Elektabilitas Bakal Calon Bupati Sumbawa Lambat dan Rendah

oleh -1093 Dilihat
Ardiyansyah S.IP., M.Si, Dosen Ilmu Politik Universitas Samawa (UNSA)

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (11 Juni 2024) – Tinggal dua bulan lagi, pendaftaran Pilkada di KPU Sumbawa. Saling salip elektabilitas bakal calon bupati mulai terasa, walaupun masing-masing bakal calon sudah mulai gencar melakukan sosialisasi.

Namun sampai saat ini, elektabilitas bakal calon Bupati Sumbawa, belum ada yang menyentuh angka di atas 40 persen, rata-rata angka elektabilitas dari temuan survey LANSKAP masih di bawah kisaran 17 persen. Apa yang menyebabkan lambatnya pertumbuhan elektabilitas para bakal calon, samawarea.com menemui Ardiyansyah S.IP., M.Si, Dosen Ilmu Politik Universitas Samawa (UNSA), Selasa (11/6) tadi.

Ardiyansyah yang juga peneliti utama LANSKAP, mengakui elektabilitas para bakal calon bupati masih rendah, dan fluktuatif. Disebutkannya, ada beberapa faktor yang menentukan dinamika naik turunnya elektabilitas calon bupati dalam kompetisi 2024 ini.

Pada Pilkada Sumbawa saat ini, ada incumbent yang akan bertarung kembali yakni Drs. H. Mahmud Abdullah (Bupati) dan Hj. Dewi Noviany S.Pd., M.Pd (Wakil Bupati Sumbawa). Faktor approval rating atau tingkat kepuasan publik atas kinerja incumbent sebagai faktor pertama yang menentukan naik turunnya elektabilitas calon bupati. Faktor ini menjadi penting terkait kinerja pemerintahan.

“Tingkat kepuasan publik kepada incumbent sangat penting. Ketika kepuasan publik kepada pemerintahan Haji Mahmud Abdullah dan Dewi Noviany (Mo-Novi) itu tinggi, maka berbanding lurus dengan elektabilitas keduanya,” ungkap Ardiyansyah.

Baca Juga  Kecanduan Judi Online, Karyawan PT MISP Bobol Gudang Perusahaan

Sementara dengan calon penantang berbanding terbalik. Jika tingkat kepuasan publik turun, menurut Ardiyansyah, maka menguntungkan calon penantang, dalam hal ini Haji Sahril dan Haji Jarot berpotensi elektabilitasnya naik.

Artinya, turunnya tingkat kepuasan publik terhadap incumbent, menjadi kabar baik bagi para calon penantang untuk bisa menaikkan elektabilitasnya. Tapi kalau tingkat kepuasan publik kepada Pemerintahan Haji Mahmud Abdullah dan Dewi Noviany naik, bisa menekan pertumbuhan elektabilitas calon penantang (Haji Sahril dan Haji Jarot).

“Itu yang kami temukan dari beberapa kali kami melakukan survei. Sehingga approvol rating menjadi penting. Poin penting adalah kalau tingkat kepuasan publik kepada pemerintahan Haji Mahmud Abdulah dan Dewi Noviany (Mo-Novi) turun, kabar baik bagi Haji Sahril dan Haji Jarot, sebaliknya kalau ternyata tingkat kepuasan publik kepada pemerintahan Haji Mahmud Abdullah dan Dewi Noviany naik, menjadi kabar buruk bagi para calon penantang,” jelasnya.

Kondisi saat ini kata Ardiyansyah, masih dinamis dan saling menekan elektabilitas antar sesama calon. Temuan penting lain dari survei LANSKAP, menunjukkan bahwa kenaikan dan pertumbuhan elektabilitas para kandidat bakal calon bupati Sumbawa relatif lambat dan kurang berkembang.

Baca Juga  Residivis Narkoba Kembali Tertangkap, Kali ini Bersama Anak Buahnya

Alasannya, lebih kepada faktor ekonomi dan daya beli masyarakat. Ini adalah faktor signifikan naik turunnya elektabilitas. Kemudian faktor hukum yang dialami dan bersentuhan langsung dengan kandidat, ada turbulensi politik yang kuat, ada gempa politik bahkan tsunami politik yang dialami oleh kandidat.

“Saat ini sedang gencar berbagai isu yang berhubungan langsung dengan kandidat, tapi masih di level elit, belum begitu kuat masuk di relung-relung hati masyarakat bawah. Akhirnya, pertarungan Pilkada adalah pertarungan figur dan daya tarik personal para kandidat calon,” imbuhnya.

Apalagi Pilkada Sumbawa berdasarkan angka statistik dan popularitas serta elektabilitas dari masing-masing bakal calon, belum ditemukan calon yang terlalu kuat dibandingkan dengan calon lain. Dari segi elektabilitas relatif sama dan semuanya fair. Karena itu, kombinasi pasangan calon, termasuk penentuan Cawabup menjadi penting, bukan sekedar tiket, tapi yang bisa melengkapinya untuk memenangkan pertarungan.

“Hitung-hitungannya harus lebih detail, dikalkulasi betul. Saran saya harus tenang dalam menentukan Cawabup, dibutuhkan yang memiliki topongan elektabilitas, yang kontributif secara elektoral dan cukup komplementer melengkapi pasangan Cabupnya. Kata kunci adalah bukan calon yang diinginkan tapi figur yang dibutuhkan untuk menang Pilkada Sumbawa tahun 2024,” pungkasnya. (SR)

rokok zul pilkada NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *