Oleh : Suriani (Aktivis Dakwah Sumbawa)
Beberapa waktu lalu, terjadi kasus keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di NTB yang menimpa 17 siswa SDN 1 Selat Kecamatan Narmada, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Para korban diduga keracunan setelah mengonsumsi menu program MBG. Korban mengalami sakit perut dan muntah-muntah.(Detik.com, 3/9/2025).
Kasus ini, bukanlah yang pertama, sebelumnya telah terjadi beberapa kasus serupa di berbagai wilayah, seperti di Nganjuk, Sukoharjo, Nunukan, Pandeglang, Cianjur, dan daerah lainnya.
Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Zulkifli selaku Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat, saat ini masih menunggu hasil laboratorium untuk memastikan penyebab keracunan yang menimpa 17 siswa. Tujuannua adalah untuk mengidentifikasi faktor penyebab keracunan secara akurat. Dengan mengetahui penyebabnya, pihak terkait dapat mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat untuk menghindari kejadian serupa dan meningkatkan kewaspadaan dalam penyediaan makanan dan distribusi.(kompas.com, 3/9/2025)
Keracunan MBG yang terjadi di NTB dan daerah-daerah lain bahkan ada yang terjadi secara berulang. Hal ini, mengindikasikan bahwa hingga saat ini belum ada tindakan serius dan komprehensif yang dilakukan untuk mengatasi akar permasalahan, sehingga diperlukan evaluasi mendalam dan implementasi solusi yang efektif dan berkelanjutan.
Pangkal Masalah
MBG untuk anak-anak dan ibu hamil adalah salah satu program Presiden Prabowo Subianto dalam kampanyenya pada Pilpres 2024. Program ini diluncurkan dengan tujuan memperbaiki gizi untuk tumbuh kembang anak dan mencegah stunting. Namun pada kenyataannya, program ini bukanya menjadi solusi tapi malah sebaliknya.
Jika faktor penyebab keracunan ini adalah sanitasi lingkungan, maka tidak hanya pihak yang memasak yang harus bertanggung jawab, tetapi pemilik program juga harus diselidiki, apakah sudah memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP), sudah siap, perencanaan yang baik, benar dan efektif.
Di Indonesia, kebijakan dan program yang diluncurkan seringkali tidak efektif dalam menyelesaikan masalah yang ada. Bahkan seringkali menimbulkan masalah baru. Contohnya program MBG yang bertujuan mengatasi stunting, namun malah menyebabkan kasus keracunan massal pada anak-anak yang berulang kali terjadi.
Persoalan gizi pada anak dan ibu hamil, serta stunting, tidak hanya memerlukan solusi berupa program-program spesifik seperti MBG, tetapi juga perlu perubahan sistem yang lebih mendasar. Sistem kapitalisme yang saat ini diterapkan tidak efektif dalam mengatur kesejahteraan manusia, karena berfokus pada keuntungan ekonomi semata. Hal ini dapat menyebabkan masalah seperti mahalnya biaya kesehatan, ketimpangan ekonomi, pendidikan dan lain lain. Sehingga perlu perubahan sistem yang lebih berorientasi pada kesejahteraan masyarakat dan menciptakan keadilan dan akses pangan bergizi yang merata.
Solusi Islam
Islam adalah agama yang memiliki aturan lengkap untuk seluruh ciptaan-Nya, khususnya dalam mengatur suatu negara. Islam memposisikan pemimpin sebagai pelayan atau pengurus bagi rakyatnya. Berdasarkan hadis Nabi Muhammad Rasulallah Saw :
“Pemimpin (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang ia urus.” (HR Al-Bukhari).
Dalam sistem Islam, negara menjamin kesejahteraan masyarakat secara adil dengan memenuhi kebutuhan pokok rakyat, seperti negara wajib memberikan pelayanan secara langsung berupa jasa kesehatan, pendidikan dan keamanan. Negara juga memberikan fasilitas dengan membangun rumah sakit yang lengkap, pendidikan yang baik serta keamana. Semua ini diberikan secara gratis, tanpa pungutan biaya sepersen pun.
Selain itu, negara Islam wajib memenuhi kebutuhan lain seperti memberikan lapangan pekerjaan yang layak bagi semua penanggung nafkah keluarga yaitu laki-laki. Negara Islam juga memberikan kemudahan untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan.
Jika tidak mampu, maka akan dinafkahi oleh ahli waris, apabila tidak ada, maka menjadi tanggu jawab negara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya melalui baitul mal.
Jika semua kebutuhan tersebut sudah terpenuhi, maka gizi anak dan keluarga tentu bisa tercukupi. Dengan pendidikan yang mudah dan ekonomi tercukupi, tentu para keluarga akan memahami cara memenuhi kebutuhan gizi dan nutrisi anak agar bertumbuh dengan baik.
Penyebab tidak terpenuhinya gizi keluarga dan anak karena ekonomi masyarakat yang rendah (miskin. Inilah buah dari penerapan sistem ekonomi kapitalisme. Sistem kapitalisme telah gagal menjamin kesejahteraan masyarakat. Sistem kapitalisme telah menyerahkan pengelolaan distribusi kebutuhan rakyat pada swasta. Sehingga pelayanan yang diberikan berdasarkan harga yang dibayarkan. Sementara negara hanya bertindak sebagai regulator yang memuluskan bisnis para cukong.
Jika ingin sejahtera, maka sistem kapitalisme harus segerah diganti dengan sistem Islam yang lengkap dan pembawah rahmat bagi seluruh alam. Dan kesejahteraan-kesejahteraan di atas hanya bisa terwujud dengan menerapkan sistem Islam secara kaffah.
Wallahualam bissawab.






