Penasaran, Hitcthhiker Indonesia Sambangi UTS

oleh -524 Dilihat

SUMBAWA BESAR, SR (25/01/2018)

Diliputi rasa penasaran  “Hitchhiker Indonesia mengunjungi Universitas Teknologi Sumbawa (UTS).  Hitcthhiker Indonesia yang bernama Ivan Oktabi ini adalah tamu dari Pekanbaru, Riau, yang juga penulis novel “Dua Sisi Harapan”. Rasa penasarannya untuk berkunjung ke universitas yang berada di kaki Bukit Olat Maras, Batu Alang, Kecamatan Moyo Hulu Kabupaten Sumbawa ini, bermula secara tak sengaja berkenalan dengan tiga mahasiswa UTS di Stasiun Banyuwangi, Tahun 2015 silam.  Kebetulan saat itu ketiga mahasiswa tersebut sedang melakukan backpacking. Bang Ivan—demikian pria itu disapa, mengaku heran karena tiga mahasiswa tersebut berasal dari Bogor dan Bekasi namun memutuskan kuliah di Sumbawa, Indonesia bagian timur. Presepsi itu muncul ketika Bang Ivan mulai berfikir bahwa banyak tersebar kampus-kampus yang rata-rata berkualitas dengan fasilitasnya terbilang lebih maju dibanding kampus di Indonesia bagian timur. Tapi justru mereka lebih memilih untuk berkuliah di Sumbawa daerah yang belum pernah di dengarnya. Sejak saat itu Bang Ivan merasa yakin pasti ada sesuatu yang menyebabkan terjadinya transmigrasi para civitas akademika ini. Tidak hanya anak-anak muda lulusan SMA yang melakukan transmigrasi dengan tujuan menjadi mahasiswa di Sumbawa tetapi para pengajar bahkan Doktor terkenal Indonesiapun seperti Dr Arief Budi Witarto juga melakukan hal yang sama.

Beberapa tahun setelahnya, akhirnya Bang Ivan kembali melakukan perjalanan ke arah timur, Nusa Tenggara Barat. Kedatangan Bang Ivan ini tidak disia-siakan Ridho Fisabilillah—salah satu dari tiga  mahasiswa yang diceritakan Bang Ivan. Ridho yang saat ini menjabat anggota BEM Fakultas Ilmu Komunikasi langsung mengadakan Acara Talk Show dalam rangka menyambut kedatangan Bang Ivan di kampusnya. Talk Show bertema ”Jangan Takut Berkelana” ini telah dilaksanakan di Ruang Publik Kreatif (RPK) UTS, belum lama ini. Pemilihan tema dalam talk show ini disesuaikan dengan kondisi kampus UTS yang terbilang sangat banyak yang berasal dari luar daerah Sumbawa, namun tetap dibuka untuk umum. Ketua Panitia Pelaksana, Ridho Fisabilillah mengatakan, pemateri hadir ini sangat cocok untuk para mahasiswa rantau, karena pada kondisinya mereka harus beradaptasi dengan keadaan Sumbawa yang minim transportasi umum, sehingga dituntut untuk hitchhiking  (menumpang dengan kendaraan lain). Sedangkan tema ”Jangan Takut Berkelana” adalah tema yang bisa dipelajari oleh orang yang tidak merantau sekalipun, karena pada dasarnya makna dari berkelana tidak selalu diartikan dengan perjalanan, pelarian, atau hal lain yang berhubungan dengan perpindahan secara fisik dari satu tempat ke tempat lainnya. Berkelana bisa juga memiliki makna merubah pribadi dari sifat yang sebelumnya, entah itu menjadi baik atau buruk merupakan sebuah pilihan hidup. “Karena yang perlu diketahui adalah sebab akibat dari keputusan yang kita pilih. Tanpa “berkelana” seseorang tidak pernah belajar untuk berani menghadapi perjalanan hidup,” ucapnya.

Hena Titania Rizky Ananda salah satu audiens berpendapat acara talk show ini seperti mewakili perasaan mereka sebagai perantau yang harus menebeng  sana-sini untuk melakukan perjalanan dari asrama yang letaknya jauh dengan pusat Kota Sumbawa. Banyak yang diajarkan Bang Ivan seperti tips yang aman untuk melakukan perjalanan serta diberikan ilmu bagaimana memutar uang yang dimiliki ketika melakukan perjalanan jauh. Tidak hanya itu Bang Ivan juga mengajarkan bagaimana cara menulis pengalaman dari sebuah perjalanan. Di bagian lain Bang Ivan menegaskan bahwa melakukan perjalanan bukan untuk menemukan jati diri, karena sudah ada di dalam diri seseorang. Tapi perjalanan lebih tepatnya adalah bagaimana cara menerpa dan membentuk diri untuk belajar dan harus berprilaku sesuai dengan kondisi di suasana-suasana tertentu.

Bang Ivan dinilai sangat berbeda dengan traveler lainnya yang banyak menjamur sekarang ini. Bang Ivan ketika melakukan traveling tidak hanya sebatas jalan-jalan dan memotret pemandangan yang menarik, namun selalu menyempatkan diri untuk melakukan kegiatan-kegiatan sosial. Beberapa di antaranya adalah mengajar Bahasa Inggris untuk anak-anak jalanan di Laos. Kegiatan yang sama juga dilakukan di Kamboja, Vietnam, dan di tempat-tempat lainnya. Hal yang menarik dari Bang Ivan adalah semangatnya untuk menularkan hobi membaca serta menulis. Karena Bang Ivan sendiri merasa khawatir terkait kondisi Indonesia yang krisis akan generasi gemar membaca dan menulis.

Dalam sesi terakhir Bang Ivan memberikan kesan dan pesan selama berada di kampus UTS. Bang Ivan mengaku sangat senang bisa mengunjungi Kampus UTS, karena baru pertama kalinya melihat para mahasiswa melakukan hitchhiking  untuk pergi ke kampus atau bepergian dari kampus menuju kota. Dalam penilaiannya mahasiswa rantau UTS itu tahan banting dan cepat beradaptasi dengan lingkungan. “Saya tidak penasaran lagi. Dan saya sudah tahu jawabannya mengapa UTS bisa berkembang dengan pesat bahkan hingga ke Amerika, Jepang, dan penjuru negara lainnya,” aku Bang Ivan, seraya mengapresiasi semangat para civitas akademika yang berjuang melawan perspektif yang menganggap Indonesia Barat menjadi parameter kesuksesan pendidikan seseorang. Bang Ivan pun berjanji akan kembali melakukan perjalanan ke NTB sekaligus mengunjungi Ibu Angkatnya di Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat. (Ridho Fisabilillah)

nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *