Oleh: Zainuddin (Wartawan Samawarea)
SUMBAWA BESAR, samawarea.com (28 Agustus 2026) — Suara cangkang kemiri yang pecah terdengar bersahut-sahutan dari sebuah rumah di Ropang. Tangan-tangan perempuan bergerak dengan ritme hampir sama. Kemiri dipecahkan, bijinya dipisahkan, lalu dikumpulkan untuk dijual.
Tidak ada mesin besar atau ruang produksi dengan papan nama perusahaan. Hanya sekelompok ibu-ibu yang bekerja sambil berbincang tentang kehidupan sehari-hari. Namun, dari tempat sederhana seperti itulah denyut ekonomi Ropang bergerak.
Kemiri telah lama menjadi bagian kehidupan masyarakat Kecamatan Ropang, Kabupaten Sumbawa. Ia dipanen ketika padi selesai dan menjadi pemasukan saat masyarakat menunggu musim tanam berikutnya. Dalam banyak keluarga, hasil kemiri ikut membiayai kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak.
Kini, cerita tentang kemiri Ropang mulai berubah. Komoditas ini tidak lagi hanya dipandang sebagai hasil kebun yang dijual dalam bentuk gelondongan, tetapi mulai dilihat sebagai sumber nilai tambah, bahan baku industri, sumber energi alternatif, sekaligus bagian dari upaya menjaga hutan.
Di tengah perubahan itu, muncul nama PT Sumbawa Jutaraya (SJR), perusahaan pertambangan emas yang beroperasi di Blok Pangulir, Kecamatan Ropang, Kabupaten Sumbawa, dan menjadi bagian dari ekosistem bisnis United Tractors (UT). UT mencatat SJR sebagai bagian dari bisnis pertambangan emasnya setelah melakukan diversifikasi ke sektor tersebut pada 2015.
Karena itu, ketika SJR berbicara tentang pemberdayaan masyarakat, pertanyaannya bukan sekadar apa yang dapat diberikan perusahaan kepada masyarakat, melainkan apa yang dapat dibangun bersama.
Ropang Punya Lebih dari Satu Potensi
Selama bertahun-tahun, Ropang dikenal sebagai wilayah pertanian dan perbukitan yang relatif jauh dari pusat Kabupaten Sumbawa. Namun, potensi lain mulai terlihat: hutan, lahan pertanian, kopi, dan kemiri.
Masyarakat tetap membutuhkan sawah, kebun, hutan, sumber air, serta sumber penghasilan yang dapat bertahan setelah satu musim panen berakhir. Karena itu, pembangunan masyarakat tidak cukup hanya berorientasi pada bantuan sesaat. Yang dibutuhkan adalah ekosistem ekonomi berkelanjutan.
Kemiri menjadi salah satu pintu masuknya. SJR kemudian melihat langsung jaringan perdagangan kemiri di Lombok. Muncul fakta bahwa kemiri dari Pulau Sumbawa ternyata telah masuk jalur perdagangan ekspor, sementara asal-usul dan potensi produksinya belum seluruhnya terpetakan.
Menurut Gatot Arie Setyanto, CSR Department Head PT SJR, keterlibatan perusahaan dalam pengembangan kemiri Ropang dan Lantung semakin kuat setelah kolaborasi dengan Universitas Teknologi Sumbawa (UTS). Fakta bahwa tanaman di sekitar wilayah operasi ternyata memiliki pasar hingga mancanegara menjadi semacam alarm bagi SJR.
Pemetaan potensi kemiri Ropang dan Lantung pun dilakukan bersama. Hasilnya menunjukkan produksi masyarakat masih signifikan dan lahan pengembangan masih terbuka luas.
Dari Ribuan Bibit hingga 6.700 Pohon
SJR kemudian menyiapkan ribuan bibit kemiri. Dalam rangkaian Pariri Miri Fest 2025 yang digagas UTS di Desa Lawin, masyarakat bersama SJR dan mitra menanam lebih dari 6.700 pohon kemiri.
Penanaman itu tidak sekadar seremoni, tetapi ditempatkan sebagai bagian dari pendekatan agroforestri, yakni mempertemukan kepentingan ekonomi masyarakat dengan kepentingan ekologis.
Pohon ditanam, masyarakat mendapatkan manfaat, hutan dijaga, lahan tetap produktif, dan ekonomi tumbuh tanpa mengorbankan lingkungan.
Namun, menanam pohon saja tidak cukup. Pohon membutuhkan waktu untuk tumbuh, sementara petani membutuhkan pemasukan hari ini. Karena itu, kemiri harus memiliki nilai ekonomi. Buahnya dapat dipanen, bijinya dijual dan diolah, minyaknya diproduksi, sementara cangkangnya dapat menjadi bahan baku briket.
Muhammad Iqbal, Wakil Rektor IV UTS Bidang Kerja Sama, menyebut pengembangan kemiri memiliki lima pilar: ekologi, ekonomi, energi, teknologi, dan restorasi peradaban.
Kemiri menjaga hutan, mata air, dan kualitas lingkungan. Tingginya permintaan dunia membuka peluang ekonomi. Kulit kemiri bahkan diminati Belanda untuk dikembangkan menjadi carbon briquette. Tim UTS juga meneliti briket kemiri sebagai energi alternatif pengganti LPG.
Dari sisi teknologi, pengolahan diarahkan mencapai 3K: kuantitas, kualitas, dan kontinuitas. Sedangkan restorasi peradaban menempatkan kemiri sebagai bagian dari ekonomi hijau dan industrialisasi desa.
Dari CSR Menuju Shared Value
Dalam kerangka tersebut, SJR bersama UTS dan mitra lainnya tidak menggantikan petani atau mengambil alih ekonomi desa. Perannya adalah membantu menciptakan ekosistem agar potensi masyarakat berkembang menjadi kekuatan ekonomi baru.
Pendekatan ini membuka peluang pergeseran dari sekadar corporate social responsibility (CSR) menuju shared value, ketika perusahaan, masyarakat, pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, pasar, dan lingkungan sama-sama memperoleh manfaat.
UTS menjadi jembatan antara pengetahuan dan praktik. SJR memiliki kapasitas korporasi, petani memiliki pengalaman lapangan, pemerintah memiliki kewenangan kebijakan, pelaku usaha memiliki jaringan pasar, sementara UTS membawa pengetahuan dan teknologi.
Melalui Program Kosabangsa di Desa Ropang, UTS mengembangkan pemberdayaan dan keberlanjutan program kemiri. Program tersebut meraih Juara I kategori Produk Kosabangsa Terbaik dan Juara II kategori Dampak Pemberdayaan dan Keberlanjutan Masyarakat Terbaik Tahun 2026.
Ketua Tim Program Kosabangsa UTS, Emsal Yanuar, S.Si., M.Si., menyebut penghargaan tersebut merupakan hasil kerja sama tim, perguruan tinggi mitra, institusi, pemerintah desa, dan masyarakat.
Dari Pohon Penyelamat Menjadi Produk Bernilai Tambah
Bagi warga Ropang, kemiri adalah “pohon penyelamat”. Saat paceklik tiba dan musim tanam berikutnya belum dimulai, kemiri masih memberikan pemasukan. Hasilnya membantu memenuhi kebutuhan keluarga dan biaya pendidikan anak.
Kemiri juga disebut pohon kehidupan karena akar dan tutupannya membantu menjaga tanah, kawasan tetap hijau, dan sumber air. Namun, selama bertahun-tahun, sebagian besar kemiri dijual dalam bentuk gelondongan sehingga nilai tambahnya keluar dari desa.
Menurut Nova Adithiya Ananda, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UTS, kondisi tersebut mulai diubah melalui pengembangan produk turunan bersama UTS dan SJR.
Biji kemiri kupas dikembangkan dengan nilai sekitar Rp 50–60 ribu per kilogram. Biji pecah dapat diolah menjadi minyak kemiri sekitar Rp 30 ribu per botol. Cangkang yang sebelumnya dianggap limbah dimanfaatkan menjadi briket energi terbarukan sekitar Rp 15 ribu per kilogram. Abu sisa pembakaran bahkan dapat dikembalikan ke tanah sebagai bagian dari pupuk.
“Yang kita beli dari kemiri bukanlah sekadar biji, minyak, atau briket. Yang kita bayar adalah nilai: hutan yang tetap hidup, air yang terus mengalir, dan masa depan anak-anak yang terus belajar,” kata Adit.
Kemiri akhirnya menjadi simbol bahwa ekonomi dan ekologi dapat berjalan bersama.
Dari Ropang Menembus Pasar Ekspor
Peluang tersebut menemukan pintu lain melalui pasar internasional. Lebih dari 10 ton kemiri asal Kecamatan Ropang pernah dikirim menuju Pancor Dau, Batukliang, Lombok Tengah, kepada PT Mujnah Kemiri Lombok, perusahaan eksportir yang menyalurkan kemiri ke Arab Saudi dan Jepang.
Pengiriman perdana itu menjadi bagian kerja sama antara petani dan pengusaha kemiri Sumbawa yang tergabung dalam PT Sumbawa Datu Semaning (SDS) dengan PT Mujnah Kemiri Lombok.
Buyer Jepang disebut telah memesan 5 ton per minggu dari Ropang, sementara buyer Arab Saudi meminta 22 ton per bulan mulai November. Buyer India juga menunjukkan minat.
Namun, permintaan besar membuka tantangan baru: kapasitas produksi, alat produksi, kestabilan bahan baku, dan tenaga kerja masih terbatas. Diperlukan pos-pos produksi baru di Sumbawa dalam satu sistem usaha terintegrasi agar pengiriman ekspor dapat dilakukan langsung dari Sumbawa.
Hilirisasi Membutuhkan Kebijakan
Pengembangan kemiri juga mendapat perhatian pemerintah dan lembaga terkait. Program dirancang mencakup pembukaan lahan, perbaikan jalan dan irigasi, serta konservasi melalui reboisasi.
Anggota DPRD Sumbawa asal Ropang, Juliansyah, SE, menilai masuknya kemiri Ropang ke pasar ekspor merupakan tonggak penting. Menurutnya, hilirisasi seperti minyak kemiri dan briket tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja dan dapat membantu menjaga hutan.
“Pendekatan seperti ini yang kita harapkan. Bukan hanya melarang, tetapi memberikan solusi konkret bagi masyarakat,” tegasnya.
Pemerintah daerah juga didorong memperkuat kebijakan, pembinaan, akses modal, pelatihan, pasar, serta pendidikan generasi muda.
Pengembangan kemiri kemudian bertemu dengan agenda Sumbawa Hijau Lestari. Pemerintah Kabupaten Sumbawa mengajukan pengembangan sekitar 240 hektare lahan kemiri di tujuh kecamatan dengan anggaran sekitar Rp3,6 miliar. Untuk Ropang, diusulkan sekitar 75 hektare.
Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., menegaskan program tersebut merupakan komitmen menghijaukan kembali wilayah yang mengalami degradasi lingkungan.
Pasar Ada, Legalitas Jadi Tantangan
Jalan menuju sentra kemiri ekspor tidak hanya soal menanam. Pasar membutuhkan pasokan dan kualitas, ekspor membutuhkan legalitas, sedangkan produksi membutuhkan kelembagaan.
Kepala KPH Batu Lanteh, Dindin Saifuddin, menyebut pihaknya membina kelompok sosial pengelola sekitar 1.500 hektare lahan kemiri dengan potensi panen 200–500 ton per tahun.
Sementara Muhammad Azairin dari KPH Ropang menjelaskan pengembangan kemiri telah dilakukan sejak 2017. KPH Ropang bahkan pernah memberikan alat pemecah kemiri dan freezer pada 2019. Puluhan ribu bibit juga telah ditanam melalui dana DAK.
Persoalan muncul karena sebagian wilayah tanam berada di kawasan hutan lindung. Karena itu, status lahan dan legalitas pemanfaatan hasil hutan harus jelas. Menurut Azairin, perlu wadah seperti Hutan Kemasyarakatan (HKm) atau Hutan Desa agar kegiatan tanam dan panen memiliki dasar pengelolaan yang jelas.
“Jika tidak, maka hasil panen masyarakat tidak bisa diserap untuk pasar ekspor karena dianggap ilegal,” tegasnya.
Jalan Panjang Menuju Sentra Kemiri
Ropang memiliki modal kuat: pohon tersedia, petani ada, pasar mulai terbuka, perguruan tinggi hadir, pemerintah memberi dukungan, dan sektor swasta mulai masuk.
Namun, jalan menuju sentra kemiri masih panjang. Pasar ekspor membutuhkan kuantitas dan kualitas. Pengiriman membutuhkan infrastruktur. Produksi membutuhkan alat. Petani membutuhkan kepastian harga. Industri membutuhkan bahan baku kontinu. Kawasan hutan membutuhkan tata kelola dan legalitas.
Tidak satu pun persoalan itu dapat diselesaikan satu pihak. SJR dapat memperkuat kapasitas dan akses, perguruan tinggi mengembangkan teknologi, pemerintah memperkuat kebijakan dan infrastruktur, petani menjaga produksi, pelaku usaha membangun pasar, dan masyarakat menjaga lingkungan.
Di sinilah kemiri menjadi lebih dari sekadar tanaman. Ia menjadi jembatan antara perusahaan dan masyarakat, ekonomi dan ekologi, kampus dan petani, produksi desa dan pasar dunia.
Pada akhirnya, semua pembicaraan tentang investasi, ekspor, hilirisasi, agroforestri, ekonomi hijau, teknologi, dan pasar internasional kembali kepada pemandangan sederhana di Ropang: tangan perempuan yang memecahkan kemiri.
Mereka mungkin tidak pernah membayangkan kemiri yang dikupas akan dibicarakan dalam forum ekspor atau menjadi bagian dari agenda ekonomi hijau. Namun perubahan sedang bergerak ke arah sana.
SJR bersama UTS, pemerintah, petani, pelaku usaha, dan masyarakat sedang membangun jalan agar kemiri tidak lagi keluar dari desa hanya sebagai bahan mentah. Agar nilai tambah tinggal di desa, pekerjaan tumbuh, pendapatan meningkat, hutan tetap berdiri, dan anak-anak Ropang memiliki masa depan tanpa harus meninggalkan kampung halaman.
Sebab kekuatan terbesar Ropang bukan hanya emas yang tersimpan di dalam bumi. Ada kekayaan lain yang tumbuh di atas tanah: pohon-pohon kemiri dan manusia yang selama ini menjaganya.
Kini tantangannya adalah memastikan seluruh kekuatan itu bertemu dalam satu arah: perusahaan tumbuh, masyarakat sejahtera, dan lingkungan tetap lestari.
Jika berhasil, keterlibatan SJR di Ropang tidak lagi sekadar cerita tentang program perusahaan, tetapi menjadi cerita tentang bagaimana kapasitas korporasi diterjemahkan menjadi manfaat nyata di tingkat desa.
Dari tambang datang pengalaman. Dari kampus datang pengetahuan. Dari pemerintah lahir kebijakan. Dari pelaku usaha terbuka pasar. Dari masyarakat hadir kerja dan pengetahuan lokal. Dan dari pohon kemiri, semuanya menemukan titik temu.
Ropang mungkin sedang menanam kemiri hari ini. Tetapi yang sesungguhnya sedang ditanam adalah sebuah model masa depan: ekonomi yang tumbuh bersama masyarakat, tanpa harus mengorbankan hutan tempat mereka menggantungkan kehidupan. (*)






