SUMBAWA BESAR, samawarea.com (15 April 2026) — Wakil Rektor Universitas Samawa (UNSA), Muhammad Yamin SE., M.Si, menilai setahun pemerintahan Jarot-Ansori menghadirkan banyak hal menarik untuk dicermati. Menurutnya, latar belakang Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot MP (Jarot) berbeda dibanding kepala daerah pada umumnya karena bukan berasal dari birokrasi maupun politisi, melainkan dari dunia usaha.
Yamin Abe menyebut, sebelum menjabat Bupati Sumbawa, Haji Jarot berkarier di perusahaan tambang dengan jabatan terakhir sebagai Senior Manager External.
“Dalam setahun pemerintahan beliau, ada sejumlah catatan penting yang menurut saya menjadi pondasi kuat lahirnya berbagai program strategis daerah maupun masuknya program nasional ke Sumbawa,” ujar mantan Ketua Hanura Sumbawa ini dalam press release yang diterima Samawarea.com.
Menurutnya, terdapat tiga kebijakan dan sikap dasar yang menjadi ciri pemerintahan Jarot Ansori. Pertama, kebijakan yang mendorong masyarakat, khususnya umat Muslim, untuk melaksanakan salat berjamaah terutama Salat Subuh. Kedua, upaya Bupati membangun silaturahmi dengan tokoh-tokoh Sumbawa yang berada di daerah, di Mataram maupun di Jakarta. Ketiga, semangat bekerja dengan ikhlas dan menjadikan kerja sebagai niat ibadah.
Yamin yang pernah menjabat Wakil Ketua DPRD Sumbawa menilai, tiga hal yang terlihat sederhana tersebut justru memberikan resonansi besar terhadap keberhasilan pemerintahan saat ini. Ia mencontohkan masuknya berbagai bantuan pusat, mulai dari pembangunan fisik seperti jalan lingkar selatan, hingga program sosial ekonomi yang manfaatnya diyakini akan dirasakan masyarakat dalam tiga hingga lima tahun ke depan.
Beberapa di antaranya adalah investasi industri unggas senilai Rp 1,3 triliun, program hilirisasi komoditas udang dan garam, serta 12 Program Strategis Daerah dengan total nilai mencapai Rp 154,8 miliar.
“Yang tidak kalah menarik, konsep pembangunan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Sumbawa adalah pembangunan berkelanjutan. Pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Yamin menyebut, fondasi pembangunan ekonomi jangka panjang mulai terlihat melalui pengembangan industri unggas, hilirisasi komoditas perikanan dan garam, serta pembentukan koperasi Merah Putih. Selain itu, pemerintah daerah juga dinilai serius mengembangkan pelaku UMKM, bukan hanya sebatas slogan.
Ia menilai pemerintah ikut memfasilitasi UMKM dari sisi bantuan modal, ruang usaha, hingga membuka peluang ekonomi melalui kegiatan Car Free Night di kawasan Lapangan Pahlawan Sumbawa setiap malam Minggu.
Menurut Yamin, perputaran ekonomi dari kegiatan tersebut tidak hanya dirasakan pedagang kecil dan pelaku usaha mikro, tetapi juga masyarakat sekitar. Mulai dari pemuda yang mengelola parkir, penyedia listrik, hingga warga yang menyewakan meja dan kursi bagi para pedagang.
“Car Free Night ini bisa menjadi salah satu legacy yang akan dicatat dalam sejarah Sumbawa. Bagi generasi yang lahir di bawah tahun 1980-an, suasana itu mengingatkan pada pasar malam yang dulu hanya hadir sekali dalam setahun,” ungkapnya.
Lebih jauh, ia melihat pemerintahan saat ini sedang membangun diversifikasi ekonomi daerah. Jika sebelumnya sektor unggulan hanya bertumpu pada pertanian, terutama jagung dan ternak sapi, kini mulai berkembang sektor perikanan, UMKM, kelompok usaha bersama, hingga industri kreatif.
Bahkan, lanjutnya, Bupati mulai menggagas program agroforestry sebagai solusi bagi masyarakat tani yang selama ini membuka lahan jagung di kawasan perhutanan sosial.
Di bidang sosial, Yamin menilai pemerintah juga bergerak cepat melalui program pendidikan siswa bergizi, Kartu Sumbawa Pintar, pembangunan sekolah rakyat, peningkatan layanan kesehatan yang lebih merata, hingga pelatihan dan sertifikasi kompetensi di BLK Sumbawa.
Sementara di bidang lingkungan, ia menilai turun langsung memimpin gerakan penanaman pohon. Meski sempat menimbulkan perdebatan, Yamin melihat langkah tersebut sebagai bentuk keteladanan dan semangat kerja yang tinggi.
Selain itu, Bupati juga telah mengeluarkan surat edaran yang melarang penanaman jagung di kawasan hutan dan perhutanan sosial, serta membentuk satgas pengamanan hutan.
“Bupati memberi contoh terlebih dahulu di lapangan, lalu menguatkannya dengan kebijakan administratif. Setelah itu, langkah-langkah tersebut akan bergerak secara sistematis,” ujarnya.
Yamin meyakini, berbagai keberhasilan yang dicapai Pemerintah Kabupaten Sumbawa dalam satu tahun terakhir tidak lepas dari keberkahan yang lahir dari kebijakan salat Subuh berjamaah, silaturahmi yang kuat, dan semangat bekerja dengan ikhlas.
“Saya memaknai Bupati mengawali langkah membangun Sumbawa setelah pelantikan seperti orang yang tidak tidur lagi setelah salat Subuh. Ia langsung bergerak mencari dan menjemput rezeki bagi daerah,” pungkasnya. (SR)






