Oleh : Rachman Ansori (Peserta PKN II – BPSDMD NTB 2026)
Di ujung pulau-pulau Nusa Tenggara Barat, tantangan pembangunan berkelanjutan menuntut cara berpikir baru yang menghormati akar budaya sekaligus memanfaatkan lompatan teknologi. Pengalaman belajar dari Desa Adat Penglipuran—ikon tata ruang tradisional yang rapi, kebersihan ritual, dan keramahan tulus—menjadi inspirasi strategis bagi transformasi desa wisata di NTB, terutama Sumbawa.
Dari Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II oleh BPSDMD NTB tertempa pemimpin-pemimpin yang bukan sekadar manajer, melainkan arsitek adaptasi, mampu menggabungkan kultural resilience dengan digital advance untuk mereplikasi keberhasilan berbasis kearifan lokal.
Kultural resilience merupakan pondasi yang tak tergantikan. Penglipuran adalah contoh nyata bagaimana struktur sosial, aturan adat, dan praktik sehari-hari menciptakan ketahanan sosial. Ketika ancaman datang—baik bencana alam, perubahan ekonomi, ataupun arus budaya global—desa yang memegang teguh nilai bersama lebih cepat pulih.
Untuk NTB, memperkuat kultural resilience berarti memetakan nilai-nilai lokal (gotong royong, adat istiadat, ritual kebersihan), menjadikannya landasan kebijakan desa wisata, serta merancang program pelatihan kepemimpinan yang berbasis etika komunitas. Desa wisata, bersih, dan hospitality adalah produk pengalaman yang berkelas. Desa wisata modern bukan sekadar destinasi, ia adalah pengalaman terkurasi.
Penglipuran mengajarkan tiga elemen penting: tata ruang yang estetis dan fungsional, kebersihan sebagai identitas budaya, dan keramahan yang konsisten. Untuk Sumbawa dan wilayah NTB lain, mengemas pengalaman ini memerlukan standar kebersihan terpadu, latihan hospitality bagi pelaku pariwisata lokal, serta storytelling yang menonjolkan narasi lokal—dari pengetahuan adat hingga kuliner khas. Pengalaman tamu yang tinggi memperpanjang tinggal, meningkatkan pengeluaran wisatawan, dan membuka peluang ekonomi kreatif.
Digital advance dapat mempercepat adopsi tanpa mengikis lokalitas. Teknologi harus menjadi alat yang memperkuat, bukan menggantikan budaya. Aplikasi reservasi terpadu, peta digital warisan budaya, sistem pemantauan kebersihan berbasis sensor sederhana, dan platform pemasaran berbasis konten lokal dapat mengangkat desa wisata ke pasar global.
Pelatihan kepemimpinan digital dalam kerangka Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II penting agar pemimpin maupun pelaku lokal mampu memilih teknologi yang sesuai—yang mudah dioperasikan, murah, dan tahan konteks infrastruktur lokal.
Oleh karena itu, belajar adopsi dan adaptasi adalah model kurikulum kepemimpinan baru. BPSDMD NTB memainkan peran krusial dalam membentuk kemampuan adaptif para pemimpin struktural. Belajar kultural resilience antara lain analisis adat, fasilitasi dialog antar generasi, dan mitigasi konflik budaya, standar layanan, manajemen kebersihan, dan pengembangan produk wisata berbasis masyarakat, literasi data, pemasaran digital, dan pemanfaatan platform sederhana.
Beberapa pelajaran yang relevan untuk diimplementasikan di NTB maupun Sumbawa khususnya adalah integrasi ruang dan sosial-tata ruang adat yang memperkuat interaksi komunitas meningkatkan kohesi sosial. Kebersihan sebagai identitas-kebersihan harus distandarisasi, diawali dari regulasi lokal dan pendidikan lingkungan. Pelatihan singkat untuk host lokal meningkatkan pengalaman wisatawan tanpa menghilangkan spontanitas budaya.
Demikian pula, pengelolaan pariwisata yang inklusif mencegah eksklusi ekonomi. Untuk Sumbawa, adaptasi berarti mengidentifikasi unsur lokal—misal rumah adat, upacara setempat, atau kearifan maritim—dan menggabungkannya ke paket wisata yang menjaga kelestarian khazanah, budaya, kebersihan dan keramahan.
Akhir perjalanan ini menyimpulkan, bahwa visi futuristik yang menghormati akar membangun desa masa depan di NTB berarti menempatkan kultural resilience sebagai akar dan digital advance sebagai elemen yang memberi daya. Dengan kepemimpinan yang terlatih melalui program seperti Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II BPSDMD NTB, kombinasi ini memungkinkan replikasi model Penglipuran secara adaptif—mengangkat NTB, Lombok, Sumbawa dan kawasan potensial lain menjadi desa wisata yang bersih, ramah, dan tangguh. Masa depan desa bukan soal memilih antara tradisi dan teknologi melainkan merancang sinergi estetis, etis, dan efisien antara keduanya. (*)






