Oleh: Rusli Cahyadi
Peneliti Senior Pusat Riset Kependudukan dan Staf Pengajar Departemen Antropologi UI
Tulisan ini terinspirasi dari obituari indah karya Boeng Soerjo tentang Tosen yang beredar di media sosial. Pada bagian pembuka, saya bahkan mengutip langsung sebagian penggambarannya. Sebagian besar keharuan dalam tulisan ini sesungguhnya merupakan pinjaman dari kepekaan beliau menangkap sosok Tosen. Saya hanya menambahkan lapisan analisis dan, barangkali yang lebih penting, kejujuran bahwa saya tidak pernah sedekat itu dengan almarhum.
Sabtu, 1 Agustus 2026, dua orang meninggal dunia di dua ujung Indonesia yang berjauhan, bukan hanya secara geografis, tetapi juga dalam posisi sosial yang mereka tempati.
Di Sumbawa Besar, seorang lelaki tua bernama Tosen berpulang. Selama lebih dari lima puluh tahun ia menjajakan es keliling dengan dua termos di pundaknya, ditemani bunyi lonceng dari kayu kecubung yang menjadi penanda sore bagi banyak anak.
Di Yogyakarta, wafat Nasirun, maestro seni rupa Indonesia, pelukis yang karya-karyanya menghiasi galeri-galeri besar dan pernah ludes terjual hanya dalam hitungan jam hingga dijuluki “Seniman Gorengan”.
Yang menarik bukanlah kematian mereka. Kematian, betapapun menyedihkannya, adalah peristiwa paling demokratis di dunia. Semua orang pada akhirnya akan mendapat giliran.
Yang menarik adalah apa yang terjadi sesudahnya.
Linimasa dipenuhi orang-orang yang merasa perlu mengatakan sesuatu. Mengenang. Mengucapkan terima kasih. Membagikan cerita. Dan saya, terus terang, termasuk orang yang agak canggung berdiri di kerumunan itu—setidaknya untuk Tosen.
Pengakuan Dosa Seorang Anak Labuhan
Begini.
Saya tahu Tosen. Hampir semua orang Sumbawa Besar tahu Tosen.
Tetapi “tahu” dan “akrab” adalah dua hal yang berbeda.
Saya berada di kubu yang pertama. Saya bukan tipe anak yang rajin jajan. Uang saku semasa kecil lebih sering tidak ada daripada berpindah ke tutup termos berisi es seharga recehan. Kalaupun boleh mencari pembelaan, rute tetap Tosen tampaknya juga tidak terlalu sering melewati Labuhan. Kombinasi antara anak yang jarang jajan dan rumah yang agak berada di luar jalur ekspedisi hariannya membuat hubungan kami lebih menyerupai dua orang yang saling mengenal dari kejauhan daripada penjual dan pelanggan setia.
Maka ketika kabar duka itu datang dan linimasa mendadak dipenuhi kenangan tentang bunyi lonceng serta rasa es yang “tak tergantikan”, saya berdiri agak kikuk di pinggir kerumunan.
Saya ikut sedih.Tetapi kesedihan saya adalah kesedihan yang berbeda.
Saya sedih karena melihat banyak orang kehilangan sesuatu yang begitu berarti bagi mereka. Bukan karena saya kehilangan rutinitas pribadi bersama Tosen.
Rasanya seperti datang melayat ke rumah tetangga yang tidak terlalu dekat. Kita mungkin tidak punya banyak kenangan bersamanya, tetapi tetap datang karena tahu ada sesuatu yang patut dihormati.
Justru dari posisi yang agak di pinggir itulah saya merasa bisa melihat sesuatu dengan lebih jernih.
Karena saya tidak berada di tengah gelombang nostalgia yang paling deras, saya justru terdorong bertanya: mengapa gelombang ini begitu besar? Mengapa ia bahkan menjangkau orang seperti saya, yang hubungannya dengan almarhum nyaris hanya sebatas saling mengenal wajah?
Dua Jenis Kehilangan yang Ternyata Mirip
Nasirun dan Tosen hidup dalam dunia yang sangat berbeda.
Yang satu adalah figur publik dengan karya yang dipamerkan, dikoleksi, dan diperjualbelikan. Yang lain adalah figur lokal yang “dimiliki” sebuah kota, bahkan mungkin hanya oleh generasi dan rute tertentu di kota itu.
Namun jika membaca unggahan tentang keduanya, nada emosinya hampir sama.
Orang tidak menulis dengan bahasa formal seperti membaca berita duka. Mereka menulis seolah kehilangan seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidup mereka: seorang guru, teman lama, atau sepotong masa kecil.
Di sinilah menariknya.
Kesedihan kolektif ternyata tidak selalu membutuhkan kedekatan pribadi.
Yang diperlukan hanyalah satu hal: seseorang pernah menjadi bagian dari ritme kehidupan kita, sekecil apa pun perannya.
Nasirun hadir melalui karya dan gagasan hidupnya.
Tosen hadir melalui bunyi lonceng yang setiap sore memberi tahu anak-anak Sumbawa Besar bahwa waktunya membeli es.
Dalam studi media dikenal istilah parasocial relationship—hubungan emosional satu arah terhadap figur publik yang sebenarnya tidak mengenal kita.
Namun Tosen berbeda. Ia bukan tokoh besar. Ia adalah apa yang bisa disebut sebagai tokoh latar.
Mereka adalah orang-orang yang selalu hadir di pinggiran kehidupan sebuah kota: penjaga kantin sekolah, tukang sayur langganan, satpam kompleks, penjual koran, penjual es keliling.
Mereka nyaris tak pernah menjadi pusat perhatian.
Sampai suatu hari mereka tidak ada lagi.
Barulah kita menyadari betapa besar ruang yang selama ini mereka isi, justru karena mereka hadir begitu konsisten tanpa pernah meminta untuk diperhatikan.
Menariknya, ruang itu ternyata cukup luas.
Ia bahkan menampung orang-orang seperti saya, yang bukan penghuni tetapnya.
Linimasa sebagai Ruang Berkabung Baru
Dulu, berduka adalah urusan tubuh.
Orang datang melayat, bersalaman, duduk bersama keluarga yang ditinggalkan.
Kini ruang berkabung memiliki cabang baru: media sosial.
Orang menulis status panjang bukan hanya untuk memberi tahu bahwa seseorang telah wafat, tetapi juga untuk memproses perasaannya sendiri di ruang publik dan menemukan orang lain yang merasakan hal serupa. Sering kali itu berhasil.
Satu tulisan yang menyentuh—seperti obituari Boeng Soerjo tentang gagang kayu kecubung yang menghitam karena puluhan tahun digenggam—memantul dari satu akun ke akun lain. Orang-orang lalu menambahkan cerita mereka sendiri. Sebagian memiliki kenangan yang sangat jelas. Sebagian lagi, seperti saya, hanya memiliki rasa kehilangan yang samar.
Linimasa pun berubah menjadi ruang tunggu yang sangat besar. Tempat orang-orang, baik yang akrab maupun yang hanya mengenal dari kejauhan, berhenti sejenak untuk mengatakan bahwa seseorang pernah berarti bagi kehidupan mereka.
Kenapa yang Sederhana Justru Paling Menyentuh
Ada benang merah yang menghubungkan Tosen dan Nasirun.
Keduanya dikenang bukan terutama karena pencapaiannya, melainkan karena kesederhanaan cara mereka menjalani hidup.
Nasirun memiliki aset bernilai miliaran rupiah, tetapi tidak memiliki telepon genggam dan tidak bisa mengemudi sendiri. Ia berkali-kali mengatakan bahwa dirinya tidak pernah bercita-cita menjadi terkenal atau kaya.
Sementara itu, Tosen menyimpan kebanggaannya pada sepotong gagang kayu lonceng yang menghitam karena puluhan tahun digenggam.
Di tengah budaya digital yang sering dituduh mendorong orang untuk terus memamerkan diri, ada kelegaan kolektif ketika masyarakat menemukan sosok yang tidak pernah ikut perlombaan itu.
Mereka tetap dikenang, justru karena tidak pernah berusaha menjadi pusat perhatian.
Berduka untuk orang-orang seperti ini, sedikit banyak juga menjadi cara kita menegaskan nilai yang mulai terasa langka.
Bahwa hidup yang utuh tidak selalu diukur dari besarnya harta, luasnya pengaruh, atau banyaknya pengikut, melainkan dari kesetiaan seseorang menjalani jalan hidupnya sendiri.
Nilai itu rupanya cukup universal hingga bisa menyentuh orang seperti saya yang, izinkan saya mengulanginya untuk terakhir kali, memang jarang jajan.
Jadi, Apakah Ini Sekadar Tren?
Mudah sekali bersikap sinis. Menganggap semua unggahan duka hanyalah ikut-ikutan, mencari validasi, atau kesedihan massal yang akan hilang begitu topik baru muncul.
Sebagian anggapan itu mungkin ada benarnya.
Saya sendiri bisa menjadi contohnya. Saya tidak akrab dengan Tosen, tetapi tetap ikut menulis dan ikut merasa kehilangan.
Namun menyamakan seluruh ekspresi duka di media sosial dengan kedangkalan juga terlalu tergesa-gesa.
Ramainya linimasa ketika Tosen dan Nasirun wafat menunjukkan bahwa di tengah hiruk-pikuk dunia digital, masyarakat kita masih memiliki ruang untuk berhenti sejenak dan mengakui satu hal sederhana:
Ada orang-orang yang, dengan cara yang nyaris tak kita sadari, telah ikut membentuk sebagian dari siapa diri kita. Kini mereka telah tiada.
Dulu pengakuan seperti itu cukup disimpan dalam hati atau dibicarakan di meja makan.
Hari ini, pengakuan itu ditulis, dibagikan, lalu dibaca oleh orang-orang yang bahkan tidak saling mengenal.
Termasuk oleh seorang anak Labuhan yang jarang membeli es, tetapi tetap merasa perlu berdiri sebentar di pinggir kerumunan, ikut menundukkan kepala, dan mengucapkan:
Selamat jalan, Tosen.






