Festival Melala Sambut Tahun Baru Islam
SUMBAWA BESAR, samawarea.com (15 Juni 2026) – Sejumlah sandro (orang pintar) dari beberapa kecamatan di Kabupaten Sumbawa membuat minyak berkhasiat. Aksi ini dilaksanakan dan dikemas dalam Festival Melala dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah yang digelar di Rumah Aspirasi H. Johan Rosihan, ST Anggota DPR RI Daerah Pemilihan NTB I Pulau Sumbawa, Senin (15/6/26) malam ini.
Kegiatan yang berlangsung di Rumah Aspirasi Johan Rosihan ini dimeriahkan penampilan Majelis Taklim PKK Kelurahan Pekat serta seniman Arief Sakeco dan dihadiri ratusan masyarakat yang datang untuk merayakan tradisi khas Tau Samawa tersebut.
Hadir di antaranya Ketua DPRD, Nanang Nasiruddin S.AP., M.M.Inov dan Ketiga wakil Ketua DPRD, H.M. Berlian Rayes S.Ag., M.M.Inov, Gotta Lisbano SH., M.Kn, dan Zulfikar Demitry SH MH, Ketua Komisi IV Muhammad Takdir SE., M.M.Inov, Ketua Fraksi PKS, Adizul Sahabuddin SP. M.Si, Ketua LATS, Dr. M. Ikhsan Safitri M.Sc, para tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pemuda dari Sekolah Pilar Muda.
Ketua DPRD Kabupaten Sumbawa, Nanang Nasiruddin, SAP., M.M.Inov., dalam sambutannya menegaskan bahwa Melala merupakan warisan adat yang memiliki keterkaitan erat dengan kekayaan alam dan kelestarian hutan di Sumbawa.
Menurutnya, minyak Melala dibuat dari berbagai ramuan yang berasal dari hutan sehingga keberadaan kawasan hutan harus dijaga agar sumber obat-obatan tradisional tetap lestari.
“Inilah adat kami orang Sumbawa. Melala menggunakan minyak yang mengandung berbagai ramuan dari hutan. Karena itu kita harus menjaga hutan dan tidak membiarkannya ditebang agar obat-obatan dan kayu-kayu yang menjadi bagian dari tradisi ini tetap terpelihara,” ujarnya.
Nanang juga menyampaikan bahwa tradisi Melala telah berlangsung setiap tahun dan mendapat sambutan luas dari masyarakat. Bahkan, ia berkomitmen mendorong lahirnya Peraturan Daerah (Perda) agar pelaksanaan kegiatan tersebut memiliki payung hukum sekaligus dukungan pembiayaan dari pemerintah.
“Kita akan buatkan Perda di DPRD sehingga kegiatan adat seperti ini bisa dibiayai di mana pun masyarakat melaksanakannya. Ini adalah adat kita bersama yang harus terus dilestarikan,” tegasnya yang disambut antusias para sandro.
Sementara itu, H. Johan Rosihan ST., MH, menyampaikan komitmennya bersama tim untuk menjadikan Festival Melala sebagai agenda tahunan yang mampu menegaskan identitas dan jati diri masyarakat Tau Samawa.
Menurutnya, pelestarian tradisi tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada falsafah hidup masyarakat Sumbawa, yakni adat berenti ko sara, sara berenti ko Kitabullah.
“Kita ingin mentradisikan Melala agar tumbuh rasa memiliki dan kebanggaan terhadap identitas kita sebagai Tau Samawa,” kata Johan.
Ia juga menilai Melala bukan sekadar tradisi budaya, melainkan bentuk nyata hilirisasi dari gagasan Sumbawa Hijau Lestari. Sebab, pelaksanaan ritual tersebut sangat bergantung pada ketersediaan bahan-bahan alami yang berasal dari hutan.
“Tidak mungkin kita bisa Melala kalau tidak ada kayu dan ramuan dari hutan. Di situlah letak kearifan lokal kita. Karena itu, Melala merupakan bagian dari dukungan penuh terhadap program Sumbawa Hijau Lestari,” tandasnya.
Ia berharap festival tersebut tidak hanya menjadi momentum menyambut Tahun Baru Islam, tetapi juga menjadi ruang memperkuat pelestarian budaya, menjaga kelestarian lingkungan, sekaligus menumbuhkan kebanggaan masyarakat terhadap identitas Tau Samawa. (SR)






