Museum bukan sekadar gedung penyimpanan artefak, melainkan institusi yang menjaga identitas bangsa. Namun, hasil studi lapangan di UPT Museum Daerah Kabupaten Sumbawa pada April 2026 mengungkap tantangan manajerial yang pelik. Berdasarkan wawancara dengan Kurator Museum, Kak Fadilla Husna Astri, museum ini sedang berjuang mempertahankan kualitas layanannya di tengah keterbatasan personel operasional dan kondisi fisik bangunan yang memerlukan perhatian mendesak.
ISI / ARGUMENTASI
Krisis sumber daya manusia menjadi poin utama dalam analisis kritis ini. Sejak awal tahun 2026, pemutusan kontrak tenaga honorer berdampak langsung pada ketiadaan petugas keamanan dan kebersihan. Akibatnya, tugas-tugas operasional tersebut dilakukan secara mandiri oleh staf yang ada secara gotong royong. Secara manajerial, beban kerja ganda ini dapat mengganggu fokus pelayanan edukasi primer bagi pengunjung. Padahal, perlindungan fisik bangunan adalah syarat mutlak dalam konservasi benda cagar budaya sesuai standar PP No. 66 Tahun 2015 tentang Museum.
DUKUNGAN DATA & ANALISIS
Berdasarkan data rekapitulasi pengunjung tahun 2025, antusiasme masyarakat sebenarnya sangat tinggi dengan total kunjungan mencapai 12.415 orang dalam satu tahun. Tren kunjungan menunjukkan lonjakan drastis pada bulan Oktober (2.872 orang) dan November (2.245 orang), yang didominasi oleh segmen Pelajar (total 7.652 orang).
Namun, terdapat anomali pada segmen Wisatawan Asing yang hanya berjumlah 46 orang (0,37%). Angka ini menunjukkan bahwa museum belum berhasil terintegrasi secara maksimal dalam jejaring pariwisata internasional. Kurangnya kolaborasi dengan agen perjalanan pariwisata membuat potensi kunjungan wisatawan dari luar Sumbawa belum tergarap maksimal.
SOLUSI & REKOMENDASI
Menghadapi tantangan ini, diperlukan langkah inovasi manajerial yang konkret. Pertama, Pemerintah Daerah harus segera memprioritaskan anggaran perbaikan atap demi keselamatan koleksi negara. Kedua, integrasi teknologi digital seperti QR Code harus segera diimplementasikan guna mengatasi keterbatasan jumlah edukator di lapangan. Ketiga, perlu adanya kemitraan strategis dengan agen pariwisata untuk meningkatkan angka kunjungan internasional.
PENUTUP (CLOSING)
UPT Museum Daerah Sumbawa adalah wajah peradaban kita. Jika kita membiarkan fasilitasnya menurun di saat minat masyarakat sedang tinggi, kita berisiko kehilangan momentum edukasi sejarah yang berharga. Sinergi antara pemerintah dan inovasi manajemen adalah jalan menuju museum yang mandiri dan unggul sesuai nilai Sabalong Samalewa.
REFERENSI
UPT Museum Daerah Kabupaten Sumbawa. (2025). Data Rekapitulasi Pengunjung Tahunan UPT Museum Daerah Kabupaten Sumbawa Tahun 2025.
Republik Indonesia. (2015). Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 66 Tahun 2015 tentang Museum. Jakarta: Lembaran Negara Republik Indonesia.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumbawa. (2024). Kabupaten Sumbawa Dalam Angka 2024. Diakses dari https://sumbawakab.bps.go.id/
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI. (2023). Standar Pengelolaan Museum Nasional. Direktorat Pelindungan Kebudayaan. Diakses dari https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/
Sari, N., dkk. (2022). Strategi Pengembangan Museum sebagai Destinasi Wisata Edukasi. Jurnal Manajemen Pariwisata dan Kebudayaan. (*)
Oleh : KELOMPOK 3
NAMA ANGGOTA:
1. Amilia Putri (241009002)
2. Khaeunnisa (241009041)
3. Nansy Adhekhantari (241009012)






