Sekda NTB: Wartawan Harus Punya “Rem”, Jangan Kejar Viralitas Semata

oleh -259 Dilihat

MATARAM, samawarea.com (12 September 2026) — Perkembangan teknologi informasi, artificial intelligence (AI), dan media sosial membuat dunia jurnalistik menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Di tengah arus informasi yang bergerak begitu cepat, wartawan dituntut tidak hanya mengedepankan kecepatan, tetapi juga akurasi, konteks dan etika.

Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi NTB, Abul Chair, saat menghadiri penutupan Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) serta Uji Kompetensi Wartawan (UKW) mandiri yang digelar PWI NTB di Mataram, 10-12 September 2026.

Abul Chair mengapresiasi langkah PWI NTB yang terus mendorong peningkatan kompetensi dan profesionalisme wartawan melalui pelaksanaan OKK dan UKW.

Menurutnya, kehadiran teknologi digital telah membuat siapa pun dapat memproduksi dan menyebarkan informasi dalam waktu singkat. Kondisi ini sekaligus menuntut wartawan untuk memiliki kemampuan lebih dalam memilah, memverifikasi dan menyajikan informasi kepada publik.

“Wartawan yang baik itu tidak hanya cepat mendapat berita, tapi juga harus mendapatkan fakta, tepat memahami konteks, dan bijak menyampaikan kepada publik,” tegas Abul Chair.

Ia mengingatkan wartawan agar tidak terjebak dalam pola kerja yang hanya mengejar kecepatan maupun viralitas. Sebab, kecepatan tanpa kontrol dapat berujung pada kesalahan informasi dan persoalan etika jurnalistik.

Abul Chair kemudian mengibaratkan wartawan sebagai pengemudi di jalan raya informasi.

Menurutnya, seorang pengemudi tidak cukup hanya memiliki kemampuan menginjak pedal gas, tetapi juga harus memiliki rem untuk mengendalikan kendaraan.

“Kalau hanya punya gas tapi tidak punya rem, tentu masalah juga. Maka etika jurnalistik itulah remnya,” ujarnya.

Karena itu, ia berharap pelaksanaan UKW tidak sekadar menjadi proses mendapatkan sertifikat kompetensi, tetapi benar-benar membentuk wartawan yang mampu menjalankan tugas secara profesional dan bertanggung jawab.

Demikian pula dengan OKK yang diharapkan dapat memperkuat pemahaman wartawan terhadap organisasi, profesi serta nilai-nilai kewartawanan.

“Dengan kompetensi dan etika, wartawan bisa menjadi bagian penting dalam memberikan informasi yang mencerdaskan masyarakat,” katanya.

Abul Chair juga menilai wartawan memiliki posisi strategis dalam mengawal pembangunan daerah. Karena itu, pers diharapkan tetap kritis, namun sekaligus mampu memberikan kontribusi konstruktif melalui pemberitaan yang berimbang dan berdasarkan fakta. (SR)

nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *