Urusan Beras Masuk Sidang MK, Johan Rosihan Nilai Terjadi Penyalahgunaan Wewenang atas Pangan

oleh -693 Dilihat

JAKARTA, samawarea.com (2 April 2024) – Anggota DPR RI, Johan Rosihan merespon jalannya sidang Mahkamah Konstitusi (MK). Faisal Basri selaku Ahli yang diajukan Tim Hukum Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar dalam sidang sengketa hasil Pilpres 2024 mengutarakan bahwa ada kemungkinan kebijakan impor beras 3 juta ton digunakan untuk kepentingan politik 2024.

Menurut Johan, selama ini DPR selalu menentang kebijakan impor beras namun pemerintah selalu ‘ngotot’ untuk impor. Yang terjadi pada tahun 2024 memang patut diduga telah terjadi penyalahgunaan wewenang atas pangan demi kepentingan electoral 2024.

“Pemerintah selalu berdalih bahwa elnino menjadi penyebab krisis pangan padahal ini hanya alibi untuk menutupi kelemahan pemerintah dalam produksi beras dan alasan untuk memuluskan impor beras. Jadi urusan beras yang seharusnya menjadi urusan prioritas malah dijadikan alat politik oleh kekuasaan untuk kepentingan electoral,” ucap Johan—akrab legislator asal Sumbawa, NTB ini.

Baca Juga  Sumbawa Dapat Bantuan 125 Baju Astronot

Adanya dugaan penyalahgunaan wewenang pemerintah atas pangan demi kepentingan politik ini, Johan mengusulkan ke depan perlu penguatan norma jaminan perlindungan hak atas pangan sebagai materi muatan konstitusi dimana ada sanksi yang tegas atas berbagai praktik penyalahgunaan wewenang pemerintah atas berbagai kebijakan pangan, termasuk bansos pangan.

Bagi politisi yang kembali terpilih sebagai anggota DPR RI hasil Pemilu 2024 ini, MK perlu memberikan kepastian hukum bagi setiap warga negara agar haknya di bidang pangan lebih terjamin. Bukan seperti yang terjadi selama ini bahwa seolah-olah rakyat harus berterimakasih kepada pemerintah dengan cara mengikuti pilihan politik tertentu. Hal ini mengurangi daya nalar masyarakat untuk memilih sesuai dengan pilihannya, padahal di sisi lain pemerintah sesungguhnya telah banyak melakukan kebijakan yang telah menciderai kedaulatan pangan nasional.

Baca Juga  Sudah Terbitkan 2.292 Izin, DPMPTSP Sumbawa Optimis Capai Target PAD

Johan memberi contoh, anggaran bansos ketika masuk 2024 terus ditingkatkan namun sebaliknya anggaran pertanian dikurangi setiap tahun. Ketika harga pangan melambung tinggi pemerintah tidak berdaya.

Ia menandaskan bahwa ketika pemerintah melakukan kesalahan fatal atas urusan pangan ini maka sesungguhnya telah menyalahi konstitusi. Sebab menurutnya walaupun dalam batang tubuh UUD 1945 belum ada jaminan eksplisit mengenai hak atas pangan, namun secara implisit, jaminan hak atas pangan terdapat dalam pasal 28C ayat (1)dan pasal 281 ayat (4) dari UUD 1945.

“Saya menekankan bahwa urusan pangan merupakan tanggung jawab konstitusional pemerintah yang harus dijalankan sesuai konstitusi, bukan untuk kepentingan politik electoral,” tegas Johan Rosihan. (SR)

 

pilkada mahkota rokok NU
Azzam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *