KKL UNSA Kelompok 14 Bangun Kesadaran Warga Tatebal tentang HIV/AIDS dan Narkoba

oleh -99 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (10 Agustus 2026) – Mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Kelompok 14 Angkatan XXVIII Universitas Samawa (UNSA) bersama Pemerintah Desa Tatebal, Kecamatan Lenangguar, menggelar sosialisasi tentang bahaya HIV/AIDS dan narkoba.

Kegiatan yang berlangsung di Balai Seni Desa Tatebal, Minggu (3/8) tersebut, menjadi salah satu program kerja unggulan mahasiswa KKL selama melaksanakan pengabdian di Dusun Rate, Desa Tatebal.

Sosialisasi ini digelar sebagai bentuk kepedulian terhadap masih rendahnya pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai bahaya HIV/AIDS sekaligus ancaman penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKL UNSA bersama pemerintah desa berupaya memberikan edukasi preventif agar masyarakat memiliki pengetahuan yang benar serta mampu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai risiko yang ditimbulkan HIV/AIDS dan narkoba.

Kegiatan dihadiri perangkat Desa Tatebal, Pendamping Desa Tatebal, tokoh masyarakat, kader kesehatan, Karang Taruna, siswa SMKN Lenangguar serta warga setempat.

Kepala Desa Tatebal yang diwakili Sekretaris Desa, Nanang Hartaka, S.AP., menyambut baik kegiatan yang digagas mahasiswa KKL UNSA. Ia berharap kegiatan edukasi semacam ini dapat terus dilakukan sebagai upaya menjaga generasi muda desa dari ancaman HIV/AIDS dan narkoba.

“Kami sangat mengapresiasi kehadiran adik-adik mahasiswa KKL UNSA yang telah membawa isu penting ini ke tengah masyarakat kami. Semoga ilmu yang disampaikan hari ini bisa menjadi bekal bagi warga, terutama generasi muda, untuk lebih waspada,” ujarnya.

Sosialisasi menghadirkan dua narasumber, yakni Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) yang diwakili Ketua Tim P2M, Nursyafruddin, A.Md., dan petugas Puskesmas Lenangguar, Nurul Hikmah, A.Md.Kep.

Nurul Hikmah memaparkan materi seputar pengertian HIV/AIDS, tanda dan gejala, faktor penyebab, pengobatan, dampak hingga langkah pencegahannya.

Ia menjelaskan bahwa HIV/AIDS hingga saat ini belum memiliki obat yang dapat menyembuhkan secara total. Namun, penderita dapat menjalani terapi antiretroviral (ARV) untuk menekan jumlah virus dalam tubuh sehingga kondisi kesehatan dapat tetap terkontrol.

Ia juga menjelaskan pentingnya pemeriksaan HIV, termasuk bagi calon pengantin (catin), sebagai bagian dari upaya mencegah penularan kepada pasangan maupun orang lain.

“Untuk pengobatannya tidak ada untuk penyembuhan, hanya saja untuk pencegahan atau penurunan virus di dalam tubuh. Obatnya ARV. Kalau di puskesmas, terutama pada catin, tetap dilakukan pemeriksaan untuk mencegah penularan kepada pasangan atau orang lain,” jelasnya.

Sementara itu, Nursyafruddin mengingatkan bahwa ancaman narkoba kini tidak hanya berada di wilayah perkotaan, tetapi telah menyentuh berbagai lapisan masyarakat hingga daerah terpencil.

“Untuk diketahui Bapak, Ibu dan anak-anak sekalian, narkoba ini sudah menyentuh seluruh lapisan masyarakat kita sampai ke pelosok terpencil,” tegasnya.

Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama melakukan pencegahan, terutama dengan memperkuat pengawasan terhadap generasi muda dan membangun lingkungan yang bebas dari penyalahgunaan narkoba.

Ketua pelaksana kegiatan mengatakan, sosialisasi tersebut bertujuan membangun kesadaran kolektif masyarakat Desa Tatebal. Menurutnya, pencegahan HIV/AIDS dan narkoba tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak, tetapi membutuhkan keterlibatan keluarga, sekolah, masyarakat dan pemerintah desa.

“Kami ingin masyarakat, khususnya generasi muda di Desa Tatebal, memiliki pemahaman yang benar tentang bahaya HIV/AIDS dan narkoba, sehingga dapat menghindarkan diri dan lingkungan sekitar dari risiko tersebut,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Dosen Pembimbing KKL UNSA, Dr. Didin Najimuddin, S.T., M.T. Ia mengajak generasi muda Desa Tatebal meningkatkan kewaspadaan terhadap HIV/AIDS maupun penyalahgunaan narkoba.

“Kepada generasi muda Desa Tatebal, kita harus waspada dengan penularan HIV/AIDS. Karena penyakit ini merusak masa depan, menjadi penghalang cita-cita dan menghancurkan hati orang tua,” ungkapnya.

Kegiatan berlangsung interaktif. Peserta antusias mengikuti sesi tanya jawab, terutama terkait cara mendeteksi dini HIV serta langkah yang dapat dilakukan apabila menemukan indikasi penyalahgunaan narkoba di lingkungan sekitar.

Di penghujung kegiatan, mahasiswa KKL Kelompok 14 UNSA mengajak seluruh elemen masyarakat Desa Tatebal menjadi agen perubahan dalam upaya pencegahan HIV/AIDS dan narkoba.

Upaya tersebut diharapkan dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah hingga lingkungan desa secara luas, sehingga tercipta generasi muda yang sehat, produktif dan mampu menjaga masa depan dari ancaman HIV/AIDS serta narkoba. (SR)

nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *