SUMBAWA BESAR, samawarea.com (17 Juli 2025) – Desa Lawin, Kecamatan Ropang, Kabupaten Sumbawa, mencatat sejarah baru sebagai desa pertama yang mengembangkan program pembinaan kopi jenis Arabika berbasis sistem makro forestry. Program ini digagas melalui kerja sama antara pemerintah desa, pihak kecamatan, dan dukungan program CSR dari KPP Mining dan PT Sumbawa Jutaraya (SJR).
Kepala Desa Lawin, Ahdiyat Kartamiharja yang ditemui usai Upacara Adat Penyemaian 30.000 Benih Kopi Arabika, Kamis (17/7/25), menyampaikan rasa syukurnya atas terlaksananya program ini yang diharapkan bisa menjadi contoh bagi desa-desa lain di Kecamatan Ropang. Menurutnya, potensi iklim seluruh desa di kecamatan ini sangat mendukung budidaya kopi Arabika secara maksimal.
“Alhamdulillah, ini menjadi contoh pertama di Kecamatan Ropang dan secara umum di Kabupaten Sumbawa. Mudah-mudahan program ini, khususnya untuk kopi Arabika, bisa menjadi pintu bagi masyarakat menuju kesejahteraan yang sejalan dengan visi Sumbawa Unggul, Maju, dan Sejahtera,” cetusnya.
Program ini ungkap Kades inovatif ini, difokuskan pada pembinaan teknis dan pengelolaan kopi, mulai dari penyemaian, perawatan di kebun, hingga proses pascapanen dan pengolahan kopi menjadi produk siap saji. Sebanyak 30 ribu bibit kopi telah disiapkan sebagai langkah awal untuk mendukung keberlanjutan program.
Lebih lanjut, Kades Lawin berharap antusiasme terhadap program ini tak hanya berhenti di Desa Lawin, tapi dapat menyebar ke seluruh desa di Kecamatan Ropang. Ia juga mendorong agar pada tahun 2026 mendatang, program CSR seperti ini dapat terus dilanjutkan, bahkan melibatkan lebih banyak perusahaan swasta untuk menjadikan Ropang sebagai sentra kopi unggulan di Kabupaten Sumbawa.
“Harapan saya, di tahun 2026 program CSR ini bisa diperluas. Potensi kopi Arabika yang ada bisa menjadi komoditas unggulan bukan hanya di tingkat kabupaten, tapi bisa bersaing secara nasional hingga internasional,” tambahnya.
Sebelum adanya program pembinaan ini, sebagian besar petani di Desa Lawin hanya menanam kopi jenis Robusta dengan teknik budidaya yang masih konvensional. Tanaman kopi tumbuh liar atau sekadar ditanam tanpa perawatan intensif. Melalui pelatihan dari para teknisi yang turun langsung ke lapangan, para petani kini mulai menerapkan metode perawatan yang lebih modern dan berkelanjutan.
“Dulu kami belum pernah mendapatkan pembinaan menyeluruh. Sekarang, dengan program dari KPP Mining, kami belajar dari awal tentang perawatan tanaman hingga pengolahan biji kopi. Ini luar biasa,” ujar Gabung Ahdiyat dengan penuh semangat.
Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak baik dari pemerintah kecamatan, perangkat desa, hingga CSR perusahaan (KPP Mining). Kades Lawin optimistis produksi kopi Arabika dari Desa Lawin akan meningkat hingga 50% pada tahun 2026 mendatang.
Camat Ropang Dukung Program yang Digagas KPP Mining di Lawin
Sementara Camat Ropang, Ditha Frisqi S.IP menyambut positif langkah ini. Ia menyebut program tersebut sebagai tonggak baru dalam transformasi pertanian kopi di wilayahnya.
“Selama ini masyarakat masih menanam kopi secara tradisional. Sekarang mereka diperkenalkan teknologi dan sistem baru. Harapannya kopi bisa lebih cepat tumbuh, cepat berbuah, dan yang paling penting bisa menumbuhkan kemandirian masyarakat,” ujarnya.
Ia juga berharap agar program seperti ini konsisten dijalankan, tidak sekadar bersifat seremonial. “Program seperti ini harus terus dipantau dan didampingi. Kalau tidak berkelanjutan, potensi besar ini bisa mandek,” tambah Frisqi. (SR)






