REVITALISASI TATAKELOLA ISTANA DALAM LOKA: MENJAWAB TANTANGAN AMBIGUITAS NILAI DI ERA MODERN

oleh -669 Dilihat

Istana Dalam Loka berdiri tegak dengan 99 tiang kayu jati, sebuah mahakarya arsitektur yang dibangun tanpa paku tunggal sejak tahun 1885. Sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB) Nasional, istana ini bukan sekadar peninggalan fisik dari Kesultanan Sumbawa, melainkan simbol identitas kolektif “Tau Samawa”. Namun, di tengah transformasi masyarakat tradisional menuju masyarakat modern, sebuah tantangan manajerial besar muncul: mampukah raksasa kayu ini tetap relevan? Melalui kacamata manajemen pariwisata terintegrasi, tugas kita bukan lagi sekadar menjaga kayu agar tidak lapuk, melainkan mengelola nilai sejarah agar tetap “bernafas” di benak generasi digital yang serba cepat.

ANALISIS DATA EKONOMI DAN PARIWISATA

Jika kita meninjau data Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Barat, sektor pariwisata merupakan salah satu penopang utama Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) non-tambang. Secara ekonometrika, terdapat korelasi linear yang kuat antara kualitas layanan destinasi wisata sejarah dengan tingkat kunjungan ulang (revisit intention). Peningkatan kualitas tatakelola di situs seperti Istana Dalam Loka berpotensi menaikkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui sektor retribusi dan dampak berantai (multiplier effect) bagi UMKM di sekitarnya.

Berdasarkan studi lapangan yang kami lakukan, saat ini tatakelola Istana Dalam Loka melibatkan sinergi antara Pemerintah Kabupaten Sumbawa (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan) dengan Pemerintah Pusat melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV. Sebanyak 10 orang Juru Pelihara (Jupel) dikerahkan setiap hari untuk memastikan kebersihan dan struktur bangunan tetap terjaga. Secara operasional, aspek konservasi fisik memang menjadi prioritas utama. Namun, dalam manajemen modern, konservasi hanyalah fondasi; variabel penentunya adalah bagaimana nilai tersebut dipasarkan dan diintegrasikan dengan kebutuhan pasar modern.

REALITAS LAPANGAN DAN AMBIGUITAS

Dalam hasil wawancara kami dengan pihak pengelola, ditemukan sebuah inovasi layanan yang cukup menarik perhatian, yaitu penyewaan baju adat Sumbawa seharga Rp25.000. Dari perspektif experience management, ini adalah langkah yang baik, Wisatawan tidak hanya datang sebagai penonton pasif, tetapi mereka “memakai” sejarah tersebut, menciptakan keterikatan emosional yang kemudian mereka bagikan secara organik di media sosial. Hal ini membuktikan bahwa nilai kearifan lokal masih memiliki daya pikat tinggi jika dikemas dengan cara yang relevan.

Namun, kami juga menemukan “ambiguitas nilai” dalam penerapan teknologi. Pengelola telah merintis sistem audio guide berbasis barcode yang ditujukan untuk inklusivitas, terutama bagi penyandang disabilitas (tuna netra). Secara konsep, ini adalah langkah maju yang sangat visioner. Namun secara praktis, sistem ini seringkali terkendala masalah pemeliharaan teknis (maintenance). Inilah akar masalah yang sering terjadi pada manajemen pariwisata tradisional: semangat untuk berinovasi tinggi, namun dukungan terhadap manajemen keberlanjutan (sustainability) masih sangat lemah. Barcode yang tidak berfungsi bukan hanya kegagalan teknis, melainkan representasi dari belum siapnya sistem manajerial kita dalam mengawal transformasi digital.

KRITIK MANAJERIAL: MENGURAI AKAR MASALAH

Berpikir kritis dalam manajemen mengharuskan kita mengurai mengapa hambatan-hambatan ini terjadi. Pertama, adanya ketergantungan penuh pada birokrasi anggaran. Karena statusnya sebagai aset negara, setiap perbaikan kecil pada infrastruktur digital seringkali harus melewati prosedur birokrasi yang panjang dan kaku. Akibatnya, inovasi digital yang seharusnya bergerak dalam hitungan detik, harus terhambat oleh administrasi yang berjalan dalam hitungan tahun anggaran.

Kedua, adanya kesenjangan kompetensi SDM di bidang pariwisata modern. Juru pelihara yang ada saat ini sudah sangat luar biasa dalam menjaga kebersihan fisik bangunan. Namun, mereka belum sepenuhnya dibekali kemampuan sebagai cultural storyteller atau pengelola konten digital. Padahal, setiap ukiran di Dalam Loka, mulai dari motif nanas hingga filosofi 99 tiang yang melambangkan Asmaul Husna, adalah konten narasi yang sangat mahal harganya di mata wisatawan mancanegara. Tanpa narasi yang kuat, Istana Dalam Loka hanya akan dipandang sebagai “rumah kayu tua yang sunyi”.

SOLUSI DAN REKOMENDASI STRATEGIS

Untuk mewujudkan manajemen tatakelola pariwisata yang benar-benar terintegrasi dengan nilai sejarah, kami menawarkan tiga rekomendasi konkret:

Revitalisasi Digital Inklusif yang Terukur: Pemerintah daerah harus menjamin keberlanjutan sistem pemandu digital. Barcode sejarah harus dikelola oleh tim IT khusus atau bermitra dengan komunitas kreatif lokal agar narasi sejarah tetap tersedia 24/7. Sistem ini harus multibahasa untuk menyambut tren kenaikan kunjungan wisatawan asing pasca-pandemi sesuai data pertumbuhan kunjungan NTB di BPS.

Kemandirian Unit Layanan Kreatif: Perlu adanya fleksibilitas dalam pengelolaan pendapatan dari layanan tambahan (seperti sewa baju adat). Dana tersebut sebaiknya dapat diputar kembali secara cepat untuk biaya pemeliharaan fasilitas ringan tanpa harus menunggu prosedur anggaran pemerintah yang lama. Ini adalah langkah awal menuju manajemen yang mandiri dan unggul.

Peningkatan Kapasitas SDM sebagai Storyteller: Melakukan pelatihan intensif bagi petugas lapangan tentang teknik hospitality dan komunikasi sejarah. Setiap petugas harus mampu menjelaskan makna filosofis “Sabalong Samalewa” di balik struktur bangunan istana, sehingga wisatawan pulang dengan membawa pengetahuan, bukan sekadar foto di galeri ponsel mereka.

PENUTUP

Istana Dalam Loka adalah ruh dari peradaban Sumbawa. Ia adalah jembatan yang menghubungkan kejayaan masa lalu dengan potensi masa depan. Transformasi dari masyarakat tradisional menuju modern tidak harus dilakukan dengan menghapus nilai kearifan lokal, melainkan dengan memperkuat nilai tersebut melalui manajemen yang profesional, teknologi yang inklusif, dan narasi yang kuat. Jangan biarkan 99 tiang itu berdiri membisu; biarkan mereka bercerita kepada dunia bahwa Sumbawa adalah bangsa yang besar, yang mampu merawat masa lalunya sembari melompat tinggi menyongsong masa depan. (*)

 

Oleh : KELOMPOK 5

Anggota :

1. Cut Amalina Fitri

2. Gina Raudatul Jannah

3. Anggun Putri Kharisma

(Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Teknologi Sumbawa) 

 

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *