Gunakan Akun FB Palsu untuk Penipuan, Pemuda ini Dicokok Polisi

oleh -22 views

MATARAM, samawarea.com (16/4/2020)

IBG (25) diringkus Tim Subdit V Siber Ditkrimsus Polda NTB, Selasa (14/4) kemarin. Penangkapan ini dilakukan karena pemuda berumur 25 tahun dan tinggal di Cakranegara Kota Mataram itu melakukan tindak pidana UU ITE. Dia membuat akun facebook palsu dan juga menggunakan akun facebook orang lain untuk melakukan penipuan.

DPRD

Kabid Humas Polda NTB, Kombes Pol Artanto SIK., M.Si dalam keterangan persnya, Kamis (16/4) menuturkan kronologis kejadian. Sekitar Mei 2019 lalu IBG membuat akun facebook yang mengatasnamakan korban Ida Bagus Putu Buana bernama akun facebook Idadir Putu Buana dengan profil foto korban. Tujuannya agar orang atau netizen percaya kalau akun tersebut adalah milik korban. Dengan akun inilah pelaku melakukan penipuan dengan cara mengirimkan pesan melalui inbox kepada teman-teman korban, berpura-pura meminjam uang sebesar Rp. 1.000.000 dengan alasan untuk keperluan keluarga. Dan meminta kepada sasarannya untuk mentransfer uang ke rekening BRI 00521111123504 atas nama pelaku IBG. Selain itu pelaku juga membuat 2 akun FB mengatasnamakan I Gede Sudiarta dengan nama facebook I Gede Sudiarta dan mengatasnamakan saudara I Gusti Bagus Ari Sudana Putra dengan nama facebook Gus Ari Lombok. Modusnya sama, melakukan penipuan terhadap teman-teman korban. Dari aksinya ini ada beberapa orang yang tertipu dan pernah mengirim uang sebesar Rp 700 ribu dan Rp 1 juta. Hasil penipuannya ini digunakan untuk judi sabung ayam online.

Baca Juga  Lion Terbangkan 166 Keluarga Korban dari Pangkalpinang ke Jakarta 

Baca Juga: Tangkap Seorang Remaja Polisi Sita Paket Ganja 500 Gram

Terhadap perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 35 Jo Pasal 51 ayat (1) UU RI No. 19 Tahun 2016 perubahan atas UU RI No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang berbunyi “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan manipulasi, penciptaan, perubahan, penghilangan, pengrusakan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dengan tujuan agar Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik tersebut dianggap seolah-olah data yang otentik”. Ancaman pidananya, penjara paling lama 12 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 12 miliar. (SR)

DPRD DPRD