Tambang Seloto Mulai Berdampak Buruk, Petani Minta Dihentikan

oleh -446 Dilihat

SUMBAWA BARAT, samawarea.com (30 Juni 2021)

Tambang emas di Desa Seloto, Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), sudah mulai memberikan dampak buruk bagi pertanian. Air hujan yang turun dari atas gunung tempat beroperasinya tambang tersebut disertai dengan lumpur bekas tanah kerukan alat berat membuat lahan pertanian warga yang berada di bawahnya terendam lumpur.

Dari pantauan samawarea.com di lapangan, terlihat diduga lumpur di area persawahan yang sedang ditanami padi yang baru berumur kurang lebih dua minggu. Tampak sebagian padi menguning akibat rendaman lumpur tersebut.

Masairang selaku pemilik lahan pertanian yang ditemui media ini Rabu (30/6) mengakui tanaman padinya terendam lumpur yang diyakininya turun dari gunung bekas kerukan alat berat di area pertambangan tersebut. “Luas padi saya yang terendam kurang lebih 15 are yang dibuat menjadi tiga petak,” sebutnya.

Ia mengaku baru sekali saja hujan yang turun bukan di musim hujan, kondisi sawahnya sudah seperti itu, apalagi nanti jika sudah memauski musim hujan. Dapat dibayangkan akan lebih banyak lumpur yang meluncur ke bawah sehingga mengakibatkan kerusakan lebih besar lagi.

Apalagi kondisi gunung tersebut dibabat tidak ada lagi pohon yang akan menyerap air membuat laju air dari atas semakin deras dari sebelumnya. “Ini sangat menakutkan kami petani yang hanya menyandarkan hidup pada lahan pertanian ini saja, kalau lahan ini rusak maka kami tidak tau kemana dan cara apa untuk mencari nafkah,” keluhnya.

Jika masalah air hujan yang menggenangi sawahnya Masairang menganggapnya hal yang sudah biasa. Sebab air hujan itu tanpa lumpur. Dan baru kali ini ada air hujan bonus lumpur yang menggenangi sawahnya. “Hanya satu permintaan kami, perusahaan itu harus tutup,” tegasnya.

Sukri—petani lainnya juga merasakan dampak dari keberadaan tambang tersebut. Ia mengaku kaget dan resah melihat air beserta lumpur turun dari gunung tempat beroperasinya tambang tersebut yang langsung masuk ke lahan pertaniannya.

“Bukan hanya itu yang paling mengerikan ada pabrik gabah yang saya kelola berada tepat di bawah gunung tempat beroperasinya perusahaan tersebut, gunungnya curam sekali. Saya takut akan adanya longsor yang mengakibatkan pabrik saya terkena dampak, karena kayu yang berfungsi menahan air di atas gunung sudah dibabat sedikit demi sedikit, satu yang saya inginkan saat ini perusahaan itu harus ditutup,” cetusnya.

Sementara itu Humas Perusahaan Tambang Seloto, Hengki mengatakan untuk mengatasi masalah air hujan yang turun ke bawah, pihaknya sudah membuat iringasinya sesuai permintaan masyarakat. Apabila ada keluhan masyarakat terkait kejadian itu, pihaknya siap mencari solusinya.

“Misalnya kita akan buat irigasi yang lebih tinggi lagi agar airnya bisa langsung masuk ke Lebo sehingga tidak melebar ke sawah petani. Kami dari perusahaan akan kerjakan tapi tunggu struktur tanahnya kuat dahulu baru bisa dikerjakan,” pungkasnya. (HEN/SR)

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *