KPP Mining Gelar Upacara Adat Penyemaian 30.000 Benih Kopi Arabika di Desa Lawin

oleh -1642 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (17 Juli 2025) — Komitmen terhadap pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal terus diwujudkan KPP Mining dan PT. Sumbawa Jutaraya (SJR) melalui program CSR Agroforestri Kopi Area Sumbawa.

Salah satu wujud nyatanya adalah kegiatan penyemaian 30.000 benih kopi arabika yang disertai dengan upacara adat di Desa Lawin, Kecamatan Ropang, Kamis, 17 Juli 2025. Hadir dalam kegiatan ini jajaran KPP Mining, Camat Ropang, Kades Lawin, Pakar Kopi dari Jawa Barat, Kelompok Tani Kopi, dan Ketua Adat Suku Berco.

Upacara adat ini merupakan simbol penghormatan terhadap kearifan lokal sekaligus doa bersama agar program berjalan lancar dan membawa keberkahan bagi masyarakat. Dalam prosesi tersebut, KPP Mining turut menyumbangkan seekor kambing sebagai bentuk syukur dan persembahan dalam tradisi adat setempat. Acara ini dihadiri oleh perangkat desa, ketua adat Suku Berco di wilayah tersebut, serta masyarakat setempat.

Muhammad Akasah Hafizh, Program Koordinator CSR KPP Mining Agroforestri Kopi Area Sumbawa, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program besar pengembangan agroforestri kopi yang bertujuan meningkatkan kualitas dan produktivitas pertanian kopi lokal.

“Hari ini kita melakukan pembenihan Kopi Arabika. Bibit yang digunakan merupakan varietas unggulan warisan lama seperti Yellow Bourbon, Typica, dan Yellow Caturra—varietas global yang terkenal dengan rasa khas dan kualitas tinggi. Kami memilih bibit-bibit ini karena belum banyak mengalami penyilangan, sehingga cita rasanya lebih autentik,” jelas Akasah.

Desa Lawin dipilih sebagai lokasi penyemaian sebutnya, berdasarkan sejumlah pertimbangan, termasuk ketersediaan lahan yang luas, sumber daya manusia yang mendukung, dan kelimpahan air bersih. Semua menjadi faktor penting untuk keberhasilan budidaya kopi secara berkelanjutan. Program ini tidak berhenti pada tahap penyemaian saja.

Menurut Akasah, inisiatif ini mencakup seluruh rantai nilai kopi, mulai dari pembenihan, budidaya dengan pendekatan agroforestri, pasca panen, hingga fasilitasi akses pasar. Tujuannya adalah mendorong peningkatan kuantitas, kualitas, dan produktivitas kopi lokal secara keseluruhan.

Dalam pelaksanaan teknis di lapangan, KPP Mining juga menggandeng tim ahli dari Klasik Bean, Jawa Barat—lembaga yang sudah berpengalaman dalam pengembangan agroforestri kopi. Salah satu pakar yang terlibat, Kang Megan, dikenal luas sebagai praktisi senior dalam sistem agroforestri berkelanjutan di sektor kopi.

Program ini diharapkan mampu membawa manfaat ekonomi dan ekologis bagi masyarakat Ropang, sekaligus memperkenalkan kopi arabika Sumbawa ke pasar nasional maupun internasional.

Suhada, Penghulu Adat Suku Berco, menjelaskan bahwa ritual adat dimulai dengan proses “tepi”, yaitu praktik spiritual tradisional untuk menentukan siapa yang layak memulai penyemaian.

“Tepi itu kita lakukan untuk mencari tahu siapa yang ditunjuk secara spiritual untuk memulai kegiatan ini. Tadi sudah dilakukan dan hasilnya dua orang perempuan yang ditunjuk untuk memulai pembibitan, dan saya sendiri juga ikut terlibat setelah itu,” jelas Suhada, yang juga merupakan guru di SDN Lawin dan anggota Kelompok Petani Kopi Berco.

Ia menjelaskan bahwa ritual ini bukan sekadar tradisi, tapi juga bentuk kearifan dalam menyatukan benih dengan tanah. “Penyemaian itu kami anggap sebagai perkawinan antara benih dan tanah. Karena kami percaya, bibit itu berasal dari ciptaan yang sama seperti kita, dari Nabi Adam. Maka untuk bisa tumbuh, dia harus disatukan dulu dengan tanah,” katanya.

Suhada juga menyebut bahwa prosesi ini selalu diiringi dengan elemen-elemen simbolis, termasuk keberadaan api di bawah tempat ritual, yang dipercaya menjadi penanda kekuatan spiritual dan kehadiran tanda-tanda alam.

“Kalau tidak melalui ‘tepi’, kita tak akan tahu siapa yang berhak menyemai. Bisa saja salah orang, dan bibitnya tidak tumbuh. Bahkan tepi’ bisa ‘terbang’. Karena itu, proses ini kami pegang erat,” ungkapnya.

Secara simbolik, lanjutnya, Kepala Desa Lawin ditunjuk untuk memulai prosesi penyemaian, sebagai representasi pemimpin wilayah sekaligus pengikat antara masyarakat dan alam.

Menurut Suhada, upacara adat ini tidak hanya dilakukan untuk penyemaian kopi, namun juga berlaku bagi tanaman lainnya seperti padi dan jagung. Prinsipnya tetap sama. tanah harus dihormati, karena semua kehidupan tumbuh darinya.

“Apa pun yang ditanam di tanah, kami awali dengan ritual seperti ini. Ini bukan soal tradisi semata, tapi soal penghormatan kepada bumi dan pencipta,” tuturnya.

Keterlibatan adat dalam kegiatan penyemaian kopi ini bukan hanya bentuk pelestarian budaya, tapi juga menjadi fondasi nilai yang mendasari keberlanjutan program agroforestri yang tengah dikembangkan oleh KPP Mining di kawasan ini. Dengan perpaduan antara pendekatan ilmiah, strategi pertanian modern, dan penghormatan terhadap adat lokal, masyarakat Desa Lawin kini bersiap menapaki babak baru dalam sejarah kopi Sumbawa. (SR)

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *