SUMBAWA BESAR, samawarea.com (6 September 2026) — Rencana relokasi Pasar Seketeng ke pasar induk di belakang Terminal Sumer Payung, sekaligus wacana pembangunan mall di eks lokasi Pasar Seketeng, masih menjadi pembahasan hangat di tengah masyarakat Sumbawa.
Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP., menegaskan bahwa pembangunan pasar induk dan wacana menjadikan eks lokasi Pasar Seketeng sebagai mall merupakan dua hal yang berbeda. Pasar induk merupakan rencana pembangunan untuk menjawab persoalan kondisi Pasar Seketeng yang saat ini dinilai sudah tidak layak, sedangkan mall masih sebatas wacana, ide, dan gagasan jangka panjang.
Bupati menjelaskan, saat dirinya berkunjung ke Pasar Seketeng bersama Wakil Gubernur, kondisi pasar terlihat sudah sangat padat dan kumuh. Selain itu, pasar tersebut tidak memiliki area parkir yang memadai sehingga diperlukan jalan keluar melalui penataan dan relokasi.
“Waktu kami berkunjung ke Pasar Seketeng bersama Wakil Gubernur, lokasinya sudah padat, kumuh, dan tidak ada lokasi parkir. Karena itu perlu kita cari jalan keluar,” kata Bupati.
Menurutnya, pasar induk direncanakan dibangun di kawasan Sumer Payung karena lahannya telah dibebaskan sekitar 8 hektare sejak belasan tahun lalu. Rencana pembangunan tersebut, bahkan telah diwacanakan oleh tiga bupati sebelumnya.
“Pasar induk ini rencananya kita bangun di Sumer Payung karena lahannya sudah dibebaskan sekitar 8 hektare sejak belasan tahun yang lalu. Rencana ini juga sudah ada sejak tiga bupati sebelumnya,” jelasnya.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah bagaimana memadukan keberadaan pusat perbelanjaan modern dengan pedagang tradisional. Termasuk pertanyaan apakah pedagang yang saat ini berjualan di Pasar Seketeng nantinya akan diarahkan berjualan di dalam mall.
Menjawab hal tersebut, Bupati menjelaskan bahwa konsep pasar tradisional dan mall akan memiliki segmen yang berbeda.
“Yang berdagang di mall pasti barang khusus, standar khusus dan konsumen berbeda dengan barang di pasar tradisional,” kata Bupati.
Ia mencontohkan, mall nantinya dapat diisi gerai seperti Matahari, sport center maupun berbagai jenis outlet lainnya. Sementara pedagang yang saat ini berjualan sebagai bakulan, pedagang ikan, sayur-mayur, kios maupun lapak di Pasar Seketeng akan dipindahkan ke pasar baru.
Menurutnya, pasar baru tersebut akan dibangun dengan kondisi yang lebih baik, lebih luas dan disesuaikan dengan jenis usaha para pedagang yang selama ini mereka geluti.
“Kalau ada yang mau berjualan di mall, juga bisa, jika berminat dan sanggup. Tapi berbeda waktunya,” jelasnya.
Bupati menegaskan, relokasi Pasar Seketeng akan dilakukan setelah pasar baru rampung dibangun. Setelah itu, pemerintah daerah baru akan membicarakan pemanfaatan eks lokasi Pasar Seketeng dengan pihak investor.
“Pasar baru rampung dulu dan kita lakukan pemindahan. Baru selanjutnya kita bicarakan dengan pihak investor untuk bangun mal dengan perjanjian waktu tertentu, seperti membangun jalan tol,” ujarnya.
Ia menegaskan, rencana menjadikan eks lokasi Pasar Seketeng sebagai mal saat ini masih sebatas wacana jangka panjang. Wacana tersebut muncul karena setelah pasar baru selesai dan para pedagang dipindahkan ke lokasi yang lebih representatif, kawasan Pasar Seketeng akan kosong dan dapat dipertimbangkan untuk fungsi baru.
“Kalau Pasar Seketeng pindah dan kosong, jangka panjang kita wacanakan. Sekali lagi, kita wacanakan untuk menjadi pasar modern atau mall,” tegasnya.
Menurut Bupati, wacana, ide, dan gagasan tidak harus selalu didahului oleh studi kelayakan atau visibility study. Studi tersebut baru akan dilakukan apabila pemerintah telah menemukan mitra investor dan masuk pada tahap pembahasan rencana pembangunan secara konkret.
“Tidak mungkin kita buat visibility study dulu baru kita membuat wacana, ide, atau gagasan. Kalau semua ide dan gagasan harus dibuat dengan melakukan visibility study lebih dulu, maka orang yang punya ide dan gagasan tidak akan pernah berani mengucapkannya,” ujarnya.
Ia menambahkan, ketika rencana tersebut telah memasuki tahap kerja sama dengan investor, tentu akan dilakukan kajian yang diperlukan, termasuk studi kelayakan.
“Pada saat nanti kita mencari mitra investor, pasti akan ada visibility study,” katanya.
Menurut Bupati, pola pembangunan dengan skema kerja sama seperti itu telah berjalan di sejumlah daerah.
Ia berharap kehadiran pusat perdagangan baru tersebut dapat membuka kesempatan usaha dan lapangan kerja baru bagi masyarakat. Selain itu, berbagai aktivitas pendukung seperti jasa parkir juga dinilai dapat menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Bupati juga menyampaikan bahwa pasar baru nantinya akan diintegrasikan dengan Terminal Sumer Payung. Revitalisasi terminal tersebut, katanya, telah mendapat persetujuan anggaran untuk dilaksanakan pada 2028.
Pasar baru juga akan dilengkapi lapangan parkir yang luas dan representatif serta lapak-lapak modern. Kawasan tersebut memiliki luas sekitar 8 hektare, jauh lebih luas dibandingkan Pasar Seketeng yang saat ini hanya sekitar 1 hektare.
“Pasar Seketeng lahannya hanya 1 hektare, sudah tidak layak lagi untuk dipertahankan. Kota jadi kumuh,” tegasnya.
Bupati menilai penataan kawasan perdagangan tersebut perlu dilakukan dengan mempertimbangkan potensi pertumbuhan ekonomi Sumbawa ke depan.
Ia menyebut sejumlah potensi industri yang akan berkembang, di antaranya industri unggas terintegrasi, industri garam, industri pertambangan serta sejumlah proyek strategis nasional. Termasuk upaya mendorong Proyek Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Samota yang disebut sedang digiring oleh Fahri Hamzah.
Berbagai potensi tersebut, menurutnya, diharapkan menjadi daya ungkit terhadap peningkatan daya beli masyarakat.
“Kita harapkan orang Sumbawa tersedia tempat belanja di Sumbawa, bukan menyeberang ke Lombok untuk mengeluarkan uang,” katanya.
Bupati menambahkan, dirinya saat ini juga tengah berupaya melobi pemerintah pusat melalui APBN untuk mendukung pembangunan pasar induk tersebut.
Ia berharap dukungan, doa serta gagasan konstruktif dari para tokoh dan intelektual Sumbawa dapat membantu pemerintah dalam mewujudkan penataan pusat perdagangan dan pembangunan ekonomi daerah.
“Saya mohon doa dan dukungan tokoh-tokoh dan intelektual Sumbawa untuk membantu atau memberi ide dan gagasan yang konstruktif membangun Sumbawa dengan niat ikhlas,” pintanya. (SR)






