SUMBAWA BESAR, samawarea.com (22 Januari 2026) – Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi tidak boleh berdiri sendiri tanpa diiringi tanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan. Hal tersebut disampaikan dalam pidatonya pada puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Sumbawa ke-67, Kamis (22/1/2026).
Menurut Haji Jarot, pembangunan yang mengorbankan alam justru akan meninggalkan persoalan besar bagi generasi mendatang. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Sumbawa secara konsisten menjalankan Program Sumbawa Hijau Lestari sebagai pijakan utama pembangunan berkelanjutan dan berkeadilan antar generasi.
“Keberhasilan ekonomi harus berjalan seiring dengan tanggung jawab menjaga sumber daya yang menjadi penopangnya. Pembangunan tidak boleh mengorbankan alam,” tegas Bupati.
Program Sumbawa Hijau Lestari mencakup perlindungan, pengamanan, serta rehabilitasi hutan dan lahan di berbagai wilayah Kabupaten Sumbawa. Untuk memastikan program ini berjalan efektif, Pemkab Sumbawa telah membentuk Satuan Tugas Perlindungan dan Pengamanan Hutan, yang menjadi satgas pertama di Provinsi Nusa Tenggara Barat.
“Satgas ini bahkan telah menjadi rujukan bagi beberapa kabupaten lain di NTB untuk mengadopsi pola yang sama,” ungkapnya.
Selain itu, Pemkab Sumbawa juga menggalakkan program penghijauan masif melalui Gerakan 1 ASN 1 Pohon dan 1 Siswa 1 Pohon, sebagai bagian dari target penanaman satu juta pohon yang dilaksanakan bersama Kementerian Kehutanan. Program ini dirancang sebagai gerakan kolektif untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan sejak dini dan menjadikannya kebiasaan bersama di tengah masyarakat.
Tidak hanya itu, Bupati juga memperkenalkan pendekatan inovatif yang berpihak kepada rakyat. Petani yang menanam pohon di lahan miring minimal satu hektar akan mendapatkan insentif berupa satu ekor sapi.
“Program ini kami arahkan untuk mencapai tiga tujuan sekaligus, yakni menjaga kelestarian alam, mengendalikan erosi dan degradasi lahan, serta meningkatkan ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Komitmen keberpihakan tersebut tidak hanya diterapkan di wilayah daratan, tetapi juga ditarik hingga ke kawasan pesisir. Jika di darat fokus pada pemulihan lahan dan penguatan ekonomi petani, maka di laut dan pesisir Pemkab Sumbawa membuka babak baru pembangunan melalui ekonomi biru.
Ke depan, ekonomi biru melalui pengembangan Kawasan SAMOTA terus didorong sebagai arah baru pembangunan pesisir Sumbawa. Saat ini, kawasan SAMOTA tengah diusulkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), dan sosialisasi ekonomi biru telah dilakukan kepada 23 desa pesisir di wilayah tersebut.
Lebih lanjut, Bupati menyatakan bahwa arah pengembangan SAMOTA sebagai KEK telah tercantum secara eksplisit dalam RPJMD Provinsi Nusa Tenggara Barat, sehingga memiliki pijakan kebijakan yang jelas dan terintegrasi.
“Inilah cara kita memanfaatkan potensi laut secara bijak, produktif, dan berkelanjutan. Bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan Sumbawa,” tutupnya. (SR)






