Sumbawa Barat, Samawarea. Com ( 04/9/2026)
Dentuman sorak penonton pecah. Dua orang berhadapan di tengah arena. Tangan menjadi satu-satunya senjata. Tak ada tendangan, tak ada pelukan untuk menjatuhkan lawan. Yang terdengar hanya suara pukulan, sorakan dan tepuk tangan masyarakat yang memadati arena.
Itulah Barampok, salah satu adat dan tradisi masyarakat Sumbawa yang kembali menyedot perhatian. Bagi sebagian orang mungkin terlihat seperti pertandingan bela diri. Namun bagi masyarakat setempat, Barampok jauh lebih dari sekadar adu fisik. Ia adalah bagian dari kekayaan budaya yang diwariskan dan terus dijaga.
Keunikan tradisi tersebut bahkan menarik perhatian Hassan Alaydrus, Tim Unlock Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata, yang hadir langsung menyaksikan jalannya Barampok.
Hassan tampak menikmati setiap rangkaian pertandingan. Baginya, Barampok memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi salah satu atraksi wisata budaya yang mampu menarik perhatian wisatawan.
Menurutnya, hal paling menarik bukan hanya pertandingan di arena, tetapi juga antusiasme masyarakat yang begitu besar. Ribuan mata seolah tidak ingin kehilangan satu pun momen ketika dua peserta saling berhadapan dan menunjukkan keberaniannya.
“Adat istiadat Barampok ini sangat menarik sekali. Apalagi kita lihat antusiasme masyarakat sangat tinggi. Ini bisa menjadi daya tarik yang luar biasa,” ujarnya.
Namun, Hassan menilai masih ada sejumlah hal yang perlu dibenahi agar Barampok bisa dikemas lebih profesional tanpa menghilangkan nilai tradisinya.
“Tinggal diatur agar lebih rapi saja,” katanya.
Ia juga mendorong agar kegiatan budaya seperti Barampok tidak hanya berhenti sebagai tontonan masyarakat lokal. Menurutnya, tradisi tersebut harus diperkenalkan secara lebih luas melalui berbagai media dan platform promosi wisata.
“Kegiatan seperti ini harus diekspos secara masif agar masyarakat lokal, nasional bahkan internasional bisa melihat dan tertarik. Saya juga akan membantu mempromosikan kegiatan ini,” tegas Hassan.
Turis Asing Ikut Terpukau
Menariknya, Barampok tidak hanya memikat masyarakat lokal. Sejumlah wisatawan mancanegara yang kebetulan melintas juga terlihat berhenti dan menyaksikan pertandingan.
Salah satunya, Ryaian, wisatawan asing yang tampak serius memperhatikan jalannya Barampok. Sesekali ia bertepuk tangan mengikuti riuhnya penonton.
Dengan ekspresi penuh semangat, ia mengaku menyukai pertunjukan tradisional tersebut.
“Ya, saya suka acaranya. Nanti kalau ada lagi saya akan menonton,” ungkapnya singkat sambil kembali bertepuk tangan.
Pemandangan tersebut menjadi gambaran sederhana bahwa tradisi lokal sebenarnya memiliki bahasa universal. Tak perlu memahami seluruh aturan atau sejarahnya, energi, keberanian dan suasana yang tercipta di arena mampu membuat orang dari berbagai negara berhenti untuk menyaksikan.
Dari pantauan media ini juga, bukan hanya Ryaian yang terlihat menikmati Barampok. Sejumlah wisatawan mancanegara lainnya juga tampak hadir di sekitar arena dan menyaksikan pertandingan dengan penuh perhatian.
Fenomena itu sekaligus memperlihatkan bahwa Barampok memiliki peluang untuk menjadi bagian dari wisata berbasis budaya dan pengalaman. Ketika tradisi lokal dikemas secara baik, aman dan menarik, ia bukan hanya menjadi warisan bagi generasi penerus, tetapi juga dapat menjadi magnet bagi wisatawan.
Barampok akhirnya bukan sekadar tentang siapa yang paling kuat menerima pukulan atau siapa yang mampu bertahan paling lama. Di balik suara pukulan dan riuh tepuk tangan, ada identitas budaya yang sedang dipertontonkan kepada dunia.
Dan ketika wisatawan asing ikut berdiri, menonton, lalu bertepuk tangan, pesan yang muncul menjadi sederhana: tradisi lokal bisa menjadi daya tarik global, jika dirawat dan diperkenalkan dengan cara yang tepat.







