Sumbawa Canangkan Tiga Desa Cantik Wujudkan Satu Data Indonesia

oleh -147 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (24 April 2026) – Sinergi antara Badan Pusat Statistik (BPS) dan Pemerintah Kabupaten Sumbawa terus diperkuat dalam mewujudkan program Satu Data Indonesia. Hal ini ditandai dengan pencanangan tiga desa di Kecamatan Moyo Hilir sebagai Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) Tahun 2026, yang dipusatkan di Gedung Serbaguna Desa Poto, Kamis (23/4).

Bupati Sumbawa yang diwakili Asisten Administrasi Umum Setda Sumbawa, Rachman Ansori, secara resmi mencanangkan Desa Poto, Ngeru, dan Moyo Mekar sebagai Desa Cantik. Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Kominfotiksandi, Kabag Prokopim, Kepala Bapperida, Kepala DPMD, Camat Moyo Hilir, para kepala desa, serta Kepala BPS Kabupaten Sumbawa.

Dalam sambutan Bupati menegaskan bahwa Program Desa Cantik merupakan langkah strategis dalam membangun budaya kerja berbasis data dari tingkat desa. Hal ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, yang menempatkan desa sebagai subjek pembangunan, termasuk dalam penyediaan data.

“Seluruh program pembangunan kini terhubung dalam semangat Satu Data Indonesia. Karena itu, Desa Cantik diharapkan menjadi pemicu agar setiap perencanaan pembangunan dari bawah didukung data yang valid dan terintegrasi dalam database nasional,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya data sebagai dasar pengambilan keputusan. Data yang tidak akurat atau tidak sinkron, kata dia, berpotensi melahirkan kebijakan yang keliru dan program yang tidak tepat sasaran.

“Selama ini sering ditemukan perbedaan data antara desa, dinas, dan BPS. Akibatnya terjadi tumpang tindih program. Melalui Desa Cantik, kita berharap data bisa disinkronkan sesuai kebijakan Satu Data Indonesia,” jelasnya.

Menurutnya, desa memiliki peran strategis sebagai sumber data paling dasar. Namun tantangan masih dihadapi, mulai dari keterbatasan sumber daya manusia hingga belum optimalnya pengelolaan data. Karena itu, program ini juga difokuskan pada pembinaan dan peningkatan kapasitas aparatur desa.

Ia berharap ketiga desa yang dicanangkan dapat menjadi percontohan pemerintahan desa berbasis data. Bahkan, desa diharapkan mampu melahirkan kader-kader statistik yang memahami proses pengumpulan, pengolahan, hingga penyajian data secara informatif.

“Saya ingin aparat desa terbiasa membaca data sebelum mengambil keputusan. Bahkan kantor desa sebaiknya menampilkan data visual agar mudah dipahami masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala BPS Kabupaten Sumbawa, Yudi Wahyuddin, menegaskan bahwa Program Desa Cantik bukan sekadar pelatihan, melainkan gerakan perubahan budaya data dari desa.

“Masalah utama saat ini adalah data yang belum seragam, tidak terhubung, dan berbeda antar sumber. Ini berisiko membuat kebijakan diambil berdasarkan asumsi,” ujarnya.

Sebagai solusi, lanjutnya, Pemkab Sumbawa bersama BPS telah menandatangani MoU Sinergi Menuju Sumbawa Satu Data 2024 sebagai pondasi pembangunan ekosistem data, mulai dari standar data, peningkatan kapasitas SDM, hingga sistem yang terintegrasi.

Ia juga menyebut Desa Cantik menjadi pintu masuk penguatan data dari desa, dengan menghadirkan Agen Statistik Desa (ASIK) sebagai garda terdepan dalam menggerakkan perubahan budaya data di tingkat lokal.

Selain itu, BPS juga mengingatkan agenda penting ke depan, yakni pelaksanaan Sensus Ekonomi pada Mei hingga Agustus 2026. BPS mengajak seluruh pihak untuk mendukung penyebaran informasi serta partisipasi aktif masyarakat dalam memberikan data yang benar dan akurat.

“Target kita, Desa Cantik Sumbawa bisa meraih predikat terbaik pada Hari Statistik Nasional 26 September 2026, sekaligus menjadi fondasi pembangunan berbasis data yang akurat,” pungkasnya. (SR)

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *