INTEGRASI MUSEUM DALAM PENGELOLAAN PARIWISATA BERBASIS SEJARAH DI SUMBAWA

oleh -78 Dilihat

Seringkali, saat kita bicara tentang pariwisata di Sumbawa, yang terlintas di benak adalah birunya laut di Pulau Moyo atau eksotisme hiu paus di Desa Labuan Jambu. Namun, pernahkah kita bertanya, di mana seorang pendatang bisa benar-benar “berkenalan” dengan jiwa masyarakat Sumbawa? Jawabannya ada di Museum Daerah Kabupaten Sumbawa. Museum bukan sekadar gedung tua yang menyimpan barang-barang bisu dari masa lalu; ia adalah “pintu gerbang” narasi daerah kita.

Berdasarkan obrolan mendalam kami dengan pengelola museum baru-baru ini, terungkap sebuah fakta yang cukup menyentuh. Ternyata, para wisatawan mancanegara—seperti turis dari Korea yang baru-baru ini berkunjung—justru menjadikan museum sebagai pemberhentian pertama mereka. Mereka ingin mengenal siapa Tau Samawa sebelum mereka mengeksplorasi alamnya lebih jauh. Sayangnya, di balik peran vitalnya sebagai wajah pertama daerah, museum kita masih berjuang melawan berbagai keterbatasan tatakelola yang memerlukan perhatian serius dari kita semua.

BABAK BARU PERPINDAHAN MUSEUM SUMBAWA

Membicarakan museum ini tidak dapat dilepaskan dari perjalanan sejarah fisiknya yang cukup panjang dan penuh tantangan. Museum ini sebenarnya telah berdiri sejak tahun 1994, dengan lokasi awal di dalam bangunan megah Istana Dalam Loka. Pada masa itu, istana tidak hanya menjadi simbol kejayaan masa lalu, tetapi juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan berbagai koleksi bersejarah.

Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi bangunan Istana Dalam Loka mulai mengalami penurunan. Struktur bangunan yang semakin miring dari tahun ke tahun menimbulkan kekhawatiran, baik terhadap keselamatan bangunan itu sendiri maupun terhadap koleksi yang tersimpan di dalamnya. Oleh karena itu, pada saat dilakukan pemugaran pada tahun 2009–2010, diputuskan bahwa benda-benda bersejarah tersebut tidak lagi direkomendasikan untuk disimpan di lokasi tersebut demi alasan keamanan.

Perjalanan museum ini kemudian berlanjut pada Februari 2013, ketika melalui Surat Keputusan (SK) resmi, museum dipindahkan ke Gedung DPRD lama Sumbawa. Pemilihan bangunan cagar budaya sebagai lokasi baru museum menjadi sebuah langkah yang sarat makna—sejarah tidak hanya dipamerkan, tetapi juga “dihidupkan” di dalam bangunan yang juga memiliki nilai sejarah.

Namun demikian, keputusan ini juga membawa tantangan tersendiri, terutama dari sisi pengelolaan. Sebagai bangunan cagar budaya, gedung tersebut memiliki aturan pelestarian yang sangat ketat. Pengelola tidak diperbolehkan mengubah struktur asli, melubangi dinding, atau melakukan renovasi tanpa prosedur khusus. Di sinilah muncul dilema: di satu sisi, museum dituntut untuk berkembang dan tampil lebih modern, namun di sisi lain, mereka harus tetap menjaga keaslian bangunan yang menjadi bagian dari warisan sejarah itu sendiri.

TANTANGAN NYATA DI BALIK PINTU MUSEUM

Jika kita masuk lebih dalam ke area museum, kita akan melihat realitas yang cukup pahit. Salah satu kendala terbesar yang disampaikan oleh pengelola adalah kondisi atap gedung yang mengalami kebocoran di banyak titik. Bayangkan, di satu sisi kita harus mengamankan koleksi pusaka yang tak ternilai harganya, namun di sisi lain kita harus berhadapan dengan air hujan yang merembes setiap kali langit mendung. Masalah kebocoran ini telah menghambat pengembangan ruangan di bagian belakang, sehingga banyak potensi pameran yang akhirnya tertunda.

Dari sisi manajemen pengunjung, situasinya juga cukup menantang. Jumlah kunjungan cenderung stagnan dari tahun ke tahun. Selama ini, museum lebih banyak mengandalkan dengan mengirimkan surat ke sekolah-sekolah mulai dari tingkat TK hingga SMA. Meski antusiasme adik-adik pelajar sangat tinggi—terutama saat sesi kuis berlangsung—kita tentu tidak ingin museum hanya dikenal sebagai tempat kunjungan wajib tugas sekolah. Kita ingin masyarakat umum juga merasa bahwa museum adalah tempat yang relevan untuk dikunjungi secara rutin.

*Urgensi Integrasi: Mengapa Kita Masih Jalan Sendiri-Sendiri?*

Salah satu poin paling kritis dari hasil wawancara kami adalah belum adanya kolaborasi yang nyata antara pihak Museum dengan Dinas Pariwisata. Di Sumbawa, urusan kebudayaan dan pariwisata seolah berjalan di jalurnya masing-masing tanpa jembatan yang kuat. Pengelola museum mengakui bahwa sejauh ini mereka lebih sering berkolaborasi dengan instansi pendidikan daripada dengan pelaku industri wisata.

Padahal, dalam konsep manajemen pariwisata yang modern, museum seharusnya menjadi bagian dari “Paket Wisata Terintegrasi”. Tidak boleh ada lagi ego sektoral. Dinas Pariwisata seharusnya menempatkan Museum Daerah sebagai destinasi utama dalam setiap promosi, sementara pengelola museum memastikan konten dan narasi di dalamnya siap menyambut wisatawan dengan standar profesional. Tanpa kolaborasi ini, museum akan tetap menjadi destinasi “pilihan kedua” yang sering terlewatkan.

INOVASI DAN HARAPAN DI MASA DEPAN

Meskipun dihimpit keterbatasan dana dan kendala infrastruktur, semangat pengelola museum tidak lantas padam. Ada sebuah gagasan besar yang sedang mereka upayakan: digitalisasi koleksi. Ini adalah solusi cerdas untuk mengatasi masalah aksesibilitas bagi masyarakat yang jauh dari pusat kota atau bagi mereka yang berada di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Melalui digitalisasi, siapa pun bisa mengakses sejarah Sumbawa hanya melalui sebuah tautan internet.

Selain itu, kebijakan untuk tetap buka di hari Sabtu dan Minggu yang dimulai sejak April ini adalah sebuah langkah yang sangat berani dan patut kita apresiasi. Ini adalah bentuk pelayanan maksimal agar keluarga atau wisatawan yang bekerja di hari biasa tetap bisa menikmati museum di waktu senggang mereka. Ini membuktikan bahwa museum ingin menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, bukan sekadar lembaga yang kaku.

PENUTUP

Pada akhirnya, pengelolaan pariwisata yang berbasis sejarah hanya akan berhasil jika ada rasa memiliki dari masyarakatnya sendiri. Pengelola museum menyampaikan sebuah harapan yang sangat tulus: “Semoga masyarakat Sumbawa rutin berkunjung ke museum.” Harapan ini sebenarnya adalah sebuah sentilan lembut bagi kita semua. Mengapa kita lebih bangga mengunjungi museum di luar negeri atau di kota besar, sementara rumah sejarah kita sendiri sering kita lupakan?

Menjadikan museum sebagai bagian dari pariwisata terintegrasi bukan hanya tugas pengelola atau dinas terkait. Ini adalah tugas kolektif. Integrasi itu dimulai dari kehadiran kita, dari kepedulian kita terhadap atap yang bocor, hingga dukungan kita terhadap program-program digitalisasi yang sedang dirancang.

Mari kita jadikan Museum Daerah Kabupaten Sumbawa benar-benar sebagai “pintu gerbang” yang membanggakan. Jika kita ingin dunia menghargai Sumbawa, mari kita mulai dengan menghargai setiap tetes keringat sejarah yang tersimpan di dalam museum kita. Sebab, sebuah bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang memiliki alam yang indah, tapi bangsa yang mampu merawat dan mencintai sejarahnya dengan cara yang paling terhormat. (*)

Oleh :  Kelompok 4

Anggota :

1. Marsa Putri Kutari

 2. Nona dara Renata

 3. Tri Rahmatia Ningrum

(Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Teknologi Sumbawa) 

 

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *