SUMBAWA BESAR, samawarea.com (30 Juni 2026) – Sebuah proyek boleh saja berakhir, tetapi manfaatnya tidak boleh ikut berhenti. Itulah pesan kuat yang mengemuka saat Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP, menutup Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Rencana Pembinaan Lanjutan Exit Strategy Proyek Upland Kabupaten Sumbawa di Sumbawa Grand Hotel, Senin (29/6/2026).
Bagi Pemerintah Kabupaten Sumbawa, berakhirnya Proyek The Development of Integrated Farming Systems in Upland Areas pada 2026 bukanlah garis akhir. Sebaliknya, momentum ini menjadi titik awal memastikan seluruh investasi, ilmu pengetahuan, infrastruktur, dan kelembagaan yang telah dibangun tetap memberi manfaat bagi petani dalam jangka panjang.
Kegiatan yang digelar Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa itu dihadiri perwakilan Kementerian Pertanian RI, Tim Nasional Project Management Unit (PMU) Proyek Upland, jajaran OPD, pemerintah kecamatan dan desa, penyuluh pertanian, kelompok tani, koperasi, hingga berbagai pemangku kepentingan sektor pertanian dataran tinggi.
Sebelum penutupan, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa, Ir. Ni Wayan Rusmawati, M.Si., melaporkan hasil FGD yang berlangsung selama dua hari. Ia menyampaikan apresiasi kepada Tim PMU Proyek Upland yang terus mendampingi Kabupaten Sumbawa, termasuk Tommy sebagai tenaga ahli pembelajaran yang mendorong lahirnya best practices dan petani champion, serta Haris Arhab sebagai tenaga ahli aksesibilitas.
Menurutnya, diskusi intensif yang berlangsung dari pagi hingga malam berhasil melahirkan 18 komitmen bersama sebagai fondasi keberlanjutan Program Upland hingga 2029.
“Total nilai komitmen yang berhasil disepakati mencapai sekitar Rp 32,6 miliar hingga tahun 2029. Angka ini menjadi yang tertinggi dibandingkan daerah pelaksana Proyek Upland lainnya,” ungkapnya.
Tak hanya itu, pihak offtaker juga berkomitmen memfasilitasi pemasaran hasil panen bawang merah petani dengan nilai transaksi sekitar Rp 28 miliar per tahun, sementara dukungan pembiayaan dari BPR diproyeksikan mencapai Rp 6 miliar per tahun hingga 2029.
Dalam forum tersebut juga muncul gagasan pengembangan kawasan budidaya bawang merah terpadu yang akan diperluas secara bertahap dari 500 hektare menjadi sekitar 1.500 hektare sebagai sentra bawang merah Kabupaten Sumbawa.
Ni Wayan berharap seluruh hasil FGD dapat menjadi bekal bagi Bupati Sumbawa saat bertemu Menteri Pertanian RI bersama kepala daerah pelaksana Proyek Upland di Jakarta, sekaligus membuka peluang dukungan program lanjutan bagi sektor pertanian daerah.
Sementara itu, Bupati Sumbawa menegaskan bahwa penyusunan exit strategy merupakan langkah penting agar manfaat Proyek Upland tetap dirasakan masyarakat meski masa kontraknya telah berakhir.
“Program Upland ini luar biasa. Menjelang berakhirnya proyek, masih dicari jalan agar manfaatnya tidak berhenti begitu saja. Kita harus memiliki exit plan yang jelas sehingga masyarakat, pemerintah daerah maupun pemerintah pusat tetap dapat melanjutkan pembinaan terhadap petani,” tegasnya.
Bupati menjelaskan, Kabupaten Sumbawa menjadi salah satu daerah penerima manfaat terbesar karena memiliki potensi pengembangan bawang merah yang sangat menjanjikan. Selama ini, budidaya bawang merah di Sumbawa banyak dilakukan petani asal Bima. Kehadiran Proyek Upland, katanya, menjadi peluang bagi petani lokal untuk meningkatkan kapasitas sehingga mampu mengembangkan usaha tani secara mandiri.
“Upland datang menjawab persoalan itu. Bukan hanya mengajarkan masyarakat menanam bawang, tetapi juga menyediakan fasilitas, teknologi, infrastruktur, kelembagaan hingga pendampingan. Sangat merugi apabila setelah proyek selesai semua itu tidak dimanfaatkan,” ujarnya.
Bupati menegaskan, ukuran keberhasilan Proyek Upland bukan banyaknya penghargaan yang diraih selama proyek berlangsung, melainkan kemampuan petani mempertahankan bahkan mengembangkan usaha taninya setelah pendampingan selesai.
“Kalau setelah kontrak proyek selesai petani masih tetap menanam bawang, berkembang, dan mengajarkan ilmunya kepada anak cucunya, itulah keberhasilan yang sesungguhnya. Tetapi kalau berhenti ketika bantuan selesai, berarti kita gagal,” katanya.
Ia mengajak seluruh kelompok tani memanfaatkan berbagai fasilitas yang telah tersedia, mulai dari benih, pupuk, alat dan mesin pertanian, sumur bor, gudang penyimpanan, akses pembiayaan hingga jaringan pemasaran sebagai modal meningkatkan kesejahteraan petani.
Bupati juga mengingatkan agar hasil FGD tidak berhenti sebagai dokumen administratif semata. Seluruh rekomendasi harus diintegrasikan dalam RPJMD Kabupaten Sumbawa 2027 dan berbagai dokumen perencanaan pembangunan daerah.
“Saya berharap seluruh perangkat daerah melakukan tindak lanjut dari hasil FGD ini. Jangan hanya menjadi dokumen, tetapi diwujudkan dalam aksi nyata dan masuk dalam perencanaan pembangunan daerah,” tegasnya.
Selain membangun kemandirian petani, keberlanjutan Program Upland juga diharapkan selaras dengan visi Sumbawa Hijau Lestari, sehingga peningkatan produksi pertanian tetap berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan.
Mengakhiri sambutannya, Bupati menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pertanian RI, Tim Nasional Proyek Upland, Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa, para pendamping, serta seluruh petani yang telah berkontribusi membangun sektor pertanian di daerah.
“Semoga seluruh ikhtiar yang telah kita lakukan menjadi amal kebaikan bagi masyarakat Sumbawa dan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi generasi mendatang,” pungkasnya.
Dengan mengucapkan hamdalah, Bupati secara resmi menutup FGD Penyusunan Rencana Pembinaan Lanjutan Exit Strategy Proyek Upland Kabupaten Sumbawa. Forum tersebut diharapkan menjadi tonggak penting dalam menjaga kesinambungan Program Upland melalui sinergi pemerintah, petani, koperasi, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan, sekaligus memperkuat posisi Sumbawa sebagai salah satu sentra bawang merah unggulan di Indonesia. (SR)






