KPP Mining dan SJR Dorong Pengembangan Agroforestri, Pakar Kopi: “Kita Punya Potensi Dunia di Desa Lawin”

oleh -1069 Dilihat
Pakar Kopi, Kang Megan bersama Camat Ropang, Ditha Frisqi S.IP dan Kepala Desa Lawin, Ahdiyat Kartamiharja

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (17 Juli 2025) – KPP Mining dan PT Sumbawa Jutaraya (SJR) menggandeng Kang Megan, pakar agroforestri kopi dari Klasik Bean Jawa Barat, untuk program besar pengembangan agroforestri kopi local Arabika di Desa Lawin, Kecamatan Ropang, Kabupaten Sumbawa.

Klasik Bean merupakan lembaga yang sudah berpengalaman dalam pengembangan agroforestri kopi. Kehadiran praktisi senior dalam sistem agroforestri berkelanjutan di sektor kopi ini, membawa semangat baru dalam program ini.

Kepada samawarea.com di Lokasi Ritual Adat Penyemaian 30.000 Benih Kopi Arabika, Desa Lawin, Kamis (17/7/25), Kang Megan mengungkapkan bahwa secara geografis dan demografis, Nusantara termasuk Sumbawa, sangat potensial menjadi produsen kopi kelas dunia.

“Desa Lawin punya sejarah dan potensi kopi, bahkan masyarakat kampung tua di Berco ternyata menyimpan varietas arabika yang sudah ada sejak lama. Sekarang kami membawa varietas unggulan dunia seperti Yellow Bourbon, Orange Bourbon, Typica, dan Red Bourbon. Ini memang baru di sini, tapi di dunia sudah dikenal sebagai kopi premium,” ujar Kang Megan.

Dalam program ini, Kang Megan menekankan pentingnya pola penyemaian dan penanaman yang tepat, termasuk transisi menuju sistem organik.

“Dunia sudah sepakat, kopi harus organik. Eropa bahkan menolak impor kopi yang terkontaminasi bahan kimia sedikit pun. Jadi ini momentum, dari awal kita arahkan ke budidaya organik. Tanah harus hidup, baru manusia bisa hidup darinya,” jelasnya.

Kang Megan juga menyampaikan filosofi pentingnya ritual adat dalam penanaman. “Menanam kopi itu bukan sekadar teknik, tapi ada jiwa. Upacara adat itu bagian dari memijat bumi. Tanpa adat, hidup itu kosong,” katanya dengan tegas.

Dalam program pengembangan Kopi Arabika Desa Lawin ini, Kang Megan merencanakan penanaman empat varietas kopi unggulan, yaitu Yellow Bourbon, Orange Bourbon, Bourbon, dan Typica. Menurutnya, varietas ini berasal dari satu genetik dasar dan berpotensi menjadi kopi unggulan pertama dari Sumbawa.

“Ini mungkin varietas baru di Sumbawa, tapi bukan baru di dunia. Harapannya ini bisa jadi awal semangat baru untuk masyarakat lokal,” kata Kang Megan.

Ia menekankan pentingnya penerapan sistem pertanian organik berkelanjutan, sebagai respons terhadap tren global yang semakin menolak produk berbahan kimia.

“Pasca revolusi hijau, tanah kita jenuh oleh kimia. Untuk keberlanjutan, kita harus kembali ke organik. Dunia, terutama Eropa, sudah mulai menolak kopi dengan residu kimia sekecil apapun. Kalau ada 0,006% saja kandungan kimia, tidak bisa ekspor,” tegasnya.

Mengenai proses budidaya, Kang Megan menjelaskan bahwa waktu yang dibutuhkan sejak penyemaian hingga panen pertama mencapai sekitar 2 tahun 8 bulan. Sementara petani yang tidak menggunakan pola budidaya terstruktur bisa menunggu hingga 4–5 tahun.

“Kalau teratur, penyemaian 8 bulan, lalu 2 tahun dari tanam ke panen. Tapi kalau asal tanam, tanpa perlakuan nutrisi atau perakaran, bisa lebih lama dan hasilnya tidak maksimal,” ujarnya.

Soal nama produk kopi yang akan dihasilkan dari Lawin, Kang Megan belum menetapkannya secara pasti. “Tanam dulu saja. Nanti ketika berbuah, mudah-mudahan leluhur memberi ilham nama yang baik. Tapi saya percaya, dari ‘Lawin’ ada makna. Ada persatuan, dan di situ ada kemenangan,” imbuhnya.

Dengan potensi geografis yang unggul, kekuatan budaya lokal, serta pendekatan pertanian organik, lanjutnya, pengembangan kopi arabika di Desa Lawin Sumbawa ini diharapkan dapat menjadi salah satu pionir kopi ekspor yang memenuhi standar global. (SR)

hpn2026 nusantara pilkada NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *