Lumpuh Sejak Balita, Pemuda ini Terbaring Lemah Menanti Uluran Tangan

oleh -1237 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (19 Januari 2024) – Kisah pilu dialami dialami Hairul Efendi. Pemuda berusia 25 tahun yang tinggal di Jalan Baru, Kampung Jawa, Kelurahan Uma Sima, Kabupaten Sumbawa ini hanya bisa terbaring lemah di lantai rumah tak layak huni ini. Kondisi tersebut akibat penyakit lumpuh yang dideritanya sejak usia balita.

Selain lumpuh anak ketiga pasangan Arsyad dan Murni ini mengalami gangguan verbal. Bicaranya cadel dan kurang jelas. Dia seringkali meminta kursi roda setiap orang datang menjenguknya. Dan tak jarang Hairul menangis karena menahan rasa sakit di perutnya.

Untuk kesembuhan Hairul, keduanya orangnya melakukan berbagai cara baik medis maupun non medis. Namun kondisinya tak kunjung membaik. Ayahnya yang keseharian sebagai marbot masjid dan ibunya pekerja serabutan tak mampu memberikan perawatan secara maksimal yang dibutuhkan Hairul karena terkendala biaya. “Untuk biaya sehari-hari saja kami kesulitan,” ujar Murni.

Ia tak bisa menyembunyikan kesedihannya melihat anak bungsunya terbaring lemah tapi tak bisa berbuat banyak untuk mengatasinya. Ia berharap agar Hairul mendapatkan bantuan penyembuhan sehingga dapat hidup secara normal. “Yang cukup besar biaya sehari hari untuk anak kami ini adalah mebeli pampers,” ungkapnya.

Disinggung mengenai bantuan dari pemerintah, Murni mengaku sempat menerimanya. Pernah dia mendapatkan bantuan dana sebesar Rp 1,2 juta dan 1 juta. Ada juga sembako. Bahkan pernah juga diberikan bantuan kursi roda, namun tidak bisa dimanfaatkan karena anaknya tidak bisa berlama-lama duduk.

Untuk berpindah ke satu tempat ke tempat lainnya, anaknya hanya bisa merayap. Karena khawatir terjadi sesuatu, badan Hairul terpaksa diikat dengan seutas tali. “Kalau bisa ada bantuan kursi roda yang buat anak kami ini bisa berbaring,” pintanya.

Murni berharap pemerintah dan para dermawan dapat memberikan perhatian khusus dalam menyediakan biaya perawatan dan pengobatan untuk Hairul.

Untuk diketahui, Hairul dan orang tuanya, tinggal di rumah dengan luas 4×4 meter. Ruang tamu, ruang tidur, dan WC menyatu. Khusus WC dengan ruang tamu hanya disekat menggunakan kain. Sedangkan dapur terpaksa diluar menggunakan lorong yang setiap harinya dilintasi warga. (SR)

nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *