Tambang Elang di Sumbawa, Masa Depan Industri Tembaga dan Emas Indonesia

oleh -1007 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (25 September 2025) – Menemukan cadangan baru mineral emas dan tembaga di Indonesia memiliki peran krusial dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan industri pertambangan. Sebagai salah satu negara dengan sumber daya melimpah, eksplorasi dan penemuan cadangan baru tidak hanya memastikan ketahanan pasokan bagi industri hilir, tetapi juga mendorong investasi.

PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) terus melakukan eksplorasi untuk mengembangkan cadangan mineral tembaga dan emas di Indonesia, termasuk di Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Salah satu eksplorasi besar di pulau ini adalah Proyek Elang di Kabupaten Sumbawa, yang tercatat sebagai salah satu deposit tembaga dan emas porfiri terbesar di dunia yang belum dikembangkan.

Berlokasi sekitar 60 kilometer di timur tambang Batu Hijau yang merupakan tambang tembaga dan emas terbesar kedua di Indonesia, Proyek Elang menjadi bagian dari strategi jangka panjang AMMAN dalam memperluas operasi dan meningkatkan kontribusi terhadap industri pertambangan nasional.

Sejak 2020, tim eksplorasi AMMAN menemukan deposit tembaga dan emas porfiri kedua di Elang, yang dikenal sebagai Elang Selatan. Deposit ini berdekatan dengan porfiri Elang utama, tetapi lebih dalam dan memiliki kadar yang sedikit lebih tinggi. Pengeboran inti yang dilakukan sejak tahun 2020, ditambah dengan kenaikan harga logam dan studi rekayasa, menunjukkan bahwa tambang terbuka Elang yang didesain pada tahun 2019 untuk studi kelayakan tahun 2020 akan jauh lebih besar.

Cadangan Bijih Elang 2,5 Miliar Metrik Ton 

Baru-baru ini, AMMAN merilis laporan JORC (Joint Ore Reserves Committee) terbaru per 31 Desember 2024, yang menunjukkan lonjakan cadangan dan sumber daya mineral Elang. JORC (Joint Ore Reserves Committee) adalah standar internasional yang memastikan laporan tentang sumber daya dan cadangan mineral dibuat dengan akurat dan dapat dipercaya.

Berdasarkan laporan tersebut, cadangan bijih Elang mengalami peningkatan signifikan. Dibandingkan dengan laporan tahun 2023, cadangan bijih meningkat sebesar 79%, dari 1,4 miliar metrik ton menjadi 2,5 miliar metrik ton. Peningkatan ini juga mencakup kenaikan 71% dalam kandungan tembaga, dari 10,4 miliar pon menjadi 17,8 miliar pon, dan kenaikan 76% dalam kandungan emas, dari 15 juta ons menjadi 26,4 juta ons.

Saat ini, studi kelayakan definitif untuk Elang sedang berlangsung dan diperkirakan akan selesai pada paruh pertama tahun 2025. Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mengklasifikasikan deposit Elang sebagai deposit Porfiri Cu-Au Super Raksasa, yang ditemukan pada tahun 1991. Klasifikasi ini menunjukkan potensi besar yang dimiliki oleh Cebakan Elang sebagai salah satu sumber daya tembaga dan emas terbesar yang belum dikembangkan di dunia.

Vice President Corporate Communications PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN), Kartika Octaviana menyampaikan bahwa  peningkatan signifikan dalam cadangan bijih Elang memberikan peluang besar bagi berbagai pihak.

“Peningkatan cadangan berpotensi mendorong produksi dan memperpanjang umur tambang secara signifikan. Hal ini tidak hanya berdampak positif bagi bisnis, namun juga memperkuat kontribusi terhadap industri pertambangan dan perekonomian daerah serta nasional,” ujar Kartika.

Berdasarkan rencana saat ini, AMMAN terus melakukan penambangan Fase 8 di tambang Batu Hijau hingga tahun 2030, dengan kemungkinan pemanfaatan stockpile hingga tahun 2033. Kegiatan penambangan di tambang Elang direncanakan berlangsung setelah usia tambang Batu Hijau selesai hingga tahun 2046. Fasilitas pengolahan bijih, smelter tembaga, dan pemurnian logam mulia rencananya akan memanfaatkan fasilitas yang sudah ada di Batu Hijau.

Sambut Optimis Era Tambang Baru

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Nusa Tenggara Barat, Samsudin, S.Hut., M.Si, menanggapi positif peningkatan signifikan sumber daya dan cadangan mineral di Proyek Elang yang dikelola PT Amman Mineral (AMMAN). Ia menegaskan, lonjakan cadangan tembaga dan emas tersebut akan memberikan dampak ekonomi yang besar, tidak hanya untuk NTB, tetapi juga untuk kepentingan nasional.

“Dengan cadangan mencapai 2,5 miliar ton bijih, tentu ini akan menambah umur tambang dan meningkatkan kapasitas produksi, yang sangat penting dalam mendukung program hilirisasi tembaga nasional,” ujar Samsudin saat diwawancara Samawarea.com, Jumat (10/10/25).

Menurutnya, sektor pertambangan masih menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi NTB, khususnya Pulau Sumbawa. Namun, ia mengingatkan bahwa tambang adalah sumber daya tidak terbarukan, sehingga harus dikelola dengan prinsip sustainable mining, menjaga kelestarian lingkungan serta mempersiapkan masyarakat agar bisa beralih ke mata pencaharian lain pascatambang.

Efek Berganda terhadap Ekonomi dan Ketenagakerjaan

Kadis ESDM mengungkapkan, selama ini industri pertambangan telah membuka lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui efek berganda, baik dari sisi pendapatan negara maupun daerah.

“Industri ini, khususnya IUPK, telah berkontribusi besar melalui pajak, PNBP, serta bagi hasil dari keuntungan bersih. Semua ini penting untuk pembangunan,” tegasnya.

Meskipun kewenangan pengawasan IUPK berada di tangan pemerintah pusat melalui Kementerian ESDM, Pemprov NTB tetap bersinergi dalam pengawasan izin lainnya yang masih menjadi kewenangan provinsi.

Potensi Investasi dan Keterlibatan Masyarakat Lokal

Terkait potensi masuknya investasi baru akibat pengembangan Proyek Elang, Kadis menyatakan bahwa sektor pertambangan membutuhkan dukungan lintas sektor. Karena itu, proyek ini akan mendorong pertumbuhan industri jasa, khususnya pada fase konstruksi menjelang operasi tambang.

Samsudin menekankan pentingnya pelibatan masyarakat lokal. “Pemerintah dan perusahaan berkewajiban mempersiapkan keterampilan masyarakat agar bisa terlibat langsung dalam operasi tambang,” ujarnya. Ia menambahkan, tidak semua warga harus bekerja di perusahaan inti, namun bisa berkontribusi melalui usaha jasa penunjang.

Soal Smelter dan Hilirisasi

Saat ditanya mengenai dorongan pembangunan fasilitas hilirisasi seperti smelter di Sumbawa, Samsudin menjelaskan bahwa keputusan pembangunan tersebut didasarkan pada studi kelayakan (FS) yang mempertimbangkan aspek teknis, ekonomi, dan lingkungan.

“Pemprov NTB tidak dalam posisi mendorong agar smelter dibangun di Sumbawa, tapi sebaiknya perusahaan membuka opsi itu agar tidak menimbulkan konflik antar daerah penghasil,” sarannya.

Kadis juga menegaskan pentingnya pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab. Ia terbuka terhadap semua upaya pengawasan dan audit yang bertujuan meningkatkan kepatuhan terhadap regulasi, termasuk dalam hal reklamasi dan pascatambang.

Soal keterbukaan informasi publik, Samsudin memuji PT AMNT sebagai perusahaan publik yang telah menerapkan transparansi sesuai standar internasional.

“AMMAN selalu terbuka dan menjalin koordinasi dengan Pemprov NTB. Mereka sudah melaksanakan kewajiban keterbukaan informasi publik dengan baik,” katanya.

Belajar dari Batu Hijau untuk Elang

Dilantik pada 17 September lalu, Samsudin mengaku akan mengambil pelajaran dari pengelolaan Tambang Batu Hijau oleh PT Newmont dan kini oleh AMMAN, agar Proyek Elang dapat memberi dampak ekonomi dan sosial yang lebih luas.

Ia juga mengingatkan pentingnya semua pihak mematuhi regulasi terbaru, yakni UU Nomor 2 Tahun 2025 yang merupakan perubahan keempat dari UU Minerba.

“Pengelolaan Proyek Elang harus mengikuti prinsip keberlanjutan, keadilan, dan keberpihakan terhadap kepentingan nasional. Mari kita awasi bersama sesuai peran kita masing-masing,” pungkasnya.

Persiapan Pemda Sumbawa Jelang Elang

Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP, menyampaikan dukungan penuh terhadap pengembangan tambang tersebut yang dinilai akan membawa dampak besar bagi kemajuan daerah.

“Ini adalah kabar baik bagi masyarakat Sumbawa. Proyek Elang bukan hanya soal potensi tambang, tapi juga potensi besar bagi pembangunan daerah, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan kualitas infrastruktur dan SDM lokal,” ujar Bupati di ruang kerjanya.

Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Sumbawa siap bersinergi dengan pihak perusahaan dan pemerintah pusat guna memastikan bahwa setiap tahapan pengembangan proyek berjalan sesuai dengan prinsip keberlanjutan dan berpihak pada kepentingan masyarakat.

“Kami akan mengamankan dan terus mengawal agar investasi ini memberi manfaat nyata bagi warga Sumbawa, terutama dalam hal pemberdayaan masyarakat lokal, pelestarian lingkungan, dan peningkatan ekonomi UMKM di sekitar wilayah tambang,” tambahnya.

Bupati Haji Jarot yang pernah menjadi petinggi PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) menegaskan pentingnya membangun ekosistem yang mendukung pengembangan industri pendukung tambang, guna memaksimalkan dampak positif dari proyek Elang. Ada tiga langkah strategis yang tengah disiapkan oleh Pemkab Sumbawa.

Pertama, penguatan SDM lokal. Pemerintah daerah tengah fokus mempersiapkan tenaga kerja lokal agar siap bersaing dan terserap dalam proyek tersebut. BLK (Balai Latihan Kerja) Sumbawa diarahkan untuk mencetak tenaga kerja terampil sesuai kebutuhan industri tambang seperti operator alat berat, mekanik, teknisi listrik, scaffolder, operator senso (pemotong kayu), hingga tenaga tata boga untuk kebutuhan logistik dan akomodasi.

Kedua, dukungan untuk UMKM dan supplier lokal. Pemkab juga mendorong agar kontraktor dan supplier lokal diprioritaskan dalam proyek Elang. Pemerintah daerah akan membantu pelaku UMKM dan penyedia jasa lokal agar dapat memenuhi standar dan kualifikasi yang ditetapkan oleh pihak perusahaan.

Ketiga, pemanfaatan produk lokal. Selain tenaga kerja dan jasa, Bupati menekankan pentingnya menyuplai kebutuhan proyek dengan produk lokal dari petani, nelayan, dan pelaku usaha di bidang lain, guna mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara menyeluruh.

Terkait potensi pendapatan daerah dari proyek Elang, Bupati menjelaskan bahwa saat ini proyek masih dalam tahap persiapan konstruksi, yang diperkirakan berlangsung sekitar tiga tahun ke depan sebelum masuk ke fase produksi.

“Produksi baru bisa dimulai setelah konstruksi selesai. Kalau sudah produksi, barulah kita bisa bicara soal pendapatan daerah. Tapi undang-undang sudah mengatur soal bagi hasil, dan sebagai daerah penghasil, kita akan mendapatkan porsi yang lebih besar,” jelasnya.

Bupati juga menyoroti tantangan geografis dalam mendukung proyek ini, khususnya terkait pelabuhan. Ia menyatakan bahwa tidak memungkinkan membangun pelabuhan baru di sembarang lokasi karena kondisi geografis Sumbawa tidak memiliki banyak teluk yang bisa digunakan secara ekonomis.

“Satu-satunya teluk yang memungkinkan secara teknis dan ekonomis hanya ada di wilayah Selatan. Tidak memungkinkan membangun dua lokasi. Jadi, ini harus dipikirkan matang,” ungkapnya.

Dengan perencanaan yang matang, komunikasi lintas pihak, dan dukungan dari masyarakat lokal, Bupati optimis proyek Elang akan menjadi motor penggerak baru bagi perekonomian Kabupaten Sumbawa ke depan.

Dorong Transparansi dan Keterlibatan Masyarakat Lokal

Senada dengan Bupati, Ketua DPRD Kabupaten Sumbawa, Nanang Nasiruddin, S.AP., M.M. Inov, menyambut positif lonjakan cadangan mineral di Proyek Elang dan menyatakan bahwa DPRD siap mendukung segala langkah strategis yang mampu membawa dampak positif bagi masyarakat Sumbawa.

“Proyek Elang merupakan aset nasional yang kebetulan berada di wilayah kita. Maka sudah sepatutnya masyarakat Sumbawa juga menjadi bagian utama dari manfaat yang akan dihasilkan,” tegas Nanang, sapaan politisi PKS ini.

Menurutnya, keberhasilan proyek ini harus diiringi dengan keterbukaan informasi, partisipasi publik, dan sinergi antara pemerintah daerah, perusahaan, serta lembaga legislatif. DPRD, kata Nanang, akan menjalankan fungsi pengawasan secara optimal agar pengelolaan sumber daya alam dilakukan secara adil dan berkelanjutan.

“Kami akan terus mendorong agar masyarakat lokal dilibatkan dalam proses perencanaan hingga pelaksanaan. Pendidikan vokasi, pelatihan tenaga kerja, dan pembukaan akses UMKM lokal harus menjadi agenda prioritas,” ujar politisi yang dikenal vokal dalam isu pembangunan berkelanjutan ini.

Nanang juga menekankan pentingnya menjadikan momentum ini sebagai titik balik bagi transformasi ekonomi Sumbawa dari sektor primer ke sektor bernilai tambah tinggi, seiring dengan pengembangan fasilitas industri dan pengolahan di kawasan tambang.

Jalan Tembus Ropang–Dodo

Demikian dengan Juliansyah, SE selaku Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Sumbawa yang berasal dari Kecamatan Ropang–pusat proyek Elang. Ia memandang bahwa proyek Elang merupakan tonggak penting dalam sejarah industri pertambangan di daerah ini, namun juga menjadi  tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa potensi besar tersebut benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat local.

Dari sisi ekonomi, peningkatan cadangan hingga 2,5 miliar ton, dengan kandungan tembaga dan emas yang luar biasa, tentu akan mendorong investasi besar-besaran di sektor ini. Hal tersebut harus menjadi peluang strategis untuk  menggerakkan ekonomi lokal, bukan hanya melalui pajak dan retribusi, tetapi keterlibatan langsung masyarakat, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan sektor pendukung seperti UMKM, transportasi lokal, serta jasa lainnya.

Politisi Demokrat ini juga menekankan bahwa pembangunan jalan tembus Ropang–Dodo sebagaimana yang telah lama diperjuangkan masyarakat adalah salah satu prioritas yang harus dikawal dan direalisasikan segera. Infrastruktur dasar ini akan menjadi penentu keterhubungan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar tambang. Komisi II siap mendorong percepatan pembangunannya dalam rapat-rapat lintas sektor.

Selanjutnya mendorong transparansi dan akuntabilitas penuh dari pihak perusahaan dalam setiap tahapan eksplorasi, eksploitasi, dan pengembangan proyek. Proyek sebesar ini harus dijalankan dengan prinsip keberlanjutan, memperhatikan daya dukung lingkungan, serta hak-hak masyarakat adat dan lokal yang tinggal di lingkar tambang. “Kami tidak ingin melihat masyarakat hanya menjadi penonton dari kekayaan alam yang digali dari tanahnya sendiri,” imbuhnya.

Melalui komisinya, Jul, demikian Ia disapa akan mendorong kemitraan aktif antara AMMAN dan institusi pendidikan lokal, seperti Universitas Samawa (UNSA) dan Universitas Teknologi Sumbawa (UTS), untuk mengembangkan riset terapan dan pelatihan SDM lokal. Transfer teknologi dan peningkatan kapasitas tenaga kerja lokal adalah kunci agar manfaat ekonomi tidak hanya sesaat, melainkan juga jangka panjang.

Ia pun mengajak semua pihak mulai  pemerintah daerah, perusahaan, lembaga pendidikan, hingga masyarakat, untuk bersama-sama membangun forum komunikasi terbuka dan berkelanjutan, agar suara masyarakat desa seperti Ropang, dan wilayah lingkar selatan lainnya benar-benar menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan. Tidak boleh ada lagi “sosialisasi satu arah”.

“Sebagai wakil rakyat, saya tegaskan bahwa  Komisi II DPRD Sumbawa akan menjalankan fungsi pengawasan secara ketat terhadap pengelolaan Proyek Elang ini. Kami akan terus hadir di lapangan, menyerap aspirasi warga, dan memastikan bahwa investasi yang masuk benar-benar berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, tanpa mengabaikan aspek sosial dan ekologis. Penambangan harus membawa kesejahteraan, bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai alat transformasi social,” tandasnya.

Potensi Tambang Kelas Dunia

Ahli geologi sekaligus Kepala Program Studi Pertambangan Universitas Teknologi Sumbawa (UTS), Sayidatina Hayatuzzahra, S.T., M.Eng, menilai peningkatan signifikan cadangan bijih tembaga dan emas di Proyek Elang sebagai capaian monumental bagi dunia geosains Indonesia dan bukti nyata bahwa Sumbawa menyimpan potensi tambang kelas dunia.

“Elang adalah contoh konkret bahwa wilayah Sumbawa secara geologis merupakan bagian dari jalur mineralisasi global yang sangat prospektif, khususnya dalam sistem porfiri tembaga-emas. Lonjakan data JORC terbaru semakin menguatkan validitas nilai ekonomis dan geologisnya,” jelas Yaya—sapaan wanita lajang ini.

Ia juga menjelaskan bahwa klasifikasi Elang sebagai deposit Porfiri Cu-Au Super Raksasa oleh USGS menunjukkan bahwa daerah ini memiliki signifikansi strategis tidak hanya untuk Indonesia, tapi juga dalam peta tambang global.

Menurutnya, tantangan utama ke depan adalah memastikan bahwa eksploitasi deposit ini dilakukan secara berbasis sains, teknologi modern, dan prinsip keberlanjutan.

“Perlu adanya kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah dalam mengelola proyek sebesar ini. UTS siap berkontribusi, baik dalam riset terapan, pengembangan SDM lokal, maupun dalam pemantauan dampak lingkungan secara independen,” tambahnya.

Yaya juga menekankan pentingnya transfer pengetahuan dan peningkatan kapasitas lokal agar masyarakat Sumbawa tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku aktif dalam industri tambang modern. “Proyek ini bisa menjadi laboratorium alam sekaligus inkubator SDM tambang lokal jika dikelola dengan pendekatan yang visioner,” tutupnya.

Investasi yang Pro Lingkungan

Pengamat sosial dan aktivis lingkungan dari Nusa Tenggara Barat, Muhammad Iqbal M. M. Inov juga menanggapi lonjakan cadangan mineral Proyek Elang dengan nada hati-hati. Ia menegaskan bahwa keberhasilan eksplorasi harus sejalan dengan komitmen kuat terhadap perlindungan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal.

“Kami tidak anti investasi, tapi investasi sebesar ini harus transparan dan bertanggung jawab. Kenaikan cadangan memang menjanjikan secara ekonomi, tapi jangan sampai menimbulkan risiko ekologis dan sosial yang diabaikan,” ujar inisiator pelestarian Kakatua Jambul Kuning di Pulau Moyo.

Menurut Iqbal, penting bagi pemerintah daerah dan perusahaan tambang untuk menyusun mekanisme keterlibatan masyarakat sejak dini, terutama dalam pengawasan, perizinan, serta implementasi program-program tanggung jawab sosial (CSR).

“LSM dan komunitas lokal harus dilibatkan bukan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai mitra dalam pengambilan keputusan strategis, terutama yang berkaitan dengan lingkungan hidup dan pengelolaan sumber daya alam,” tambah tokoh pemuda yang kini dipercaya sebagai Wakil Rektor IV Universitas Teknologi Sumbawa (UTS).

Iqbal juga menyoroti pentingnya audit lingkungan independen, rencana reklamasi pasca-tambang, dan jaminan keberlanjutan air serta keanekaragaman hayati di sekitar wilayah tambang.

“Jangan sampai proyek sebesar Elang hanya menyisakan lubang-lubang bekas tambang di masa depan. Ini saatnya kita berpikir jangka panjang, bukan hanya soal cadangan tambang hari ini, tapi warisan ekologis untuk generasi mendatang,” tegasnya.

Tidak Ingin Jadi Penonton

Kepala Desa Ropang, Mahdar menyambut baik kabar peningkatan cadangan mineral yang signifikan di wilayahnya yang terkena dampak langsung dari aktivitas tambang. Namun, ia juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat lokal dalam setiap tahap pengembangan proyek.

“Kami tentu senang mendengar potensi besar tambang Elang. Tapi yang kami harapkan, masyarakat Ropang tidak hanya menjadi penonton. Kami ingin benar-benar dilibatkan, diberdayakan, dan mendapat manfaat nyata dari kehadiran proyek ini,” ujar Gabung Mahdar, akrab dia disapa.

Ia menyebut bahwa sejauh ini, masyarakat masih menanti kejelasan soal peluang kerja, pelatihan keterampilan, serta program-program pengembangan desa yang konkret.

“Banyak pemuda kami yang siap kerja, asal diberi pelatihan. Kami juga berharap ada program CSR yang menyentuh langsung kebutuhan desa dari akses air bersih, pendidikan, sampai kesehatan,” ungkapnya.

Mahdar juga meminta agar pihak perusahaan dan pemerintah membuka ruang komunikasi terbuka dengan masyarakat desa, terutama dalam hal transparansi dampak lingkungan dan rencana jangka panjang terhadap wilayah sekitar.

“Kami ingin ada forum rutin, bukan hanya sosialisasi sepihak. Karena yang terdampak langsung itu kami, maka suara kami harus didengar sejak awal,” imbuhnya.

Namun yang paling penting, lanjut Kades, Amman mampu merealisasikan aspirasi semua masyarakat lingkar selatan agar membuat jalan tembus dari Ropang ke pusat tambang Amman di Elang—Dodo, kendati telah membangun jalan Lunyuk—Dodo pada tahun 2017 lalu.

Catatan BPS: Belum Jadi Penopang Utama 

Beroperasinya Proyek Elang di Sumbawa, menjadi harapan besar bagi peningkatan perekonomian daerah. Sebab selama ini sektor pertambangan dan penggalian belum memberikan dampak signifikan. Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumbawa, sektor pertambangan dan penggalian selama ini belum benar-benar menjadi penopang utama perekonomian di daerah terutama di Kabupaten Sumbawa.

Disebutkan Kepala BPS Sumbawa, Yudi Wahyudin S,ST., M.Si, pada tahun 2024, kontribusi sektor pertambangan dan penggalian hanya sekitar 2,84 persen dari total PDRB, bahkan turun tipis 0,01 persen dibanding tahun sebelumnya. Angka ini menggambarkan bahwa potensi hasil tambang di Sumbawa belum sepenuhnya memberi nilai tambah besar bagi masyarakat maupun perekonomian lokal.

Meski demikian, geliat sektor ini tetap terasa. Setelah terpukul pandemi covid-19 pada tahun 2020, pertambangan di Sumbawa kembali menunjukkan tren positif, tumbuh 1,71 persen pada 2021, 0,40 persen pada 2022, lalu melonjak 3,59 persen pada 2023, dan terus naik di 2,85 persen pada 2024.

Di sisi lain, kebijakan nasional menegaskan bahwa Indonesia sudah tidak lagi memberi ruang bagi ekspor mineral mentah. UU Minerba dan peraturan turunannya mengharuskan tambang membangun fasilitas pengolahan sendiri agar nilai tambah bisa dirasakan langsung di dalam negeri.

Artinya, Proyek Elang bisa jadi bukan hanya tentang menggali cadangan tembaga dan emas raksasa, tapi juga peluang besar bagi Sumbawa untuk menghadirkan proyek smelter, pemurnian logam, hingga industri pendukung yang menyerap tenaga kerja dan menghidupkan UMKM lokal. Ini sejalan dengan arah kebijakan hilirisasi yang mana tambang di Sumbawa masih hanya menjadi “pemain kecil” dalam perekonomian daerah.

“Jika hilirisasi berjalan, dampaknya bukan hanya pada sektor pertambangan, tapi juga bisa menggerakkan industri manufaktur Sumbawa yang saat ini masih lemah,” imbuhnya.

Tahun 2024, kontribusi sektor ini hanya 1,83 persen, padahal secara teori tingginya aktivitas di sektor primer semestinya mendorong tumbuhnya industri pengolahan. Dengan mengolah hasil tambang langsung di daerah, Sumbawa berpeluang membangun basis industri manufaktur yang lebih kuat sekaligus menciptakan nilai tambah di tanah sendiri. (JEN/SR*)

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *