Jaga Warisan Budaya Sasak, Fauzan Khalid Siap Bina Grup Cilokak Alur Wah

oleh -119 Dilihat

LOMBOK TENGAH, samawarea.com (16 Oktober 2026) – Anggota DPR RI Fraksi NasDem, H. Fauzan Khalid, menunjukkan komitmennya dalam melestarikan kesenian tradisional khas Suku Sasak, Cilokak. Dalam kunjungan reses Persidangan I Tahun Sidang 2026–2027, Selasa (13/10/2026),

Fauzan bersilaturahmi dengan para seniman yang tergabung dalam Grup Cilokak Alur Wah di Desa Pandan Indah, Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah.

Dalam pertemuan tersebut, Fauzan menyampaikan apresiasi kepada para seniman lokal yang terus menjaga eksistensi kesenian tradisional di tengah perkembangan zaman. Ia menegaskan, pelestarian budaya daerah membutuhkan perhatian dan dukungan bersama, termasuk dari para wakil rakyat.

“Silaturahmi kepada para seniman lokal ini sebagai wujud apresiasi dan perhatian kami, khususnya Fraksi NasDem DPR RI kepada para seniman. Kami berkomitmen untuk terus mendukung dan bersama-sama ikut melestarikan Cilokak sebagai kesenian khas Sasak yang sangat berharga ini,” katanya.

Anggota Komisi II DPR RI dari Daerah Pemilihan NTB II Pulau Lombok itu menjelaskan, Cilokak merupakan kesenian musik tradisional masyarakat Sasak yang memiliki kekayaan nilai budaya dan pesan moral.

Menurut Fauzan, istilah Cilokak berkaitan dengan kata “seloka” dalam bahasa Sasak, yakni untaian syair atau puisi. Kesenian ini pada awalnya berkembang di wilayah Sakra, Kabupaten Lombok Timur, sebelum menyebar ke berbagai daerah di Pulau Lombok, termasuk Lombok Tengah.

Mantan Bupati Lombok Barat dua periode, 2016–2024, tersebut menerangkan bahwa syair-syair Cilokak umumnya memuat nasihat, petuah, doa, serta pesan kebijaksanaan yang berakar pada budaya masyarakat Sasak dan nilai-nilai Islam. Syair tersebut kerap disampaikan dalam bentuk *lelakaq* atau kayaq.

Dalam pertunjukannya, Cilokak memadukan beragam instrumen musik tradisional, seperti gambus, seruling, gendang, biola atau viul, mandolin, rerincik, dan jidur. Kesenian ini biasa ditampilkan sebagai hiburan dalam acara adat, perkawinan, khitanan, maupun berbagai perayaan daerah.

Fauzan menilai, Cilokak bukan sekadar hiburan, melainkan juga media penyampaian pesan moral sekaligus sarana menjaga identitas budaya masyarakat Sasak. Karena itu, pembinaan dan pelestarian kesenian tersebut perlu dilakukan secara berkelanjutan agar nilai-nilai luhur yang terkandung dalam syair-syairnya tidak hilang ditelan zaman.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Fauzan menyatakan kesediaannya menjadi pembina Grup Cilokak Alur Wah setelah menerima permintaan dari para seniman. Ia juga berupaya membuka peluang agar grup tersebut dapat tampil dalam berbagai kegiatan besar yang diselenggarakan di Pulau Lombok.

“Sekali lagi, karena ingin turut melestarikan budaya Sasak, maka saya pun berjanji siap menjadi pembina Grup Cilokak Alur Wah sesuai permintaan para seniman. Saya upayakan agar grup Cilokak bisa pentas pada ajang-ajang besar yang digelar di Lombok,” ujarnya.

Ketua Grup Cilokak Alur Wah, Sahdan, menyambut baik kesediaan Fauzan menjadi pembina. Ia menyampaikan terima kasih atas perhatian dan dukungan yang diberikan kepada kelompok seniman tersebut.

Sahdan juga mengapresiasi kunjungan Fauzan yang dinilai menjadi bentuk perhatian terhadap keberadaan seniman tradisional dan upaya menjaga kesenian khas Sasak agar tetap hidup serta dikenal oleh generasi mendatang.

Dukungan terhadap kelompok seni lokal diharapkan tidak hanya memperkuat keberlangsungan Cilokak, tetapi juga membuka ruang bagi para seniman untuk tampil lebih luas, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Sasak kepada masyarakat. (SR)

amman nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *