JAKARTA, samawarea.com (1 Agustus 2026) – Perjalanan hidup Muhammad Ja’far Hasibuan dari seorang anak desa yang merantau dengan bekal Rp 70 ribu hingga menghasilkan karya ilmiah yang mendapat perhatian kalangan akademisi menjadi sorotan. Buku berjudul “Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia” resmi diluncurkan dalam Seminar dan Talkshow Peluncuran serta Bedah Buku Skala Internasional di Aula G Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Sabtu lalu.
Kegiatan yang digelar Mega Press Nusantara tersebut dihadiri sekitar 500 peserta secara langsung dan 1.500 peserta secara daring. Acara mendapat dukungan Perpustakaan Nasional RI, Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, serta FKM UI.
Muhammad Ja’far Hasibuan kepada wartawan, Jumat (31/7), mengatakan peluncuran buku tersebut menjadi momentum penting yang membuktikan keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk menghasilkan karya ilmiah yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Saya berlatar belakang mahasiswa Semester I Program Studi Magister Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Peluncuran buku ini diresmikan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo melalui perwakilan pimpinan Polri,” ujarnya.
Menurut Ja’far, buku tersebut mengisahkan perjalanan hidupnya sebagai anak yatim asal Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara. Ia merantau hanya dengan bekal Rp 70 ribu dan membiayai pendidikannya dengan berjualan roti sambil kuliah.
Dari berbagai keterbatasan yang dihadapi, Ja’far justru terdorong melakukan riset lapangan, pengujian laboratorium hingga uji coba di masyarakat yang kemudian melahirkan inovasi Biofar SS. Formula inovasi tersebut masih dirahasiakan.
Ia mengaku kepercayaan yang diberikan negara melalui Program Beasiswa Kapolri menjadi motivasi untuk terus mengembangkan penelitian yang memiliki manfaat nyata bagi masyarakat.
“Seluruh kompetensi dan wawasan yang saya peroleh selama pendidikan saya arahkan menjadi karya terapan dan inovasi yang teruji secara ilmiah agar dapat diakses masyarakat, khususnya kelompok yang memiliki keterbatasan pelayanan kesehatan,” katanya.
Buku setebal lebih dari 400 halaman itu disusun dengan dukungan lebih dari 200 referensi ilmiah lintas disiplin. Isinya memadukan pengalaman hidup penulis dengan teori-teori ilmiah yang diakui secara internasional, mulai dari teori modal sosial, kapabilitas manusia, teori aksi terencana, teori keadilan kesehatan hingga berbagai teori psikologi, resiliensi, kepemimpinan, serta manajemen modern.
Acara peluncuran dibuka atas nama Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang diwakili Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri Komjen Pol R.Z. Panca Putra Simanjuntak.
Dalam sambutan Kapolri yang dibacakan Irjen Pol Dr. Andry Wibowo.tersebut disampaikan bahwa karya Muhammad Ja’far Hasibuan menjadi bukti potensi anak bangsa tidak ditentukan oleh kondisi ekonomi, melainkan oleh kejujuran, disiplin, kerja keras, dan kepedulian terhadap masyarakat.
Apresiasi juga datang dari berbagai akademisi. Guru Besar FKM UI, Prof. dr. Adang Bachtiar, M.P.H., D.Sc., menilai buku tersebut memiliki nilai akademik tinggi karena mampu menghubungkan pengalaman hidup dengan teori-teori ilmiah yang relevan dalam bidang kesehatan masyarakat, inovasi, dan kepemimpinan. Ia bahkan menyebut karya itu telah menjadi bahan diskusi di kalangan profesor serta membuka peluang bagi Ja’far untuk melanjutkan studi doktoral di Harvard University.
Sementara itu, Wakil Dekan II Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Rosleny Marliani, M.Si., CPP, menilai perjalanan hidup Ja’far mencerminkan proses pembentukan karakter, resiliensi, dan aktualisasi diri. Adapun Guru Besar FKM Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes., menyebut karya tersebut sebagai kebanggaan bagi almamater sekaligus bangsa Indonesia.
Penghargaan juga diberikan Kementerian Pemuda dan Olahraga RI melalui perwakilannya, Dr. Ir. Hendro Wicaksono, M.Sc.Eng., yang menetapkan Muhammad Ja’far Hasibuan sebagai Ikon Pemuda Terdaftar Resmi Kemenpora RI. Sementara Perpustakaan Nasional RI menetapkan buku tersebut sebagai salah satu koleksi referensi nasional.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan diskusi ilmiah, penyerahan buku, dan penandatanganan dokumen referensi. Melalui pendekatan multidisiplin yang memadukan pengalaman empiris dan teori ilmiah, buku Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia diharapkan menjadi referensi bagi akademisi, peneliti, praktisi, maupun pembuat kebijakan, sekaligus menginspirasi bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk melahirkan inovasi dan karya yang bermanfaat bagi masyarakat. (SR)






