SUMBAWA BESAR, samawarea.com (11 Juli 2022)–Pemerintah Kabupaten Sumbawa melalui Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sumbawa, menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Strategi Pengembangan Industri Tenun Sumbawa, 8 Juli lalu.
Kegiatan yang digelar di Aula Dinas setempat, dalam rangka mendukung industri tenun Kabupaten Sumbawa agar mampu bersaing dan pelaku usaha di sektor Kriya Tenun terus produktif ini menggunaan pendekatan yang OVOP (One Village One Product) dengan pelibatan triple helix plus (pemerintah, masyarakat, dan swasta plus pers).
Lokusnya di Desa Poto, Kecamatan Moyo Hilir. Desa Poto dipilih karena desa ini adalah sentra pengrajin tenun, baik tenun songket maupun tenun ikat. Tenun tradisional dengan alat gedogan dan tenun dengan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin).
Kabid Perindustrian Dinas Koperasi UKM Indag Sumbawa, Andi Kusmayadi mengatakan, FGD ini dilaksanakan hasil kerjasama Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sumbawa dengan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta. Sebelumnya UPN Veteran Yogyakarta telah bekerjasama dalam Penyusunan Road Map Industri Garam dan Kopi Kabupaten Sumbawa.
Pada Tahun 2022, ungkap Andi, industri tenun dipilih karena mendapatkan perhatian yang cukup luas sebagai warisan budaya dan produk ekonomi. Selain itu motif tenun telah ditetapkan oleh Bupati Sumbawa melalui Keputusan Bupati Sumbawa Nomor 95 Tahun 2022 tentang Penetapan Motif Tenun Kabupaten Sumbawa.
Ketetapan ini digunakan untuk selanjutnya diusulkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar motif tenun Kabupaten Sumbawa sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Untuk itu, penyusunan strategi pengembangan industri tenun Kabupaten Sumbawa harus berkolaborasi dengan berbagai pihak.
Selain itu, lanjut Andi, Pemerintah Kabupaten Sumbawa sedang menggalakkan penggunaan tenun tradisional. Yaitu mewajibkan seluruh PNS menggunakan tenun tradisional setiap Hari Kamis.
Lebih jauh dijelaskannya, FGD tersebut dilaksanakan secara kolaboratif bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata, Bappeda, Camat Moyo Hilir, Kepala Desa Poto, Asosiasi Pengrajin Tenun Tradisional (APDISA) Sumbawa, Pengrajin Tenun ATBM, Pelaku Desainer Fashion, LPM Universitas Samawa, LPM Universitas Teknologi Sumbawa dan Pers.
FGD fokus pada 4 variabel yaitu aktifitas tenun tradisional dengan sub variable, permodalan, manajemen SDM, manajemen produksi, manajemen pemasaran, dan daya tarik wisata (atraksi wisata, fasilitas, aksesibilitas, pelayanan tambahan). Selain itu keterkaitan dengan objek wisata lain, dan pelaku pariwisata (pemerintah, masyarakat local, akademisi, swasta). (SR)






