Wajah dan Badan Penuh Luka, TKW Sumbawa di Libya Kirim Video Minta Tolong

oleh -1838 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (10 Agustus 2025) – Sejumlah TKW asal Sumbawa yang ‘dijual’ ke Libya, mengalami penyiksaan yang luar biasa. Hampir setiap hari mengalami penganiayaan dari majikan yang ‘membelinya’ dari para mafia tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang terorganisir dan memilki jaringan dari Sumbawa, Jawa, Turki hingga negara penempatan. Kekerasan fisik dan psikis itu diterima para pekerja migran asal Buer dan Alas ini tanpa alasan yang jelas.

Atika Lestari, salah satu pekerja migran asal Labuhan Burung Kecamatan Buer yang kini terperangkap di Libya, mengirimkan video terkait kondisinya. Dalam video berdurasi 1 menit 29 detik, Atika mengaku kerap disiksa majikan.

Penyiksaan ini diterima tanpa jedah waktu. Bahkan saat membuat video tersebut, Atika baru saja dipukul majikannya. Terlihat wajahnya dan kelopak matanya memar, dan kepalanya bocor sehingga darah masih terlihat membasahi rambutnya.

Atika juga memperlihatkan sekujur tubuhnya dari atas sampai ujung rambut mengalami memar merah dan membiru. Atika mengaku sudah tidak tahan dan ingin segera pulang. Ia pun meminta pihak KBRI untuk membantunya.

Nasib yang dialami Atika juga dirasakan oleh empat rekannya yang lain. Yakni Fitrianti binti Jemah dan Amanda Putri–keduanya asal Desa Labuan Burung, Kecamatan Buer, serta Icha gadis yang masih di bawah umur asal Kecamatan Alas, dan Nurjannah asal Pringgabaya Lombok Timur. Mereka diberangkatkan oleh orang yang sama dan berada di negara tujuan yang sama.

Sebagaimana pemberitaan sebelumnya, kondisi yang dialami para TKW ini diungkap Ketua Perwakilan PDI Perjuangan di Kuwait, Anshary yang kemudian tengah mengupayakan untuk membebaskan korban.

Disampaikan Anshary, para korban diberangkatkan tanpa dokumen resmi dan mengalami eksploitasi selama bekerja di negara tujuan.

Seperti pengakuan Fitrianti yang mengaku pertama kali direkrut pada April 2025 oleh seorang pria di Alas Barat, Sumbawa. Ia kemudian menjalani pemeriksaan kesehatan di rumah salah satu perekrut seorang Haji sekaligus menjalani proses wawancara singkat.

Beberapa hari kemudian, Fitrianti diberangkatkan ke Jakarta melalui Sumbawa. Dalam perjalanan, ia sempat dibawa ke rumah seorang perempuan di Utan, yang merupakan bagian dari jaringan perekrut. Pada malam hari, ia dinaikkan ke bus Safari menuju Jakarta.

Setibanya di Jakarta, korban dijemput oleh seorang pria bernama Mas Aji dan dibawa ke Bogor, ke sebuah tempat penampungan yang berkedok salon kecantikan. Di sana, korban bersama beberapa calon pekerja migran lainnya menunggu proses pembuatan dokumen, termasuk paspor yang diurus di sebuah mall di Depok.

Tanggal 10 Mei 2025, dini hari, Fitrianti diberangkatkan ke bandara namun sempat disembunyikan terlebih dahulu di sebuah kost di Jakarta. Dari Jakarta, ia menjalani perjalanan udara melalui Singapura, Dubai, dan Istanbul (Turki).

Setiba di Turki, korban dijemput oleh seseorang yang hanya dikenal dengan panggilan “Baba”, dan ditempatkan di kamar sempit yang dihuni bersama enam orang lainnya. Tak lama berselang, Fitrianti dan seorang rekannya, Nurjanah asal Pringgabaya, diterbangkan ke Libya.

Setibanya di Libya, mereka sempat ditahan oleh polisi setempat sebelum akhirnya dijemput oleh seseorang dan diinapkan semalam di hotel. Keesokan harinya, keduanya diantar ke rumah majikan.

Tanggal 13 Mei 2025, Fitrianti resmi mulai bekerja di rumah majikan yang mengaku telah “membeli” mereka seharga USD 5.800 tanpa melalui jalur resmi. Hal ini menyebabkan korban diperlakukan dengan semena-mena, tidak diberi waktu istirahat yang cukup, serta makanan dan pakaian yang sangat minim.

Ketua DPC PDI Perjuangan, Abdul Rafiq SH, Minggu (10/8) malam ini mengaku prihatin dan berharap para TKW ini segera dipulangkan. Pihaknya telah mengadukan persoalan ini ke Disnakertrans Sumbawa maupun propinsi. Tak hanya itu, melalui jaringan kepartaian hingga di luar negeri, juga mengupayakan kepulangan korban.

Rafiq pun mengaku telah mengantongi identitas para tekong dan jaringannya, sekaligus mengidentifikasi keberadaan para korban di Libya.

“Kami menyatakan keprihatinan mendalam dan mengecam keras praktik perdagangan manusia yang masih terjadi, terlebih yang menjadi korban WNI asal Sumbawa yang diselundupkan di negara-negara konflik. Ini harus diusut tuntas dan pihak yang terlibat harus ditindak tegas,” cetusnya. (SR)

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *