Museum Bala Datu Ranga Rayakan IHMD 2026, Jadi Penjaga Memori Komunitas

oleh -824 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (21 April 2026)– Museum Bala Datu Ranga kembali ambil bagian dalam perayaan International House Museum Days (IHMD) 2026. Untuk kedua kalinya, museum rumah bersejarah ini bergabung bersama lebih dari 500 museum rumah di berbagai negara yang secara serentak membuka pintu bagi publik pada 18–19 April 2026.

Keterlibatan museum tersebut tidak lepas dari statusnya sebagai anggota komite museum rumah bersejarah atau DEMHIST. IHMD sendiri merupakan agenda internasional yang didedikasikan bagi rumah-rumah bersejarah milik tokoh penting, mulai dari sastrawan, ilmuwan, politisi, seniman hingga tokoh pemerintahan.

Penyelenggara IHMD 2026 menyebut, kegiatan ini didukung oleh DEMHIST, ICLCM, ICOM Italia, dan jaringan museum rumah tokoh terkemuka Eropa. Selama dua hari, museum rumah di seluruh dunia menghadirkan beragam aktivitas, mulai tur museum, pertunjukan seni, lokakarya, pemutaran film, hingga pertemuan komunitas untuk menelusuri kembali jejak sejarah dan memori kolektif.

Tidak ingin ketinggalan, menyusun sejumlah agenda, di antaranya tur museum, nonton bareng film sejarah dan budaya lokal, serta temu komunitas.

Museum yang berada di Kelurahan Pekat, Kecamatan Sumbawa itu menempati rumah bersejarah milik Datu Ranga Abdul Madjid Daeng Matutu, Perdana Menteri terakhir Kesultanan Sumbawa. Rumah panggung kayu bercorak arsitektur tradisional Sumbawa tersebut dibangun pada 1886 dan sejak 2022 bertransformasi menjadi museum rumah bersejarah. Tahun ini, Bala Datu Ranga genap berusia 140 tahun.

Hari pertama perayaan IHMD 2026 diisi dengan kunjungan pelajar dari SDN 6 Sumbawa, SDN 14 Sumbawa, dan SDN Raberas. Para siswa diajak menjelajahi seluruh bagian rumah, mulai dari tebongan atau kolong rumah, ruang pamer utama hingga loteng.

Tur dipandu dengan metode storytelling untuk mengenalkan sejarah rumah panggung tradisional Sumbawa pada masa Kesultanan. Anak-anak juga diajak memahami material kayu sebagai bahan utama bangunan tradisional, sekaligus mempelajari narasi sejarah lokal Sumbawa pada masa akhir Kesultanan.

“Setelah tur, anak-anak diminta menceritakan kesan dan pengalaman mereka. Antusiasme mereka sangat tinggi,” ujar Direktur Museum Bala Datu Ranga, Yuli Andari Merdikaningtyas, MA kepada media ini, Selasa (21/4/26).

Sementara pada hari kedua, museum menggelar temu komunitas yang melibatkan Komunitas Seni Asy Syahadah dan Forum Ilmiah Remaja Sumbawa. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menapaktilasi kenangan tentang bangunan bersejarah dan ruang-ruang interaksi di masa lalu.

Melalui foto-foto lama yang ditampilkan, para peserta diajak mengenang kondisi Sumbawa tempo dulu, membandingkannya dengan keadaan saat ini, hingga menyampaikan harapan untuk masa depan.

Selain itu, pemutaran film budaya juga digelar untuk menginspirasi generasi muda agar terus berkarya dan mencintai sejarah daerahnya.

Yuli menegaskan, rumah bersejarah bukan sekadar bangunan tua, tetapi juga penjaga memori komunitas. Rumah-rumah seperti Bala Datu Ranga menjadi lorong waktu yang menghubungkan masa lalu dan masa kini, sekaligus ruang tempat aktivitas budaya terus berlangsung.

“Harapan kami, Museum Bala Datu Ranga dapat menjadi ruang interaksi budaya yang menaungi dan mewadahi energi kreatif masyarakat dan komunitas di Sumbawa,” pungkasnya. (SR)

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *