SUMBAWA BESAR, samawarea.com (14 Agustus 2026) — Mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Universitas Samawa (UNSA) Kelompok 04 di Desa Mapin Kebak, Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, mengajak masyarakat memanfaatkan limbah organik rumah tangga dan hasil pertanian menjadi pupuk kompos yang bermanfaat bagi tanaman.
Kegiatan sosialisasi pembuatan pupuk kompos organik tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah organik sekaligus memberikan alternatif pupuk yang ramah lingkungan dan lebih hemat biaya bagi petani.
Dosen Pembimbing Mahasiswa KKL UNSA, Abdul Rahim, S.Pd., M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut dilaksanakan sebanyak dua kali dengan sasaran dan metode yang berbeda.
“Kegiatan pertama dilaksanakan bersama kelompok petani lokal dan pemuda Karang Taruna Desa Mapin Kebak,” ungkap Abdul Rahim.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKL memandu peserta mempraktikkan langsung proses pembuatan pupuk kompos menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar. Di antaranya sisa sayuran dapur, sekam bakar, kotoran sapi kering, daun bambu kering, tanah subur, serta cairan EM4 sebagai bioaktivator.
Proses pembuatan dimulai dengan mencacah bahan organik, kemudian mencampurkannya secara berlapis. Selanjutnya bahan disiram menggunakan larutan EM4 yang telah diencerkan dan tumpukan kompos ditutup agar proses fermentasi berlangsung secara optimal.
Para petani dan anggota Karang Taruna terlihat antusias mengikuti setiap tahapan. Mereka aktif bertanya sekaligus ikut mempraktikkan langsung proses pencampuran bahan.
Abdul Rahim berharap kegiatan tersebut menjadi bekal keterampilan bagi masyarakat, khususnya petani, agar mampu memproduksi pupuk organik secara mandiri.
Menurutnya, kemampuan membuat pupuk kompos dapat menjadi salah satu upaya mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk Urea, Phonska, maupun pupuk jenis lainnya.
“Pendampingan pembuatan pupuk kompos ini sebagai upaya menciptakan kemandirian para petani terhadap kebutuhan pupuk. Dengan kemampuan membuat pupuk kompos, diharapkan ketergantungan terhadap pupuk Urea, Phonska dan pupuk lainnya dapat dikurangi,” jelasnya.
Sementara itu, kegiatan kedua dilaksanakan bersama Kepala Desa Mapin Kebak beserta ibu-ibu PKK. Berbeda dengan kegiatan pertama, sosialisasi kali ini dilakukan melalui pemaparan video dokumentasi hasil praktik pembuatan kompos yang sebelumnya dilakukan bersama petani lokal dan Karang Taruna.
Melalui tayangan tersebut, mahasiswa KKL menjelaskan tahapan pembuatan pupuk kompos secara visual, mulai dari persiapan bahan, teknik pencampuran, proses fermentasi hingga masa panen kompos.
Metode tersebut dipilih agar peserta dapat memahami proses pembuatan kompos secara lebih mudah dan menyeluruh, sekaligus memperluas jangkauan informasi kepada perangkat desa dan kelompok PKK.
Kepala Desa Mapin Kebak, Sirajuddin BE, menyambut baik kegiatan tersebut dan menyatakan dukungannya terhadap program pengolahan sampah organik. Menurutnya, pengelolaan limbah menjadi pupuk kompos tidak hanya membantu menjaga kebersihan lingkungan desa, tetapi juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani melalui penggunaan pupuk yang lebih murah dan ramah lingkungan.
Ibu-ibu PKK juga memberikan respons positif dan berharap pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan di lingkungan rumah tangga masing-masing.
Melalui dua rangkaian kegiatan tersebut, mahasiswa KKL UNSA berharap pengetahuan dan keterampilan pembuatan pupuk kompos organik dapat menyebar ke seluruh lapisan masyarakat Desa Mapin Kebak, mulai dari petani, pemuda, perangkat desa hingga ibu rumah tangga.
Dengan demikian, masyarakat diharapkan semakin mandiri dalam mengelola limbah organik sekaligus mampu mendukung terciptanya pertanian yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. (SR)






