Johan Rosihan: Potensi Lobster Indonesi Besar, Ekosistem Budidaya Belum Terbentuk

oleh -59 Dilihat

LOMBOK TIMUR, samawarea.com (6 September 2026) Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri budidaya lobster. Namun, potensi tersebut belum mampu dioptimalkan secara maksimal lantaran ekosistem budidaya yang kuat, terintegrasi, dan berkelanjutan belum terbentuk.

Hal itu disampaikan Anggota Komisi IV DPR RI, Johan Rosihan, saat mengikuti Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR RI ke Instalasi Telong-Elong Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis (3/9/2026).

Johan mengatakan, kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya Komisi IV DPR RI untuk memverifikasi langsung berbagai informasi dan aspirasi yang sebelumnya disampaikan asosiasi lobster maupun kalangan akademisi.

“Karena sehari sebelum ini kita sudah menerima asosiasi, bercerita banyak tentang lobster dari sisi keilmuannya, dari hasil penelitiannya. Hari ini kita mencoba menguji secara fakta,” ujar Johan.

Menurutnya, pengembangan budidaya lobster harus terlebih dahulu memastikan keberlangsungan usaha masyarakat. Keberhasilan budidaya tidak cukup hanya dilihat dari pencapaian target produksi, tetapi juga dari kemampuan pembudidaya untuk mempertahankan usahanya.

“Minimal apa yang sudah diusahakan oleh pembudidaya lobster kita itu bisa kembali modal, bisa berusaha, bisa terus bertahan dengan itu. Karena potensi usaha yang ada di lobster ini sudah luar biasa,” katanya.

Johan mengungkapkan, berdasarkan informasi yang diterima Komisi IV DPR RI dari asosiasi lobster, kemampuan teknologi budidaya Indonesia dinilai tidak kalah dibandingkan Vietnam. Selain itu, Indonesia juga memiliki sumber daya lobster yang sangat potensial untuk dikembangkan.

“Dari sisi teknologi kita tidak kalah dari Vietnam. Dari sisi potensi kita juga cukup banyak dari sini,” jelasnya.

Meski demikian, Johan menegaskan bahwa potensi sumber daya dan kemampuan teknologi saja belum cukup untuk membangun industri budidaya lobster yang kuat.

Diperlukan ekosistem budidaya yang terintegrasi, mulai dari teknologi, pembenihan, pembesaran, pakan, pembiayaan, hingga akses pasar. Ekosistem tersebut dinilai penting agar usaha budidaya dapat tumbuh secara berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat.

“Persoalannya adalah belum terciptanya satu ekosistem budidaya lobster kita,” pungkasnya. (SR)

nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *