𝖲𝖲𝖡 𝖲𝗎𝗆𝖻𝖺𝗐𝖺 𝖬𝗎𝖽𝖺: 𝐌𝐢𝐦𝐩𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐒𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢 𝐉𝐚𝐮𝐡…

oleh -286 Dilihat

Oleh: Muis Debe (Pegiat Jaringan Literasi Silamobaca) 

Pagi itu, Rabu 30 September 2026.
Matahari baru menyapa halaman Kantor Bupati. Dan di sana, berdiri anak-anak — membawa tas, membawa sepatu, membawa harapan yang lebih berat dari apa pun yang mereka genggam.

Mereka akan berangkat ke kota pahlawan Surabaya. Bukan sekadar mengikuti pertandingan. Mereka membawa nama Sumbawa — mewakili NTB — ke tempat yang lebih luas. Ke Gelora Bung Tomo, tempat di mana ribuan mata akan melihat mereka bermain.

Siapa yang menyangka, anak-anak yang kemarin sore masih berlari di lapangan dekat rumah, kini melangkah menuju panggung nasional?

Bakat tidak datang tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, di sore-sore yang tak pernah absen, di terik yang membakar pundak, di hujan yang membasahi kaos. Di sanalah mimpi itu ditempa — bukan dengan janji manis, melainkan dengan keringat yang jatuh ke tanah.

Orang-orang tua mereka berdiri di pinggir lapangan, menatap dengan mata yang berbinar namun berkaca-kaca. Bagi mereka, keberangkatan ini lebih dari sekadar olahraga. Ini adalah bukti: anak-anak kita bermimpi. Dan mimpi itu, akhirnya menemukan jalan.

Pesan yang disampaikan sederhana namun meresap: jaga nama baik. Jaga kawan. Jaga diri. Di kota yang besar, banyak hal dapat memalingkan wajah. Tetaplah menjadi anak-anak yang pulang membawa keutuhan — itu lebih berharga daripada piala apa pun.

Menang itu didambakan. Namun yang lebih diinginkan adalah melihat mereka tumbuh menjadi manusia yang mandiri, yang hidup dari bakatnya, yang suatu hari nanti mengenakan seragam kebanggaan bangsa. Itulah mimpi yang sebenarnya — bukan hanya satu kemenangan, melainkan masa depan yang terang.

Dan perjalanan ini bukan untuk mereka semata. Pintu yang terbuka hari ini hendaknya tetap terbuka bagi siapa saja yang datang setelahnya. Agar anak-anak Sumbawa yang bermimpi tidak perlu menunggu keajaiban — mereka hanya perlu berlatih, berdoa, dan melangkah.

Mereka berangkat pagi itu. Bola di tangan, doa di hati, tanah kelahiran di punggung. Semoga pulang nanti, mereka membawa pulang bukan sekadar hasil pertandingan, melainkan keyakinan yang lebih dalam: bahwa dari mana pun kita berasal, mimpi yang dirawat dengan setia, pasti akan mengalir sampai jauh…***

 

amman nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *