PKN2 NTB, Kerjasama Regional dan Lesson Learnt Pariwisata & PAD Kab Badung

oleh -104 Dilihat

Oleh: Dr. Najamuddin Amy, S.Sos.,MM (Ketua Rombongan VKN Peserta PKN2 NTB ke Kab. Badung Provinsi Bali)

Perjalanan dinas seringkali menjadi rutinitas birokrasi. Namun, pengalaman saya mendampingi dan menjalankan tugas memimpin Rombongan Peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II (PKN2) Angkatan XIII yang diselenggarakan oleh BPSDMD Provinsi NTB tahun 2026, dalam kunjungan visitasi ke Provinsi Bali dan Kabupaten Badung, terasa sangat berbeda. Sebanyak 30 Orang dari 60 peserta PKN2 yang berasal dari K/L, Provinsi dan kabupaten/kota se-Nusa Tenggara Barat diajak menyelami langsung praktik terbaik (best practices) pengelolaan pariwisata dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kabupaten Badung.

Visitasi Kepemimpinan Nasional (VKN) kali ini mengambil lokus Pemerintah Provinsi Bali dan Kabupaten Badung. Kebutuhan penambahan wawasan berupa *lesson learnt* ke daerah yang memiliki keunggulan di berbagai sektor, ditopang dengan adanya Perjanjian Kerjasama Peningkatan Perekonomian Kawasan Regional Bali, NTB dan NTT (KRBNN) yang berfokus pada lima sektor utama: Pariwisata, Konektivitas, Energi, Perdagangan, dan Ekspor Impor.

Visitasi ini bukan sekadar studi banding biasa. Ini adalah momen pembelajaran nyata (lesson learnt) yang sangat relevan dengan Triple Agenda Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat yang termaktub dalam RPJMD, yaitu pengentasan kemiskinan ekstrem, ketahanan pangan, dan pariwisata berkelas dunia. Hasil dari pembelajaran ini diharapkan dapat menjadi usulan policy brief bagi para pimpinan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, sehingga best practices ini bisa diimplementasikan sebagai wujud kepemimpinan adaptif dan spirit resiliensi dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan.

Empat subtema yang diusung inline dengan Tema Nasional dan Tema Daerah yang sangat strategis dan relevan dengan kebutuhan, yaitu Sub-sub Tema masing-masing lokus, sebagai berikut :

1. Kepemimpinan Adaptif untuk Mewujudkan Strategi Penurunan Angka Kemiskinan Ekstrem.
2. Kepemimpinan Adaptif untuk Mewujudkan Strategi Penanggulangan Perekonomian Kawasan Regional Bali, NTB, NTT (KRBNN).
3. Kepemimpinan Adaptif untuk Mewujudkan Strategi Pengembangan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
4. Kepemimpinan Adaptif untuk Mewujudkan Strategi/Inovasi dalam Peningkatan Pendapatan Asli Daerah.

Kondisi Wilayah dan Potensi Kabupaten Badung

Kabupaten Badung merupakan salah satu dari 8 kabupaten di Provinsi Bali dengan luas wilayah mencapai 418,52 km² atau sekitar 7,43% dari daratan Pulau Bali. Secara administratif, wilayah ini terbagi menjadi 6 kecamatan, 16 kelurahan, 46 desa, 122 desa adat, 382 banjar dinas, dan 167 lingkungan. Berdasarkan data Februari 2026, jumlah penduduk Kabupaten Badung mencapai 578.790 jiwa.

Menariknya, Kabupaten Badung membagi wilayahnya menjadi tiga zona pengembangan yang saling mendukung, yaitu :

1. Wilayah Badung Utara (Kecamatan Petang dan Abiansemal) difokuskan pada pertanian, perkebunan, agrowisata, dan ekowisata. Wilayah ini menjadi lumbung pangan sekaligus destinasi wisata alam yang menawarkan pengalaman berbeda dari hiruk-pikuk kawasan selatan.
2. Wilayah Badung Tengah (Kecamatan Mengwi) berperan sebagai pusat kegiatan budaya, pusat kegiatan UMKM, dan pusat pelayanan umum. Di sinilah akar budaya Bali tetap terjaga sekaligus menjadi lokasi pengembangan ekonomi kreatif.
3. Wilayah Badung Selatan (Kecamatan Kuta Selatan, Kuta, dan Kuta Utara) menjadi pusat pariwisata, perdagangan dan jasa, serta perikanan. Di sinilah ikon pariwisata Indonesia seperti Nusa Dua, Kuta, dan Jimbaran berada.

Pembagian wilayah ini menunjukkan strategi cerdas Badung dalam menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi tanpa mengorbankan sektor-sektor primer yang menjadi penopang utama pariwisata. Sebuah *lesson learnt* yang sangat berharga bagi NTB yang juga memiliki keberagaman wilayah dari utara hingga selatan. Dari Ujung Sape hingga Ujung Ampenan.

Fakta Mencengangkan dari Kabupaten Badung

Dalam pemaparan yang disampaikan oleh Bupati Badung yang diwakili oleh Asisten Administrasi dan Umum Kabupaten Badung, yang sebelumnya juga pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian, ditemukan sejumlah fakta yang benar-benar membuka wawasan kami. Badung saat ini mencatatkan kunjungan wisatawan yang fantastis. Jumlah kunjungan wisatawan ini hampir mencapai 7 kali lipat dari jumlah penduduk Kabupaten Badung itu sendiri. Bayangkan, daerah dengan penduduk sekitar 578 ribu jiwa ini harus melayani jutaan wisatawan setiap tahunnya. Pada tahun 2025, PDRB Kabupaten Badung tercatat mencapai Rp81,66 triliun dengan pertumbuhan 6,26%. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi kontributor terbesar dengan porsi 26,36%, diikuti sektor transportasi dan pergudangan. Yang lebih mencengangkan lagi adalah kontribusi sektor pariwisata terhadap PAD Badung. Sektor pariwisata telah menyumbang sekitar Rp9,3 triliun dari total PAD yang mencapai lebih dari Rp12 triliun. Bahkan, target PAD Badung tahun 2026 dipatok sebesar Rp11,5 triliun dengan total pendapatan daerah mencapai Rp12,3 triliun lebih. PAD yang besar ini juga memberikan dampak bagi hasil kepada provinsi dan kabupaten/kota lainnya di sekitar Badung.

Sektor Pertanian dan Kelautan sebagai Penopang Pariwisata

Salah satu *lesson learnt* paling berharga yang kami peroleh adalah bahwa Kabupaten Badung tidak hanya mengandalkan sektor pariwisata secara tunggal. Dalam pemaparannya, Asisten Administrasi dan Umum Kabupaten Badung menyampaikan bahwa sektor pariwisata sangat disokong oleh sektor pertanian, perikanan, dan kelautan. Kebutuhan terkait dengan pangan, perikanan, dan kuliner yang mendukung industri pariwisata tidak bisa dipisahkan dari kekuatan sektor-sektor primer tersebut. Begitu pula dukungan Desa-desa adat dan masyarakatnya yang luar biasa.

Data menunjukkan bahwa sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masuk dalam lima besar penyumbang PDRB Badung. Wilayah Badung Utara dengan fokus pertanian dan perkebunan menjadi pemasok utama bahan pangan bagi industri kuliner yang melayani jutaan wisatawan di kawasan selatan. Begitu pula sektor perikanan di wilayah selatan yang memasok kebutuhan seafood bagi restoran-restoran di kawasan Jimbaran dan sekitarnya.

Strategi yang dipilih Kabupaten Badung adalah menguatkan sektor-sektor lainnya agar pariwisata tetap bisa berjalan dan langgeng memberikan kemanfaatan bagi masyarakat. Ini menjadi pelajaran penting bagi NTB, bahwa pengembangan pariwisata berkelas dunia harus diiringi dengan penguatan sektor pertanian dan ketahanan pangan yang sejalan dengan *Triple Agenda Pemprov NTB*.

Tantangan dan Ikhtiar Penguatan sebagai Solusi

Tentu saja, kesuksesan Badung tidak datang tanpa tantangan. Dari beberapa tantangan, setidaknya dua tantangan utama yang dihadapi Kabupaten Badung saat ini adalah kemacetan dan persampahan. Tingginya jumlah kunjungan wisatawan yang mencapai jutaan orang setiap tahunnya berdampak pada meningkatnya volume kendaraan dan produksi sampah di kawasan wisata. Menghadapi hal ini, Pemkab Badung melakukan berbagai upaya penguatan. Dari sisi infrastruktur, Pemkab Badung mengalokasikan pinjaman daerah untuk pembebasan lahan dan pembangunan infrastruktur jalan di wilayah Kuta Utara dan Kuta Selatan guna mengatasi kemacetan. Dari sisi pengelolaan sampah, Pemkab Badung terus mengingatkan para pelaku usaha untuk menjaga kawasan destinasi wisata dari ancaman sampah agar pariwisata tetap diminati wisatawan. Selain itu, Pemkab Badung juga menjalankan program Supervisi Pendapatan Daerah (SUPD) yang melibatkan lintas perangkat daerah dalam pendataan potensi wajib pajak baru, yang diperkirakan mencapai 19 ribu potensi wajib pajak baru. Ini menunjukkan komitmen kuat Badung dalam mengoptimalkan PAD secara berkelanjutan—sebuah inovasi yang menjadi subtema keempat kunjungan PKN2 ini.

Kerjasama Regional KRBNN dan Relevansi PKN2 NTB

Kunjungan ini menjadi semakin relevan karena berada dalam kerangka Kerja Sama Regional Bali–NTB–NTT (KRBNN). Kolaborasi strategis yang digagas sejak November 2025 ini menekankan pada penguatan pariwisata terpadu, konektivitas, dan energi terbarukan di kawasan eks Sunda Kecil. Pada pertemuan ketiga KRBNN di Labuan Bajo pada Januari 2026, ketiga provinsi sepakat untuk mengakhiri pola pembangunan yang bersifat parsial dan bergerak bersama membangun kawasan Bali-Nusra sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi Indonesia Timur.

Lima bidang strategis yang disepakati dalam KRBNN meliputi optimalisasi pariwisata dan ekonomi kreatif terintegrasi, pengembangan super grid energi terbarukan kawasan, penguatan perdagangan dan ekspor antarprovinsi, pengembangan sistem transportasi dan konektivitas, serta integrasi perencanaan pembangunan regional. *Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal* menegaskan bahwa kerja sama ini bukan lagi wacana, dengan dampak nyata berupa peningkatan rute penerbangan dari dan menuju NTB dari 18 menjadi 27 rute.

Keberadaan KRBNN menjadi alasan kuat mengapa salah satu subtema PKN2 mengusung “Kepemimpinan Adaptif untuk Mewujudkan Strategi Penanggulangan Perekonomian Kawasan Regional Bali, NTB, NTT”—sebuah pengakuan bahwa kemajuan daerah tidak bisa dicapai sendiri, melainkan melalui kolaborasi lintas wilayah.

Menuju NTB yang Makmur dan Mendunia

Rombongan PKN2 kembali ke NTB dengan kepala penuh ide dan semangat baru. Kerjasama regional melalui KRBNN membuka mata bahwa kemajuan daerah tidak harus dicapai sendiri. Belajar dari tetangga yang lebih maju adalah langkah bijak, Provinsi Bali dan Kabupaten Badung adalah tetangga terdekat yang telah membuktikan keberhasilannya.

NTB memiliki keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki daerah lain. Mulai dari keindahan alam Sumbawa dan Lombok, Mandalika, kekayaan budaya Sasak Samawa Mbojo, kekayaan alam hingga potensi energi baru terbarukan yang melimpah. Dengan mengadopsi *best practice* dari Bali dan Badung dan mengkreasikannya dengan kearifan lokal, serta didorong oleh semangat kolaborasi KRBNN, kita optimis NTB dapat melompat lebih cepat mewujudkan Provinsi Kepulauan yang semakin makmur dan mendunia. Tugas para peserta PKN yang notabene adalah para Pimpinan Tinggi Pratama (Eselon II) sekarang adalah menuangkan pembelajaran ini ke dalam rekomendasi kebijakan yang aplikatif, agar tidak hanya menjadi catatan perjalanan, tetapi benar-benar menjadi fondasi dan resiliensi bagi transformasi pembangunan daerah.

KRBNN telah membuka pintu bagi kolaborasi berkelanjutan antara NTB, Bali dan NTT secara aktif, demi kemajuan pariwisata dan pertumbuhan ekonomi kawasan Indonesia Timur secara keseluruhan. Sebab, ketika Bali, NTB, dan NTT bergerak bersama, maka Indonesia Timur akan menjadi kekuatan ekonomi baru yang tidak bisa diabaikan.

Pembangunan adalah proses belajar tanpa henti. Kunjungan ke Bali dan Badung adalah salah satu bab penting dalam perjalanan PKN2 NTB untuk melahirkan pemimpin yang adaptif dan solutif. Empat subtema PKN2 yang diusung—penurunan kemiskinan ekstrem, penanggulangan perekonomian kawasan regional KRBNN, pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif, serta inovasi peningkatan PAD—betul-betul bisa dirasakan manfaatnya dan memberikan masukan strategis bagi operasionalisasi RPJMD dan Triple Agenda Provinsi NTB serta Program Unggulan di masing-masing daerah. Dengan semangat Kerja Sama Regional Bali–NTB–NTT, kita meyakini bahwa pembelajaran ini akan membawa manfaat tidak hanya bagi NTB, tetapi juga bagi seluruh kawasan eks Sunda Kecil. Inilah sumbangsih awal untuk wujudkan Indonesia Timur yang maju, berdaya saing, berdampak kesejahteraan dan berkelanjutan. (drna76)

nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *