SUMBAWA BESAR, samawarea.com (8 Desember 2023) – Dampak perubahan iklim semakin terasa di berbagai belahan dunia, termasuk Pulau Sumbawa, Indonesia. Perubahan iklim ini mengakibatkan peristiwa El Nino (yaitu fenomena pemanasan Suhu Muka Laut, SML, di atas kondisi normalnya) yang membawa bencana kekeringan berkepanjangan dan kebakaran hutan. Ini sudah terasa awal musim penghujan tahun 2023 ini.
Jika sebelumnya sering mendengar peristiwa global warming atau pemanasan global, saat ini statusnya sudah meningkat menjadi global boiling atau pendidihan global. Global boiling ini istilah untuk menggambarkan kenaikan suhu rata-rata pada atmosfer, lautan, dan daratan yang ekstrem sebagai dampak perubahan iklim.
Terhadap kondisi ini, Tim Dosen di Fakultas Ilmu dan Teknologi Hayati Universitas Teknologi Sumbawa (FITH UTS) menginisiasi program penghijauan. Kegiatan yang dikemas sebagai bagian dari pengabdian masyarakat ini bertema “Mewujudkan Desa Pernek sebagai Desa Konservasi untuk Mitigasi Perubahan Iklim Global Akibat Deforestasi Hutan Melalui Penanaman Bibit Pohon Ketapang”.
Kegiatan yang berpusat di Balai Desa Pernek, Kecamatan Moyo Hulu, Jumat, 8 Desember 2023 dan dihadiri 60 peserta terdiri dari mahasiswa FITH UTS dan masyarakat Desa Pernek ini, menghadirkan sejumlah narasumber berkompeten. Yakni Abdul Azis, S.Si., M.Si., Dosen Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) FITH UTS dengan mengangkat materi ”Mitigasi Perubahan Iklim”.
Dalam paparannya, Abdul Azis, S.Si., M.Si tidak hanya mengedukasi masyarakat terkait upaya mitigasi perubahan iklim, namun juga membagi informasi terkait manfaat serbaguna dari pohon ketapang. Di antaranya sebagai tanaman peneduh, daunnya dapat dijadikan sebagai pakan ternak, buahnya dapat dikonsumsi dan menjadi kacang almond-nya Indonesia dan Asia Tenggara.
Akhir kegiatan ini dilakukan pemberian bibit tanaman Ketapang dan bibit buah-buahan secara simbolis dari Dekan FITH UTS, Maya Fitriana, S.Si., Ph.D kepada Kades Pernek, Abdul Majid, A.Md.
“Sebagai bagian dari civitas akademika yang memiliki latar belakang ilmu hayati dan lingkungan, kami aware sekaligus prihatin terhadap bumi kita satu-satunya ini yang sudah berada pada tahap status global boiling,” kata Maya—sapaan Dekan FITH saat memberikan sambutan.
Ia berharap hal kecil yang diinisiasi tim dosen FITH ini dapat menjadi titik balik bagi semuanya, yang dimulai di Desa Pernek. Jebolan doctor di Jepang ini mengajak untuk mulai beraksi dan berpartisipasi dalam menyelamatkan bumi demi keberlanjutan kehidupan yang lebih baik bagi generasi di masa mendatang untuk waktu yang tidak terbatas. (SR)






