SUMBAWA BESAR, samawarea.com (24 April 2026) – Produk turunan kemiri berupa minyak kemiri murni dan briket kemiri hasil produksi Sentra Kemiri Ropang kini mulai menembus pasar. Produk ini merupakan bagian dari program kolaborasi antara Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) dan PT. Sumbawa Jutaraya (SJR).
Inisiator program, Muhammad Iqbal M.M.Inov yang akrab disapa Iqbal Sanggo, menyebutkan bahwa keberhasilan ini menjadi bukti nyata potensi besar komoditas kemiri sebagai produk unggulan daerah yang bernilai ekonomi tinggi.
Menurutnya, minyak kemiri murni memiliki kandungan nutrisi penting seperti vitamin E, asam linoleat, dan zinc. Kandungan tersebut bermanfaat untuk menyuburkan, menguatkan, serta merangsang pertumbuhan rambut dan alis. Selain itu, minyak kemiri juga berfungsi sebagai pelembap kulit, membantu penyembuhan luka, mengatasi ketombe, dan menjaga kesehatan kulit kepala.
“Produk ini bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga manfaat kesehatan yang luas. Ini peluang besar untuk dikembangkan lebih jauh,” ujar Iqbal.
Lebih lanjut, Iqbal juga seorang akademisi menegaskan bahwa pengembangan produk kemiri ini dapat menjadi salah satu model konkret dalam mendukung program Sumbawa Hijau Lestari melalui pendekatan hilirisasi.
Ia menilai, upaya pelestarian lingkungan tidak cukup hanya dengan melarang masyarakat merusak hutan. Pemerintah daerah perlu menghadirkan solusi nyata yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar kawasan hutan dan lahan kritis.
“Kalau Pemda Sumbawa serius, ini bisa jadi contoh konkret. Tidak hanya larangan, tapi juga solusi ekonomi bagi masyarakat,” tegasnya.
Iqbal juga mendorong adanya program pemberdayaan bagi masyarakat desa di sekitar kawasan hutan, termasuk bantuan ekonomi berbasis potensi lokal seperti kemiri. Tak hanya itu, ia mengusulkan pemberian beasiswa Lestari bagi anak-anak dari keluarga yang sebelumnya melakukan alih fungsi lahan hutan sebagai bentuk kompensasi sekaligus motivasi untuk menjaga kelestarian hutan.
“Langkah ini diharapkan masyarakat tidak lagi bergantung pada aktivitas yang merusak hutan, melainkan beralih ke pemanfaatan hasil hutan yang berkelanjutan dan bernilai ekonomi,” pungkas pria multitalenta ini. (SR)






