SUMBAWA BESAR, samawarea.com (28 Februari 2024) – Banyak figur yang bermunculan menjelang digelarnya Pilkada Sumbawa 2024. Namun para pengamat menyebutkan, hanya empat figure yang menjadi magnet dalam suksesi tersebut. Yaitu Drs. H. Mahmud Abdullah, Dewi Noviany S.Pd., M.Pd, Ir. H. Syarafuddin Jarot MP, dan Abdul Rafiq SH.
Dosen Fisipol Universitas Samawa (UNSA), Ardiyansyah S.IP., M.Si kepada media ini, Rabu (28/2) mengakui hal itu. Meski keempat figur tersebut menjadi magnet, ungkapnya, tapi belum ada yang begitu dominan atau memiliki tingkat elektabilitas di atas 60 persen sebagai calon bupati. Hal ini menjadi menarik, jika melihat dinamika politik lokal kedepan, sebab loby dan komunikasi politik akan terus terjadi. Demikian dengan simulasi pasangan calon, dari calon A ke B, B ke C dan seterusnya.
Untuk mengunci kemenangan di Pilkada, Ardiyansyah yang juga peneliti utama lembaga survey LANSKAP ini, menyebutkan beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati. Antara lain dibutuhkan figur pasangan calon yang memiliki elektabilitas tinggi di masyarakat.
Kemudian Cawabup harus memiliki kontribusi besar secara electoral dan harus bisa menutup lobang pasangannya jika ingin memenangkan Pilkada 2024. Selain itu memiliki akseptabilitas kokoh, tidak memiliki risistensi kuat di masyarakat dan memiliki logistik politik yang mumpuni.
Logistik politik ini dinilai Ardiyansyah, sangat penting. Berdasarkan riset, sekitar 33 persen pemilih terlibat politik uang. Angka 33 persen bisa menjadi faktor penentu kemenangan.
“Pengalaman Pilkada tahun 2020 yang lalu, angka kemenangan pasangan Mo-Novi tidak lebih dari 1 persen. Jadi, angka 33 persen bisa menjadi penentu pemenang Pilkada 2024 mendatang,” imbuhnya.
Salah satu faktor determinan kemenangan seorang calon, sambung Ardiyansyah, 1 dari 3 pemilih terpapar politik uang. Rata-rata 33 persen pemilih kemungkinan bisa merubah pilihan politik mereka karena dipengaruhi oleh uang atau barang.
“Dari 33 persen itu, 10 persen pemilih pasti akan merubah pilihan mereka, angka tersebut lebih dari cukup bagi banyak calon untuk mencetak kemenangan dalam Pileg maupun Pilkada. Apalagi rata-rata margin atau selisih kemenangan kontestasi politik di kita, baik Pileg maupun Pilkada hanya 1,6 persen saja. Jadi, angka 10 persen bisa membuat perbedaan calon yang menang dan yang kalah,” pungkasnya. (SR)






