๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐ก๐๐ ๐ค๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ข๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐ ๐๐โฏ๐๐๐๐๐ก๐๐๐
OlehโฏMuisโฏDebe
(Pegiat Jejaring Literasi ๐๐๐๐๐๐๐ต๐๐๐)
Sebagai bagian dari putra daerah yang mengenal hirukโpikuk dan warna rona wajahโwajah di kawasan itu, rasanya menjadi tergelitik dan tak bisa berdiam diri membaca tulisan Muhammad Nur Fietroh (MNF), yang dimuat ๐๐๐๐๐ค๐๐๐๐.๐๐๐ edisi Sabtu 19 September 2026.
Dalam tulisan itu, MNF mengemukakan hal yang sangat mendasar dan patut kita perhatikan bersama: bahwa Pasar Seketeng bukan sekadar sebidang tanah yang siap dibangun apa saja โ melainkan tempat yang sudah puluhan tahun hidup, menjadi pusat pertemuan dan perdagangan, serta memiliki nilai yang tak ternilai harganya.
Adalah suatu penalaran yang jernih jika tulisan tersebut memperingatkan kita: jangan hanya melihat bangunan yang akan didirikan, melainkan pahami dulu apa yang dibutuhkan masyarakat dan siapa yang sebenarnya akan datang ke sana.
Berangkat dari kesepahaman dengan pandangan itu, kiranya perlu dilanjutkan dan diperdalam dari apa yang telah kemukakan.
PasarโฏSeketeng bukanlah sebidang tanah kosong yang siap diratakan dan diubah sesuka hati siapa pun yang memegang rencana pembangunan. Selama puluhan tahun, Pasar Seketeng telah tumbuh menjadi semacam โkatup magnetโ โ tempat yang menarik orang dari segala penjuru: warga kota maupun penduduk desa dan dusun di sekitarnya, untuk datang berdagang, berbelanja, atau sekadar bertemu dan saling menyapa.
Lamaโkelamaan, di antara tawarโmenawar dan percakapan itu, terbentuklah ikatan pertemanan, kebiasaan hidup, tata nilai, serta kearifan lokal yang tumbuh dan hidup bersama masyarakat itu sendiri โ sesuatu yang tak bisa dibangun dalam sekejap oleh proyek apa pun. Hal inilah yang menjadi dasar peringatan yang dikemukakan MNF โ bahwa nilai yang sudah ada ini jauh lebih berharga daripada apa pun yang akan dibangun menggantikannya.
๐ฒ๐๐๐๐๐๐๐ ๐บ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐ฒ๐๐๐ ๐ฉ๐๐๐๐๐๐๐
Gagasan membangun mall sebagai pusat perbelanjaan modern di kawasan itu memang terdengar meyakinkan, tampak sebagai lambang kemajuan yang patut disambut gembira. Semacam upaya menata kembali, merevitalisasi kawasan yang sudah lama berdiri agar tak tertinggal zaman. Namun di balik penampilan yang tampak indah dan meyakinkan itu โ persis seperti yang dipertanyakan MNF โ ada hal yang belum terjawab dengan cukup jelas dan jujur: apakah pembangunan demikian sungguhโsungguh lahir dari kebutuhan nyata masyarakat Sumbawa โ atau sekadar keinginan untuk ikut arus penampilan luar yang disebut modernisasi, tanpa sempat berhenti bertanya apakah hal itu benarโbenar cocok dengan keadaan, kebutuhan, dan watak kita sendiri?
๐ฒ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐ฑ๐๐๐๐๐ ๐ซ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
Dan di sini perlu ditambahkan lagi hal-hal yang belum banyak dibicarakan, namun sangat erat hubungannya dengan apa yang MNF kemukakan: yang paling dikhawatirkan dan patut kita renungkan bersama adalah risiko terjadinya โkesenjangan budayaโ.
Jika kita terburuโburu mencabut dan mengganti tatanan lama yang sudah berakar kuat di hati masyarakat, sementara tatanan baru belum sempat tumbuh berakar, belum memberi makna, belum terasa bermanfaat bagi kehidupan sehariโhari โ maka yang terjadi bukanlah kemajuan, melainkan kehilangan yang menyakitkan.
Nilaiโnilai lama terlanjur hilang dicabut, sedangkan yang baru belum dipahami dan belum dirasakan โ sehingga masyarakat menjadi doyong dan terhuyungโhuyung, tak berpegangan, hanya sekadar meniru bentuk luar yang tampak megah tanpa jiwa, tanpa akar, tanpa jati diri yang sejati.
๐ซ๐๐ ๐ฑ๐๐๐๐ ๐ด๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ฒ๐๐๐๐๐๐๐
Pada akhirnya, ada dua jalan yang sungguhโsungguh berbeda dalam membangun kemajuan suatu kota dan masyarakat โ hal yang juga menjadi inti pemikiran yang dikemukakan MNF: satu jalan yang bertumbuh secara alami โ dimulai dari kebutuhan yang nyata di tengah masyarakat, berkembang perlahan dan bertahap, seiring berjalannya waktu dan tumbuh dalam kehidupan sendiri.
Jalan yang lain adalah jalan rekayasa โ dimana semua fasilitas dan ikon modernitas dibangun terlebih dahulu meniru apa yang dilihat di tempat lain, lalu baru berusaha mencari, mengajak, bahkan memancing masyarakat untuk datang memakainya.
Dan di sinilah pertanyaan terbesar yang MNF kemukakan โ dan patut kita jawab dengan jujur: manakah dari kedua jalan ini yang sungguhโsungguh akan menjaga jati diri kita, serta menguatkan โ bukan merusak โ ikatan budaya dan kemanusiaan yang telah tumbuh dan hidup di antara kita selama ini? Barangkali kita perlu ๐ ๐๐ค๐ ๐ ๐๐๐ก๐๐ ๐๐๐๐๐โฏ๐๐๐๐ก๐๐๐. Bisa jadi jawabannya ada di rembulan.***
____________
Catatan kaki:
*.โฏSantek: material atap tradisional yang terbuat dari bambu yang dibelah.
1.โฏ๐๐๐ค๐โฏ๐ ๐๐๐ก๐๐โฏ๐๐๐๐๐โฏ๐๐๐๐ก๐๐๐: ungkapan lama Sumbawa
soweโฏ=โฏsibak/singkap; santekโฏ=โฏatap (bilah bambu);
bongaโฏ= tengadah/ mendongak ; bintangโฏ=โฏbintang.
Artinya:โฏsibak/ singkaplah atap (bilah bambu) tengadah/ mendongaklah menatap bintang (di angkasa).






