UTS Dorong Pengembangan Kemiri Ropang, dari Tradisi ke Teknologi Menuju Pasar Dunia

oleh -952 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (3 Oktober 2025) – Potensi kemiri di Kabupaten Sumbawa, khususnya di Kecamatan Ropang dan Lantung, mulai mendapat perhatian serius. Dalam rapat konsolidasi ekspor kemiri yang digelar di Bappeda Sumbawa, Jumat (3/10/2025), Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) memaparkan hasil riset dan strategi pengembangan komoditas kemiri sebagai produk unggulan ekspor.

Wakil Rektor Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) Muhammad Iqbal, M.M.Inov menyampaikan bahwa potensi kemiri di wilayah tersebut mencapai 229 ton per tahun. “Hasil ini merupakan survei teman-teman UTS yang melihat kemiri bukan sekadar komoditas, tapi pohon kehidupan,” ungkap Iqbal dalam rapat yang dihadiri Bupati Sumbawa dan jajaran Kementerian Perdagangan RI.

Iqbal juga mengungkapkan bahwa kemiri asal Sumbawa pernah diekspor ke Jepang dan Eropa secara tidak langsung, melalui jalur Lombok. Bahkan, diketahui bahwa salah satu rumah produksi di Lombok menerima pasokan kemiri dari Ropang, yang kemudian dikirim ke Jepang.

“Masyarakat kami menyebut kemiri sebagai pohon penyelamat. Sebab, sebelum musim panen tiba, aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan karena adanya kemiri,” kata Iqbal yang biasa disapa Sanggo.

Iqbal menjelaskan bahwa keberhasilan pengembangan kemiri di Sumbawa bertumpu pada lima pilar utama. Yaitu Etnologi (Kearifan Lokal). Masyarakat Ropang menjaga kemiri secara tradisional. Mereka tidak menebang sembarangan dan memiliki tradisi panen yang berkelanjutan. Hasil kemiri digunakan untuk kebutuhan sehari-hari hingga menyekolahkan anak-anak mereka.

Tak hanya itu juga ajang berbagi antara satu dengan lainnya. Kemudian, Ekologi (Lingkungan Hidup). Pohon kemiri menjaga mata air, mencegah banjir, dan menjaga struktur hutan. “Kemiri itu penghasil oksigen. Menjaga kemiri, sama dengan menjaga ekosistem,” kata Iqbal.

Berikutnya, Ekonomi (Pendapatan dan Ekspor). Kemiri Sumbawa yang diproses secara manual ternyata memiliki nilai tinggi di pasar Eropa karena kualitas super dan nilai ceritanya. Kemiri ini dipanen, dijemur alami, dan dikupas tradisional oleh para ibu rumah tangga.

Senjutnya, Energi (Inovasi Limbah Jadi Sumber Energi). Cangkang kemiri yang selama ini dibuang dan dijadikan limbah, kini bisa diolah menjadi briket. “Harga cangkang di pasaran Rp 800 – Rp 1.000/kg, tapi jika diolah menjadi briket, harganya bisa mencapai Rp 15.000/kg,” sebutnya.

Pilar terakhir adalah Teknologi (Pendampingan dan Inovasi Produk Turunan). UTS kini mendampingi lima desa dengan program Mahasiswa Terdampak Desa. Empat produk utama sedang dikembangkan yakni biji kemiri, briket, minyak kemiri, dan karbon aktif. Karena itu pihaknya telah mengagendakan penanaman massal kemiri di Kecamatan Ropang dan Lantung, yang akan dilaksanakan bertepatan Hari Pohon Sedunia, 21 November 2025 mendatang.

Ditambahkan Dosen UTS, Adit Novadhitya bahwa UTS mengedepankan pendekatan naratif untuk mengangkat nilai produk kemiri Sumbawa. Tidak sekedar ekspor. “Membeli produk kemiri dari Sumbawa artinya ikut menjaga hutan tetap hidup, air tetap mengalir, dan masa depan anak-anak tetap belajar,” tegas Adit.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Harga produk turunan seperti briket seharga Rp 15.ooo masih dianggap mahal dibanding arang biasa yang hanya Rp 3.ooo – 5.000. Namun UTS tetap optimis melalui pendekatan edukasi dan keberlanjutan.

“Kami ingin membangun cerita. Di balik kemiri itu ada ibu-ibu yang menjaga pohon untuk masa depan anak-anaknya. Itu nilai yang tidak bisa dihitung hanya dengan angka,” imbuhnya.

Untuk diketahui potensi ekonomi Kemiri Sumbawa hasil pendataan tim UTS, terutama di Ropang dan Lantung adalah 229 ton per tahun. Harga Cangkang Mentah Rp 800–Rp1.000/kg, Briket Kemiri Rp 15.000/kg atau 15 kali lipat dari bahan mentah (cangkang), dan Minyak Kemiri Rp 30.000–Rp40.000/liter. (SR)

Yusron Hadi nusantara pilkada NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *