Presiden BEM UNSA 2008–2009: Langkah Hukum Bupati Demi Jaga Kondusifitas, Jangan Dipolitisasi

oleh -289 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (14 Juni 2026) – Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Samawa (UNSA) periode 2008–2009, Abdul Haji, menilai langkah hukum yang ditempuh secara personal oleh Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP, merupakan sikap bijak dalam menjaga kondusifitas daerah pasca aksi massa 11 Juni (116).

Menurut Abdul Haji, langkah tersebut patut dipandang secara objektif dan disikapi secara positif, bukan justru dipolitisasi yang berpotensi memicu konflik baru di tengah masyarakat.

“Langkah hukum yang dilakukan secara personal oleh Bapak Syarafuddin Jarot adalah sikap bijak sebagai Bupati Sumbawa dalam upaya menjaga kondusifitas daerah pasca aksi massa 116, menghindari ketegangan, serta mencegah potensi munculnya konflik sosial di masyarakat,” ujarnya, Minggu (14/6).

Ia mengingatkan agar publik tidak menggiring opini yang tidak sehat maupun memperuncing perbedaan sikap. Sebaliknya, seluruh pihak diharapkan membuka ruang komunikasi dan memperkuat silaturahmi secara humanis sehingga penyelesaian persoalan dapat ditempuh dengan semangat kekeluargaan.

“Saya yakin meskipun proses hukum tetap berjalan, sepanjang ada itikad baik untuk membangun silaturahmi dan komunikasi secara humanis, pasti akan terbuka ruang penyelesaian secara kekeluargaan,” katanya.

Abdul Haji juga menyampaikan apresiasi terhadap langkah cepat Polres Sumbawa dalam merespons dinamika yang berkembang, termasuk tindak lanjut terhadap proses hukum yang sedang berjalan.

Menurutnya, respons tersebut secara langsung mampu menurunkan tensi ketegangan antara kelompok masyarakat yang pro maupun kontra sekaligus meminimalkan potensi konflik baru.

Pasalnya, ia melihat mulai bermunculan berbagai narasi yang dinilai berpotensi memperkeruh situasi pasca aksi massa 116. Bahkan, terdapat indikasi adanya pihak-pihak yang sengaja membangun opini provokatif dan memperuncing persoalan di tengah masyarakat.

“Pasca aksi 116, saya mengindikasikan banyaknya bermunculan provokator dengan narasi yang memperuncing masalah. Saya ingatkan, jangan jadi provokator dan bermain di air keruh dengan mempertajam persoalan,” tegasnya.

Menurut Abdul Haji, yang dibutuhkan saat ini adalah sikap dewasa, komunikasi yang baik, serta komitmen bersama untuk menjaga kondusifitas daerah.

“Mari bersama-sama menjaga kondusifitas daerah ini. Sumbawa adalah milik kita semua, sehingga kedamaian di Tanah Intan Bulaeng juga menjadi tanggung jawab kita bersama,” tandasnya.

Ia berharap apabila terdapat persoalan di tengah masyarakat, penyelesaiannya dapat dilakukan melalui dialog dan musyawarah, bukan dengan membangun panggung sendiri yang berpotensi memicu provokasi dan memperdalam perpecahan. (SR)

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *