah dan kebudayaan telah menjadi bagian dari nilai tambah sebuah produk. Orang datang bukan hanya untuk membeli kopi. Mereka ingin melihat lanskap tempat kopi tumbuh, mendengar kisah para petani, mengetahui bagaimana kopi diproses, dan merasakan pengalaman yang tidak mereka temukan di tempat lain.

Sumbawa sebenarnya memiliki seluruh unsur tersebut.

Ada sejarah panjang yang dapat ditelusuri melalui catatan Zollinger, Jasper, dan Kuperus. Ada lanskap tuwa kawa yang memperlihatkan hubungan harmonis antara kopi dan hutan. Ada pengetahuan rumah tangga yang hidup dalam tradisi kawa Samawa. Ada pula Festival Ngemar Kawa yang mulai mempertemukan petani, pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat.

Semuanya dapat dirangkai menjadi satu narasi yang utuh.

Dari Produk Menjadi Identitas

Ke depan, membangun Kopi Sumbawa tidak cukup hanya meningkatkan produksi. Yang tidak kalah penting adalah mendokumentasikan pengetahuan masyarakat.

Istilah-istilah lokal perlu dicatat. Cerita para petani perlu direkam. Cara menyangrai, menumbuk, meracik, dan menyajikan kopi perlu didokumentasikan sebelum hilang bersama generasi yang masih menguasainya.

Bahkan alat-alat sederhana yang selama ini digunakan di rumah-rumah dapat menjadi bagian dari sejarah teknologi lokal.

Semua itu bukan sekadar nostalgia. Ia dapat menjadi sumber inovasi, pendidikan, pariwisata, sekaligus memperkuat posisi Kopi Sumbawa di pasar yang semakin menghargai keaslian, jejak sejarah, dan asal-usul suatu produk.

Menemukan Kembali Diri Sendiri

Festival Ngemar Kawa dapat menjadi awal dari perjalanan tersebut.

Bukan hanya sebagai perayaan panen atau ajang promosi produk, tetapi juga sebagai ruang yang mempertemukan sejarah, kebudayaan, dan masa depan.

Melalui festival seperti ini, masyarakat dapat melihat bahwa kopi bukan sekadar komoditas pertanian. Kopi adalah bagian dari identitas Sumbawa.

Selama tiga tulisan ini, kita telah mengikuti perjalanan kopi dari tiga sudut pandang yang saling melengkapi.

Kita mengenal tuwa kawa, lanskap tempat kopi tumbuh sejak abad ke-19. Kita memahami kawa Samawa, pengetahuan rumah tangga yang membentuk cita rasa kopi. Kini kita sampai pada Ngemar Kawa, semangat untuk membawa Kopi Sumbawa melangkah ke masa depan.

Namun, masa depan itu tidak perlu dibangun dengan melupakan masa lalu. Justru karena sejarahnya ditemukan kembali, Kopi Sumbawa memiliki sesuatu yang tidak dimiliki banyak daerah lain.

Sumbawa tidak hanya memiliki kopi yang berkualitas. Sumbawa juga memiliki kisah tentang bagaimana kopi ditanam, dipelihara, diolah, diracik, dan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Pada akhirnya, keunggulan terbesar Kopi Sumbawa mungkin bukan semata-mata terletak pada bijinya, melainkan pada keseluruhan ekosistem budaya yang tumbuh bersamanya. Ketika sejarah, tradisi, lanskap, dan masyarakat dirawat sebagai satu kesatuan, Kopi Sumbawa tidak lagi sekadar menjadi produk yang diperdagangkan, tetapi identitas yang layak dikenalkan kepada dunia.Versi ini lebih ringkas, menghindari pengulangan subjudul dan paragraf “Jangan Hanya Menjual Bijinya”, serta memiliki alur yang lebih kuat sebagai penutup trilogi tulisan. (*)

nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *